Pembunuh yang diganjar hukuman penjara seumur hidup boleh "cuti" dari masa tahanan. Diskusi mengenai sistem hukum Belanda kembali memanas: mana yang lebih penting, perlindungan warga sipil atau program rehabilitasi tahanan?
Cevdet Y. diganjar hukuman penjara seumur hidup karena ia menembak mati enam orang di sebuah kafe di Delft pada 1983. Toh pada 2001 ia dipindahkan ke klinik TBS. Di klinik tersebut, perawatan psikiatris diberikan kepada para tahanan, dengan tujuan mempersiapkan mereka untuk kembali ke tengah masyarakat.
Pengadilanlah yang memutuskan, apakah pelaku benar-benar sadar ketika melakukan kejahatan, atau justru kejahatan terjadi karena ia terganggu secara mental. Jadi hakim menentukan, apakah terdakwa harus dimasukkan ke rumah tahanan atau ke klinik perawatan dengan pengamanan ketat. Bertahun-tahun setelah dipenjara, Cevdet Y. dipindahkan ke klinik. Masalah psikologisnya membuatnya "tidak cocok" ditempatkan di penjara biasa.
Membiasakan diri
Berbeda dengan tahanan biasa, pasien di klinik TBS boleh mengambil "cuti." Artinya, mereka kadang boleh melihat dunia luar di bawah pengawasan. Akhir-akhir ini mereka juga boleh keluar klinik tanpa pengawalan. Alasannya, dengan cara itu, mereka bisa kembali membiasakan diri dengan kehidupan bermasyarakat.
Kaburnya pasien-pasien TBS yang kembali melakukan kejahatan ketika sedang cuti, memancing diskusi panas mengenai sistem hukum Belanda. Karena itulah, aturan cuti sekarang diperketat. Tahun lalu, cuti Cevdet Y. dibatalkan atas permintaan Menteri Muda Kehakiman Nebahat Albayrak, sebagai tanggapan terhadap reaksi emosional dari keluarga korban.
Murka
Toh sekarang, komisi untuk hak-hak tahanan memutuskan, tahanan yang pernah membunuh enam orang juga boleh cuti di bawah pengawalan ketat. Joost Eerdmans dari Komite Melawan Ketidakadilan marah besar menanggapi hal ini:
"Semua orang murka mendengar hal ini, apalagi keluarga korban. Menurut kami, orang-orang yang diganjar hukuman seumur hidup tidak boleh cuti. Bahkan pembunuh yang hanya dipenjara selama beberapa tahun juga tidak boleh cuti selama masa tahanan. Ini konflik antara kepentingan masyarakat dan kepentingan si tahanan. Kementrian, Menteri Muda, Parlemen, semua juga ingin mencegah ini terjadi."
Menteri
Pembela para tahanan menyatakan, Menteri Kehakiman sendiri yang memberi izin cuti pada Cevdet Y pada tahun 2001. Keputusan menteri yang waktu itu menjabat tidak bisa begitu saja diubah oleh menteri selanjutnya. Begitu argumen mereka. Eerdmans tambah murka melihat perkembangan ini:
"Akibat dari semua keributan yang muncul sekarang adalah bahwa menteri berusaha jadi hakim dan membuat pertimbangan dan keputusannya sendiri. Ia sadar, masyarakat muak melihat hal ini."
Keseimbangan
Diskusi ini menunjukkan bahwa Belanda masih belum menemukan keseimbangan antara melindungi masyarakat dan merehabilitasi para tahanan.
Sekarang, sebuah bank data dibuat, berisikan data-data pasien TBS dan risiko yang bisa mereka timbulkan dalam masyarakat. Seperti biasa, bank data ini bisa jadi penyelesaian yang justru membuat orang lupa dengan masalah sebenarnya.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.