Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Maurice Laparlière
Map
Utrecht, Belanda
Utrecht, Belanda

Burung Puyuh untuk Setiap Warga Miskin Afrika

Diterbitkan : 16 Agustus 2011 - 9:42pm | Oleh Maurice Laparlière (Maurice Laparlière / RNW))
Diarsip dalam:

Burung puyuh: mereka gampang dikembangbiakkan, pemakan semua, cepat tumbuh dan menghasilkan daging serta telur yang sehat. Demikian pendeta Jan Peter Kruiger yang percaya bahwa burung puyuh bisa mengurangi kelaparan di Afrika. Karena itulah dia memulai aksi "Burung puyuh untuk Afrika."

Saat mengunjungi pastori di Oud-Zuilen, jelas terlihat bahwa Kruiger bukan semata-mata seorang pendeta biasa. Didepan tempat tinggalnya terdapat tumpukan makanan ternak. Di balik sudut juga ada kejutan lain yaitu rumah kaca dengan burung puyuh yang bebas berkeliaran.

Pendeta dari Opstandingskerk di Utrecht, sudah lama beternak binatang unggas ini. Dia melakukannya dengan senang hati dan juga boleh dikatakan dengan sukses. Karena penjualan telur dan daging ternaknya bisa menghasilkan uang tambahan.

"Didalam gerejaku saya mengatakan bahwa kita harus hidup dalam harmoni dan bisa mengatur keuanganmu dengan baik" kata pendeta itu. Menjadi pelaku firman. Karena itu pendapatan yang saya terima dari penjualan telur puyuh, saya kirim ke Afrika."

Protein
Di belakang rumahnya, Kruiger memperlihatkan visinya. Di dalam tiga menara, bekas kandang kelinci, terlihat burung puyuh yang bebas berkeliaran.  "Orang-orang Afrika yang tergolong miskin biasanya kekurangan protein. Setiap kandang diisi dengan delapan burung puyuh, dan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga kelas menengah di Afrika, beserta anak-anaknya." kata Kruiger.

Diharapkan setiap keluarga Afrika suatu saat akan mempunyai kandang seperti itu, dimulai di Uganda dan Kenya.

Lebih baik daripada ayam
Menurut Jan Peter Kruiger, burung puyuh lebih menguntungkan katimbang ayam. 'Seekor burung puyuh memerlukan tempat yang lebih kecil dan telurnya lebih sehat dan kaya mineral', katanya. Di samping itu burung puyuh lebih cepat bertumbuh. Ayam membutuhkan waktu setengah tahun sedangkan burung puyuh hanya butuh delapan pekan untuk menjadi dewasa.

'Puyuh untuk Afrika' semakin memperlihatkan bentuknya. Urusan administrasi sebagian besar sudah selesai dan perlahan-lahan mulai dilakukan 'uji coba'. Bahkan awal tahun ini, pendeta tersebut membawa sejumlah telur yang sudah dibuahi ke Kenya. "Sayang mereka tidak bisa bertahan selama perjalanan delapan jam dengan bis karena jalan rusak" tuturnya. Dia berharap dalam waktu dekat akan mencobanya kembali.

Menurut Kruiger, kekuatan gagasan ini terletak pada kurangnya pengetahuan tentang beternak di rumah. Puyuh memang populer di benua Afrika, tapi sebagian besar hidup di alam bebas. "Saya menyaksikan nenek yang mengasuh cucu-cucunya, dan ini merupakan situasi yang sering terjadi. Dengan kelebihan daging dan telur yang ada, mungkin dia masih bisa mendapat penghasilan" tambahnya.

Tidak sederhana
Betapapun simpatiknya rencana itu kedengarannya, Kruiger mengakui ada beberapa kendala. Puyuh Jepang tidak bisa menetaskan telur apabila dikurung. Sedangkan mesin penetas membutuhkan banyak listrik dan pembangkit listrik tenaga matahari harganya bisa mencapai seribu euro atau lebih.

Di samping itu biaya produksi daging secara tradisional butuh banyak bahan mentah. Kruiger juga mempertimbangkan faktor ini dalam rencananya. "Bukan maksudnya bahwa kita mengambil makanan dari orang dan memberikannya kepada puyuh. Karena puyuh adalah binatang omnivora yang makan hampir semua, maka kita berupaya untuk sekreatif mungkin" jelasnya.

Misalnya saja membuat kandang puyuh di gundukan-gundukan rayap. Puyuh makan rayap, orang tidak. Atau ambil ulat-ulat yang hidup dalam binatang yang sudah mati. Tidak bisa dimakan oleh orang, tapi sehat untuk puyuh.

Mimpi Kruiger paling indah adalah apabila orang-orang miskin di Afrika nantinya memiliki kandang puyuh di samping gubuk mereka. Kruiger berpendapat: "Ini setara dengan kandang kelinci selama Perang Dunia Kedua dulu. Pada waktu itu Belanda dilanda kelaparan, kelinci sangat berjasa. Ia menjadikan hal-hal yang tidak berguna seperti rumput menjadi dagang yang lezat."

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET