Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Minggu 26 Mei  
Avatar Ellen van de Bovenkamp
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Buruh Kupas Udang Belanda Protes di Maroko

Diterbitkan : 25 Mei 2012 - 3:22pm | Oleh Ellen van de Bovenkamp (Foto: Ellen van de Bovenkamp)
Diarsip dalam:

"Kami solider satu sama lain, dan kami tidak takut," demikian seruan kemarahan buruh  pengupas udang Maroko dalam perlawanan menentang kondisi kerja yang buruk. Para pengupas udang mengeluh soal panjangnya jam kerja, rendahnya upah dan kecurangan dalam pengaturan kontrak kerja.

Sekelompok perempuan berkumpul di ruang serikat buruh setempat. Pakaian muslim dan jilbab dengan warna mencolok yang dikenakan mereka menimbulkan kontras dengan jas plastik putih dan topi putih yang dikenakan mereka ketika bertugas mengupas udang. 

Fatima sudah bekerja 20 tahun sebagai buruh pengupas udang: "Ketika tahun 2005 saya sakit  ternyata di tempat kerja saya tidak selalu ada premi kesehatan sosial. Saya selalu dihalangi jika saya menanyakan hal itu. Bagi perempuan yang sepanjang tahun bekerja hanya ada misalnya enam bulan premi kesehatan, sehingga majikan bisa saja tidak menawarkan kontrak tetap. Mereka berbuat semaunya.

Upah minimal
Bos Fatima, Jalil Mernissi mengatakan dalam praktek hanya ada dua kemungkinan, kontrak kerja sementara atau tetap. Bahkan tanpa kontrak juga sudah jelas. Mernissi menghitung hari kerja mereka dengan berapa kilo jumlah udang yang dikupas. 

Namun menurut jurubicara kementrian Tenaga Kerja, ada syarat-syarat tersentu. "Para buruh harus mendapatkan upah minimal (sekitar 2,4 juta rupiah per bulan). Jika mereka tidak mencapai upah minimum maka sang majikan harus menambahkannya. Sementara jumlah jam kerja per hari adalah sepuluh jam.

Jika ditanya bagaimana Mernissi menghitung gaji mereka, maka ia menjawab sulitnya mengatur adminstrasi kerja buruh pengupas udang tersebut. "Kadang datang perempuan dengan kartu identitas kakaknya atau bahkan tanpa kartu identitas. Bagaimana kami bisa tahu siapa yang datang dan siapa yang pergi? 

Perhitungan elektronik
Seementara bagi perusahaan Belanda Klaas Puul yang mendirikan pabrik di Tanger, duapuluh tahun lalu, hanya perempuan dengan kartu identitas resmi yang diterima kerja. Pemimpin perusahaan Abdelouafi Bouaissa: ‘Kami bekerja dengan sistem kartu elektronik yang mencantumkan jam berapa mereka datang dan jam berapa mereka pergi. Berapa kilo udang yang dikupas dan bahkan berapa uang yang masih ada dalam kartu mereka untuk makan di kantin. Sistem itu canggih.

Ia bisa memahami kalau ada buruh yang protes. "Pengupas udang kebanyakan perempuan  buta huruf. Makanya mereka merupakan kelompok yang rentan. Kami selalu mejelaskan kepada mereka untuk selalu datang bekerja setiap hari jika mereka ingin mendapatkan hak jaminan sosial. Mungkin tidak semua perusahaan melakukan itu."

Penyalahgunaan
Namun pada prakteknya lebih parah lagi, kata Boubker Khamlichi, yang membimbing para pengupas udang atas nama persatuan buruh UMT.  "Perusahaan menggunakan kondisi rentan perempuan-perempuan itu. Kami harus mengubah nasib mereka. 

Banyak di antara pengupas udang itu adalah pencari nafkah utama bagi keluarganya, misalnya karena mereka cerai atau suami mereka menganggur. Upah mereka pas-pas an. Fatima digaji 96 ribu rupisah untuk tigabelas jam mengupas udang. Gajinya hanya tersisa untuk bayar sewa rumah dan belanja sehari-hari setelah dipotong premi sosial. 
 

Banyak pengusaha udang Belanda mengirim produk mereka ke Maroko untuk dikupas disana. Para buruh yang mengerjakan adalah para perempuan di Tanger atau Tetouan. Setelah dikupas, udang-udang itu kembali masuk Belanda.

Protes besar-besaran berlangsung di perusahaan Jalil Mernissi, yang bertugas mengupas udang dari perusahaan-perusahaan Belanda. Para buruh di perusahaannya tidak puas dengan upah dan kondisi kerja. Tidak itu saja perusahaan Belanda seperti Klass Puul dan Heiploeg yang juga punya cabang di Tanger dan Tetouan tidak luput pula dari ketidapuasan buruhnya kata serikat buruh UMT.

 

 

Diskusi

euro 25 Mei 2012 - 11:35pm

kapitalis memang tujuannya untung se besar2nya dng risiko se minim2nya.
Perusahaan2 Eropa masih bisa melakukan "perbudakaan" di luar Eropa.
hire and fire. Minimal labour cost.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...