Seorang bocah laki-laki berkewarganegaraan Belanda diculik di Malaysia. Berita ini menjadi topik hangat di harian Belanda Algemeen Dagblad dan De Telegraaf. Nayati Moodliar (12) diculik dalam perjalanan menuju sekolahnya di Kuala Lumpur pada hari jumat (27/04). Hingga berita ini diturunkan, Nayati masih dinyatakan hilang.
Sejak musim panas tahun 2011, Nayati tinggal bersama orang tua dan adik perempuannya di Kuala Lumpur. Pada jumat pagi (27/04), seperti biasa Nayati berjalan menuju sekolahnya, Mont Kiara International School, yang terletak di wilayah aman di Kuala Lumpur. Untuk mencapai sekolah tersebut, hanya dibutuhkan waktu 15 menit berjalan kaki.
Di dekat sekolahnya, Nayati diseret masuk ke dalam mobil berkaca gelap oleh dua laki-laki. Nayati sempat memberontak, tapi tetap kalah kuat. Seorang laki-laki lain yang mengendarai mobil itu pun langsung melaju dan melarikan Nayati. Seorang guru yang menyaksikan aksi penculikan ini sempat berlari mengejar mobil para penculik. Namun usaha tersebut sia-sia.
Belum ditemukan
Sham Moodliar dan Janice Smith, orang tua Nayati, lemas mendengar berita penculikan anaknya. Dalam sebuah percakapan telepon, tulis harian Algemeen Dagblad, Janice terdengar tabah. Sejak penculikan pada pukul 07.35 itu, Janice dan Sham mengerahkan segala upaya untuk menemukan Nayati kembali.
Beberapa jam setelah penculikan, di hadapan televisi lokal, Sham memohon para penculik untuk mengembalikan anaknya. Sebuah halaman Facebook berjudul “Please Help Us to Find Nayati Moodliar” pun telah dibuat.
Dengan publikasi tersebut, mereka berharap bisa mendapat kontak dengan penculik Nayati. Namun hingga senin (30/04), belum ada tanda-tanda kehidupan dari Nayati.
Saat ini pihak berwenang di Malaysia masih sibuk menyelidiki kasus tersebut. Namun belum jelas seberapa serius penyelidikan mereka, tulis harian De Telegraaf.
Tanggung jawab
Harian Algemeen Dagblad menulis, kedua orang tua Nayati berasal dari Afrika Selatan. Namun Nayati dan Saffiya (7), adiknya, berkewarganegaraan Belanda. Sebelum pindah ke Kuala Lumpur karena pekerjaan sang ayah, mereka sekeluarga tinggal di Breugel en Son, sebuah desa di Belanda.
Pemerintah Afrika Selatan mendesak pejabat berwenang di Malaysia untuk menindak serius kasus ini. Seorang perwakilan pemerintah Afrika Selatan juga telah datang mengunjungi keluarga Nayati. Hal yang sama juga dilakukan kedutaan besar kerajaan Belanda di Malaysia. Mereka menghubungi pihak berwenang di Kuala Lumpur dan keluarga Nayati. Namun pemerintah di Belanda belum bertindak apa-apa.
Menurut seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Belanda, yang memiliki tanggung jawab dalam kasus tersebut adalah pemerintah Malaysia sendiri.
Demikian harian Algemeen Dagblad dan De Telegraaf.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.