Pada masa dulu, orang Belanda punya suatu ungkapan yang sangat pedas bagi bangsa Indonesia yaitu “Oost-indisch doof,” yang secara harfiah berarti "tuli gaya Hindia-Timur."
Oleh Y.B. Mangunwijaya (Ragawidya, 1986) perkataan Oost-indisch doof diartikan untuk menunjuk keseseorang (biasanya pelayan/jongos) yang sungguh-sungguh sadar, bahwa ia dipanggil, tetapi karena tak senang ditambahi pekerjaan atau soal, pura-pura tidak mendengar. Dan saat sang Tuan marah, mereka hanya berkilah, "maaf, saya tidak mendengar perkataan, Tuan."
Istilah ini terasa pedas di hati, ungkapan ‘tuli’ dicap pada mereka-mereka yang punya telinga dan baik pendengarannya, tapi tak mau mendengar perintah. Namun menjadi jenaka oleh alasan berpura-pura tidak mendengar karena malas diberi tugas. Seperti dagelan dalam Srimulat, menjadi sangat menghibur penonton ketika seorang pemain pura-pura tak mendengar atau berperan tuli, namun ketika mendengar kata uang, ia bertanya, “uang? mana?”
Bulan ini kita merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 65 tahun, dan ternyata budaya “Tuli gaya Hindia-Timur" masih nyata bersarang tidak saja pada lapisan masyarakat terendah namun juga sudah merasuki para pejabat negeri ini, para abdi (pelayan) masyarakat.
Setiap waktu tertentu kita mendengar jeritan orang-orang yang rumahnya kebanjiran, namun tetap saja banyak masyarakat yang membuang sampah ke kali. Kita mendengar banyak orang menangisi anaknya yang mati karena DBD, namun kita tak pernah ingat menguras dan membersihkan selokan. Suatu kali kita terperangah saat seorang anak SD gantung diri, karena malu tak mampu ikut berdarmawisata atau tak bisa lagi sekolah. Peristiwa itu mungkin tak jauh dari pintu-pintu rumah kita, namun kita selalu menutup pintu hati kita.
Kebanyakan dari kita mendengarnya, namun kita pura-pura tak mendengarnya. Diam seribu bahasa, seakan ini bukan persoalan kita. Untuk apa repot-repot. Toh, semua itu tugas pemerintah yang telah mendapat mandat dari rakyat dan digaji oleh rakyat.
Lalu mata kita berarak pada pemimpin-pemimpin yang telah kita pilih. Apakah mereka juga mendengar?
Mereka begitu berwibawa membuka tangan menyambut para demonstran yang datang ke rumah rakyat, selanjutnya bak berlakon Pontius Pilatus mereka mencuci tangan. Tak ubahnya juga dengan pemerintah yang sibuk membuat resep kemakmuran, namun kita yang dulu makan tidak teratur kini berubah menjadi teratur tidak makan.
Tahun depan kita akan menemukan perayaan ini kembali, namun seperti biasa kita hanya puas dengan suguhan panjat pinang, balap karung atau lomba makan kerupuk. Sementara di atas pentas mereka berlomba memanjat dinding hukum yang membatasi, berlari dengan karung-karung uangnya sambil tak lupa saling berbagi porsi kekuasaan.
Dirgahayu bangsaku, dirgahayu jerit-jerit yang tak pernah sunyi walau kita menutup kuping sekalipun.
Judul asli: Oost-indisch doof
Oleh: Edi Santana Sembiring
Artikel ini diikutsertakan dalam sayembara Cita-cita Proklamasi. Demi menjaga keaslian, artikel diterbitkan tanpa proses editing dari redaksi. Dalam beberapa kasus, Ranesi hanya mengubah judul untuk keperluan teknis. Isi dan format di luar tanggung jawab Ranesi.















Kalian semua pintar dan baik. Mengenai mental, sebetulnya tergantung seseorang dengan ruang lingkupnya. Di Arab misalnya, semua disana berbaju putih dan senangnya mengaji dan sekolahnyapun kebanyakannya agama. Ini termasuk kebiasaan dan telah menjadi keptuhan semua orang disana. lain dengan di Iraq, Afganistan, Iran dan Libia, dan terlebih lagi Afrika. Kehidupan mereka, tidak hanya mengaji setiap hari, tetapi harus juga berhadapan dengan tantangan hidup yang terus diterpa mentarai yang terik. Dan mereka dibesarkan dengan mental keras dan sering tidak perduli. lain dengan mental di Europa, kehidupan di Europa amatlah terjamin dalam semua hal. Kebanyakan orang dari luar Europa senang datang di Europa karena cinta kehiduoan Europa. Kesopanan terhadap kaum wanita dan orang orang lemah serta yang tua amatlah terpuji. Mereka penuh hormat dan pandai semuanya. Selebihnya, mata uang Europa sangatlah bermutu tinggi dan apa saja ada semuanya di seluruh Europa. Apakah itu pisang, durian, pada hal jenis buah buahan tropis tidak ada di Europa, namun karena kwalitas uang merekalah, segala yang berada jauh dibumi timur dan tropis juga mereka miliki. Tapi jelasnya bahwa, Mental bangsa Europa amatlah terpuji. semoga hal itu ada juga disama tengah kalian di Indonesia oke terimakasih.
sebenarnya ane mau tanya ama meneer dan none di Holland sana....
manakah yang lebih baek?....
mentalitas bangsa terjajah atau mentalitas bangsa penjajah?
mungkin saking terlalu naif-nya, saya akan memilih mentalitas bangsa terjajah yang lugu....
hmmmm.....
malas walau tahu....itu males..
Kemerdekaan bukan milik kaum cengeng dan suka mengeluh,,Kemerdekaan hanya milik orang-orang yang mau berjuang demi hidup nya.......................
Salam Merdeka......
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.