Sejak Johan Cruijff mengumumkan "revolusi beludru" di klub sepak bola Amsterdam, Ajax, timbullah perebutan kekuasaan. Dengan pengangkatan Louis van Gaal (musuh bebuyutan Cruijff) sebagai direktur, keadaan amburadul semakin menjadi-jadi.
Tepat setahun lalu legenda sepak bola Johan Cruijff mengumumkan "revolusi beludru" di Ajax, yang dianggap "klubnya". Pendidikan pemuda harus diubah, kebijakan teknis harus ditinjau ulang dan klub ini harus kembali dipimpin "para pebola" daripada pebisnis berdarah dingin.
Kedengarannya hebat dan sejumlah fans Ajax menyambut hangat kedatangan legenda ini di Amsterdam.
Babak terakhir
Namun tahun terakhir ini, klub terkenal Belanda menjadi medan perebutan kekuasaan dahsyat yang tak pernah terjadi sebelumnya. Akan tetapi, Endspiel, alias babak terakhir tampak dimulai dengan pengangkatan Louis van Gaal, musuh bebuyutan Johan Cruijff.
"Ini mirip adegan Amerika Latin tentang republik di sana yang penuh macho berlagak penuh percaya diri dan semuanya ingin merebut kekuasaan," demikian tulis harian Belanda de Volkskrant tentang keadaan di Ajax.
Awalnya terjadi bentrokan antara Cruijff dengan direktur Rik van den Boog dan ketua Uri Coronel. Mereka harus hengkang Mei lalu, setelah berbulan-bulan diolok-olok dan diancam di media cetak. Lalu Cruijff – dengan enggan – ambil bagian dalam Dewan Komisaris, yang ditugaskan mengangkat direktur baru Ajax.
Semuanya meleset
Dalam beberapa minggu saja semuanya meleset. Cruijff ingin mengangkat bekas pemain Ajax Tscheu La Ling sebagai direktur, tapi keempat komisaris lainnya menganggapnya kurang berbobot. Nama-nama lain, termasuk Marco van Basten dan Guus Hiddink sempat dibicarakan, tapi setelah empat bulan Cruijff tetap mengandalkan Ling.
Karena itulah keempat komisaris lainnya - di luar pengetahuan Cruijff - memutuskan mengangkat sendiri seorang direktur: dialah Louis van Gaal. Di atas kertas pilihan prima, andaikata kedua legenda Ajax ini tidak bermusuhan.
Ketika pengangkatan Van Gaal diumumkan kemarin, meledaklah bom di sekitar stadion Amsterdam Arena.
Mereka gila!
Semua yang berada di sekitar stadion Ajax bersikap heran dan marah. Tapi yang paling marah adalah Johan Cruijff sendiri. Dia menyatakan terkejut dengan pengangkatan Van Gaal: "Mereka gila. Ini melanggar semua perjanjian."
Louis van Gaal masih diam saja.
Gara-gara keputusan keempat komisaris, klub Ajax kini terpecah-belah. Generasi tua Ajax, yang mengalami kesuksesan bersama Cruijff tahun 1970-an, mati-matian mendukung sang legenda Cruijff.
Generasi muda Ajax terutama ingat keberhasilan tahun 1990-an dan merangkul Van Gaal. Kerja sama antara kedua ikon Ajax tampak tak mungkin.
Cruijff mengatakan "pada prinsipnya" bertahan sebagai komisaris Ajax, tapi semuanya tergantung dari reaksi klub. Saat ini ada dua opsi realistis bagi Ajax. Jika Ajax menyetujui pengangkatan Van Gaal, sudah pasti Cruijff hengkang.
Tapi bisa jadi, dewan anggota Ajax yang kini terpecah-belah itu, menyatakan tidak lagi mempercayai Dewan Komisaris. Kalau itu terjadi, berarti kemenangan bagi kubu Cruijff, dan Van Gaal kalah besar.
Opsi ketiga
Masih ada opsi ketiga: Cruijff dan Van Gaal bisa "mencatat sejarah" dan berdamai. Andaikata kedua ikon Ajax berhasil melakukannya, kemungkinan mereka dicalonkan mendapat Hadiah Nobel untuk Perdamaian.





















kerjasama lbh asyik...
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.