Kota-kota Eropa merupakan latar belakang bagi paling sedikit dua cerpen karya penulis Indonesia Leila Chudori. Apa peran unsur-unsur Eropa dalam dua cerpen Leila itu?
Bagian tertentu cerpen "Mencari Seikat Seruni" (dalam kumpulan cerpen berjudul 9 dari Nadira) berlatar belakang Amsterdam. Sementara cerpen "Paris, Juni 1988" (dari kumpulan cerpen berjudul Malam Terakhir) berlatar belakang Paris.
Mengapa Amsterdam dan Paris masuk dalam karya sastra Indonesia? Apakah memang peran penting yang tidak bisa dihindari? Lalu bagaimana Leila Chudori mereka-reka Amsterdam dan Paris? Diselingi petikan dari kedua cerpen tadi, berikut bincang-bincang bagian pertama dengan penulis Leila Chudori.
Cuplikan "Mencari Seikat Seruni"
|
"Amsterdam kota yang kontradiktif. Amsterdam selalu rapi dan rajin membasuh diri, sedangkan penduduknya malas mandi. Bram Suwandi di antara mereka -seperti juga para penduduk Indonesia di sini- terlihat paling bersih, rapi, dan rajin bertemu dengan air. Amsterdam juga serba kontradiktif, karena semasa kuliah, aku bisa mendapatkan dua tetangga yang posisi apartemennya sekaligus menunjukkan titik spektrum yang berlawanan. Johanna adalah seorang penganut Protestan yang ketat, yang rajin ke gereja dan rak bukunya penuh dengan buku-buku renungan ilahiah; sementara Bea adalah gadis Belanda yang pada hari pertamaku di Amsterdam mengajak si gadis Indonesia yang semula dianggapnya pemalu ini, menyusuri rumah-rumah lampu merah, hanya agar aku kelojotan. Dia begitu kepingin tertawa hingga terbungkuk-bungkuk melihat seorang gadis Asia yang menjerit melihat suasana Rosse Buurt, Red Light District." |
Menangkap jiwa
Radio Nederland [RNW]: Leila Chudori, Oktober lalu terbit buku Anda 9 dari Nadira, sementara itu, kumpulan cerpen Anda Malam Terakhir juga terbit ulang, dengan penerbit yang lain dari sebelumnya. Di dua buku itu ada unsur-unsur Eropanya. Pada 9 dari Nadira ada adegan di Amsterdam. Kemudian di Malam Terakhir ada adegan di Paris. Pertanyaan saya pertama-tama, mengapa harus ada adegan di Eropa itu?
Leila S. Chudori [LSC]: Itu karena kebutuhan cerita itu. Artinya bukan tempelan. Misalnya kalau yang di Nadira itu memang cerita tentang tiga generasi dan generasi pertama yaitu orang tua Nadira itu memang dididik di Belanda. Di Indonesianya pun mereka sekolah yang masih menggunakan bahasa Belanda, karena pada zaman itu Indonesia masih diduduki oleh Belanda. Kemudian mereka menempuh pendidikan tingginya di Belanda. Ya, itu suatu hal yang alamiah. Mereka adalah orang-orang pernah mengenyam masa-masa di Amsterdam. Itu untuk Nadira.
Wawancara ini juga bisa didengar (diunduh) dengan mengklik ujung tanda panah berikut:
Kalau yang Anda sebut tadi Paris ya, itu adalah cerpen saya yang sudah sangat lama, tahun 1989. "Paris, Juni 1988" itu memang satu cerita yang merupakan sebuah kisah tentang seseorang yang menyentuh Paris. Tetapi yang saya rasakan adalah, beberapa kali mengunjungi Paris, ada satu jiwanya yang bisa saya tangkap.
Seperti halnya kalau kita mengunjungi beberapa kota, contohnya New York. Saya pernah tinggal di sana hanya tiga bulan, tapi saya menangkap beberapa ciri khasnya. Ini kisah-kisah tentang tempat-tempat yang saya kunjunginya tidak lama, dibandingkan seperti misalnya Kanada ya, yang saya kenal betul selama enam tahun, ini saya merasakan bahwa saya sudah tahu jiwanya. Itu menjadi bagian ceritanya karena memang sebuah kebutuhan.
Cuplikan "Paris, Juni 1988"
| "Paris, suatu siang yang menggigit. ....Sudah empat jam lamanya gadis itu membungkuk sana sini, berperang melawan debu dan sarang laba-laba, membersihkan grafiti di dinding yang isinya penuh dengan sumpah-serapah dalam bahasa Prancis. Matahari belum terbenam, meski jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Musim panas di Eropa memang melelahkan untuk gadis Asia ini. Dia merasa lebih tenteram pada saat Paris memasuki jam sembilan malam, karena matahari perlahan membenamkan diri. Selebihnya, kehidupan di Paris adalah gaerak yang riuh-rendah tanpa jeda. Seperti suasana jalan panjang Champs Elysées, gadis itu merasakan bagian Paris yang ribut, arogan, dan tak ramah. Semua sibuk dengan keramaian hati sendiri. Semua orang tak saling mengenal dan tak ingin mengenal orang lain. Gadis itu tak pernah mengerti daya tarik apa yang membuat semua orang selalu menyebut Paris sebagai kota paling romantis di dunia, dan berambisi hanya ignin menancapkan diri di muka Menara Eiffel." "Sambil meletakkan sapu di ujung kamar, gadis itu menebarkan pandangan ke seluruh lantai. Kenapa lantai ini tetap berwarna kelabu, pikirnya heran dan lelah. Apa segalanya di Paris, di balik kegairahan dan kemewahan di tengah kota, selalu suram?" |
Dekat PSI
RNW: Maksudnya jadi itu merupakan bagian yang penting dalam cerita Anda ya?
LSC: Ya. Kalau misalnya dalam hal ini Nadira ya. Memang hanya satu cerita yang membawa pembacanya ke Amsterdam di tahun 1950an, karena di sanalah ayah dan ibu Nadira bertemu. Mereka berpacaran, kemudian mereka menikah dan berumah tangga, punya anak. Itu satu latar belakang yang sangat penting untuk menjelaskan Nadira ini datang dari keluarga seperti apa.
Ibunya itu datang dari keluarga yang kaya raya, dekat dengan PSI, sedangkan ayahnya keluarga religius dan memilih untuk bergabung dengan Masyumi. Sementara keluarga dia sendiri adalah keluarga yang dekat dengan NU. Hal-hal seperti itu, pergulatan partai politik yang hangat, yang lebih identik dengan pergulatan intelektual, terjadi di tahun itu, 1940an, 1950an, dibandingkan dengan sekarang. Partai politik sekarang kan lebih mementingkan posisi, lebih mementingkan kursi, lebih mementingkan jatah. Tapi di zaman generasi ayah saya, partai politik lebih dekat dengan pergulatan pemikiran. Nah, latar belakang itulah yang ingin saya berikan kepada pembaca tentang keluarga Nadira.
Dan itu sangat penting, karena nanti saya akan memberi lanjutan yang judulnya Catatan Kemala Suwandi, itupun akan lebih kental lagi. Bahwa ayah dan ibu Nadira ini adalah dua keluarga yang sangat berbeda, tetapi sebenarnya satu hal yang menyamakan pasangan ini adalah, mereka orang yang tertarik dengan intelektualisme. Itu bukan satu tempelan. Itu adalah keseharian mereka. Inilah yang ingin saya sampaikan kepada pembaca. Karena dengan latar belakang seperti itu orang jelas keluarga Nadira ini seperti apa.
Cuplikan "Mencari Seikat Seruni"
| "Hanya dalam waktu setengah jam, tiba-tiba saja aku sudah berada di De Groene Bar yang penuh sesak; bukan saja oleh mahasiswa Vrije dan Gemeentelijke Universiteiten, tetapi lengkap dengan aroma tubuh mereka yang malas mandi bercampur dengan asap rokok dan alkohol. Bea memang sialan. Aku tak berminat mengunjungi baru ini, karena 90 persen pengunjungnya adalah mahasiswa VU dan GU yang merasa diri seniman, intelektual dan bertingkah sok bohemian. Mereka yang baru saja kembali dari Sorbonne, Paris, hanya untuk program pertukaran satu semester dan sempat melihat Jean Paul Sartre sekilas dari jauh atau tak sengaja bertemu dengan pahlawanku, Simone de Beauvoir. Biasanya mereka hanya berani menatap pasangan dahsyat itu; lantas di Amsterdam para snob yang dungu itu akan berkoar-koar merasa sudah berada di dalam lingkaran intelektual Eropa." "Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Prof. Ernst van Dijk, seorang penulis Belanda terkemuka yang dikagumi para mahasiswa (atau mahasiswi tepatnya; karena aku tak pernah melihat dia berjalan dari satu kelas ke kelas lain tanpa entourage). Ada tiga mahasiswi yang duduk mengelilinginya, dan dua mahasiswa yang memesan anggur merah. Salah satu mahasiswi, yang blonda tentu saja, menggelantungkan lengannya ke atas bahu sang profesor." "Tiba-tiba mata profesor Van Dijk menangkap pandanganku. Dia tersenyum dan melambaikan tangan agar aku menghampiri mejanya. Aku pura-pura tak paham dan menyibukkan diri dengan Bea." "Bea, aku tak tahan gerombolan pretensius ini...," aku menarik lengan Bea. Tetapi tangan Bea menunjuk pada seorang barman yang sedang meladeni seorang mahasiswa berambut panjang blonda yang mengenakan sepasang anting yang besar, bulat dan panjang. Barman itu memberikan satu gelas jonge pada si blonda. Dari kejauhan, dan dari cahaya bar yang minim, aku bisa melihat sebuah wajah Asia (atau jazirah Arab atau Afrika Utara?) yang tampak terlalu serius dan santun di tengah reriuhan mahasiswa gondrong, kumel dan bau badan ini." "Tiba-tiba saja, tanpa sadar aku sudah meluncur mendekati bar. Pasti tulang hidungnya (yang mancung itu) terbuat dari magnet dan seluruh tubuhku terbuat dari besi murah-meriah yang bersedia menyeret-nyeret diri untuk berpelukan dengan magnet ini. Dan sang magnet itu menatapku hanya dengan satu lirikan yang tajam." |
RNW: Saya tahu Anda menetapnya di Jakarta. Kalau ke Amsterdam atau ke Paris itu mungkin cuma dalam perjalanan saja, jadi bagaimana Anda berkisah tetang dua ibukota itu?
LSC: Kalau Belanda beberapa kali saya mencoba mampir. Yang paling lama ketika saya selesai kuliah, itu lama, tiga bulan. Tapi tidak hanya di Amsterdam. Tentu saja saya keliling pakai Euro Rail. Tapi Amterdam selalu menjadi basis saya. Taruh barang di situ, terus saya keliling Eropa, karena saya ada banyak kenalan di sana.
Cekaman Paris
Nah, sentuhan saya dengan Belanda sebetulnya jauh sebelum saya datang ke Amsterdam itu adalah karena orang tua saya. Tentu saja bukan karena mereka bicara bahasa Belanda, tapi juga karena mereka adalah orang-orang yang merasa dekat dengan Belanda.
Jadi gini. Sebetulnya itu kan angkatan yang akan mengatakan, kalau orang tua saya itu ya, negara kedua mereka, ya negara pertama tentu Indonesia, tapi negara kedua adalah Australia, karena kita pernah tinggal di Australia. Dan juga Belanda. Tapi kan Belanda terlalu jauh. Dan semakin lama hubungan masyarakat Indonesia dengan Belanda semakin tidak banyak. Karena secara global kita lebih dekat sama negara-negara berbahasa Inggris. Jadinya, saya rasa generasi orang tua saya sebetulnya semakin rindu dengan apa-apa yang Belanda, dengan makanannya, atau dengan bahasanya. Atau dengan hal-hal yang dekat dengan kultur yang mereka kenal.
Jadi saya mengenal Belanda itu awalnya dari orang tua saya, tentu saja. Kebetulan lagi, ketika kakak saya kuliah, di UI, dia juga mengambil sastra Belanda. Jadi, semakin kentallah. Karena dia belajar sastra Belanda kemudian orang tua saya juga bahasa Belanda, jadi itu menjadi satu wacanalah di rumah saya. Bahkan orang tua saya membicarkan beberapa penulis Belanda.
Tapi saat itu saya sudah banyak bergaul dengan penulis barat yang lain, yang lebih umum daripada Belanda, daripada Eropa. Nah, barulah kemudian sentuhan saya yang langsung ya itu, ketika saya mendapat kesempatan sekolah di Kanada, baru saya ke Eropa.
Kalau Paris itu sama juga seperti ibukota yang lain ya. Saya juga pergi ke kota-kota lain di Eropa. Saya ke Dublin, ke London, tapi Paris itu mencekam saya. Ada satu kemegahan yang kemudian membuat saya merasa bahwa ini luar biasa cantik, tetapi mencekam, kota ini. Itu yang membuat saya merasa, saya harus menulis tentang ini. Meskipun saya hanya beberapa kali ke Paris.
Cuplikan "Paris, Juni 1988"
| Gadis itu hanya berjalan di sekitar Menara Eiffel, memperhatikan para pedagang berkulit gelap mengkilat menjual berbagai cinderamata. Mereka berseru sedikit lantang, bersaing, dan bahkan menghampiri setiap pelancong untuk beberapa franc. Gadis itu selalu memahami tingkah mereka karena dia tahu kesejarahan Prancis dan negara-negara bekas jajahannya. Setelah mulai dihajar matahari siang, gadis itu bahkan duduk di pinggir jalan bersama para pedagang dan menikmati roti bersama mereka. Gerombolan turis berbagai warna dan bentuk mengalir seperti air bah. Gadis itu akhirnya berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Baru pukul sepuluh malam ketika dia tiba di tempat penginapannya. Ia kembali dengan harapan menemukan area kamarnya bebas dari suara bising. Ia sudah kenyang dengan riuh-rendahnya turis Paris di bulan Juni. |
Demikian bagian pertama bincang-bincang dengan penulis Leila Chudori tentang latar belakang Amsterdam dan Paris dalam cerpen-cerpen karya penulis perempuan Indonesia ini. Minggu depan pembicaraan ini akan dilanjutkan, antara lain dengan kata-kata bahasa Belanda dalam cerpen Leila Chudori.






















Bung Joss Wibisono,
Terimakasih banyak atas informasinya. Semoga di artikel2 bung Josh berikutnya sering disertakan lagu2 Eropa khususnya lagu2 Belanda sehingga semakin memperkaya pemahaman para pemirsa RNW akan budaya Eropa ataupun Belanda. Salam sukses selalu buat bung Josh Wibisono.
salam kenal,
lagu2 yg turut diperdengarkan dalam artikel ini tentang amsterdam dan paris saya sangat suka, tetapi sayang tidak ada keterangan judul dan nama penyanyi dari lagu2 tersebut. sudikah kiranya redaksi RNW memberitahu judul dan nama penyanyi dari lagu2 tersebut? atas perhatiannya saya ucapkan banyak terimakasih.
Hallo Bung Ringo. Dua lagu yang digunakan dalam wawancara itu adalah Aan de Amsterdamse Grachten (kira-kira berarti Buat Kanal-Kanal Amsterdam) yang dinyanyikan oleh almarhum Wim Sonneveld (itu tentang Amstedam) dan Sous le ciel de Paris (kira-kira berarti Di bawah Langit Paris) yang dinyanyikan oleh Juliette Gréco. Terima kasih Anda sudah mendengarkan wawancara itu. Salam, Joss Wibisono.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.