Bernadeta Astari adalah soprano Indonesia pertama yang tampil di Concertgebouw, gedung konser ternama Amsterdam. Ia berhasil menunjukkan daya vokalnya yang lentur, tapi juga keindonesiaannya.
Andai saja musik klasik itu agama, maka bagi orang Belanda gedung Concertgebouw di Amsterdam akan setara dengan mesjid agung atau gereja katedralnya. Maklum di gedung konser yang nyaris berusia 125 tahun itu tampil pelbagai pemusik kelas dunia dengan virtuositas yang fantastis.
Nama-nama besar dunia musik klasik, baik solis vokal maupun intrumentalis, dari formasi musik kamar sampai orkestra besar silih berganti tampil di panggung Concertgebouw.
Empat formasi
Tapi gedung konser dengan akustik menakjubkan ini juga membuka pintu bagi para pendatang baru untuk merintis karier dalam dunia musik klasik. Melalui program Het Debuut (penampilan perdana) seseorang diberi kesempatan untuk tampil, setelah, tentu saja, melalui saringan ketat.
Salah seorang yang lulus saringan itu adalah Bernadeta Astari, soprano Indonesia yang tengah menyelesaikan jenjang S2 pada Konservatorium Utrecht. Rabu 25 Januari itu, Deta, panggilan akrabnya, adalah soprano Indonesia pertama yang tampil di Concertgebouw.
Dia didampingi pasangan tetapnya, pianis Jepang Kanako Inoue.
“Dua tahun silam Kanako dan saya ikut kompetisi Het Debuut,” jelas Deta. Pesertanya adalah para pemusik muda yang tengah mengikuti pendidikan musik di Belanda. Mereka harus bersaing bukan hanya dengan sesama vokalis, melainkan juga instrumentalis.
Pada babak penyisihan ada 35 formasi yang mendaftar, tujuh lolos ke semi final, dan empat ke final, salah satunya Deta dan Kanako. Penampilan di Concertgebouw adalah babak final, selain itu mereka juga tampil pada delapan gedung konser di kota-kota Belanda lain.
Merembang petang
Programa mereka pada Lunchconcert (konser makan siang) itu bervariasi. Mulai karya musik jaman klasik sampai modern, dari komponis Austria Wolfgang Amadeus Mozart [1756-1791] sampai komponis Rusia Igor Stravinsky [1881-1971].
Melihat ini saja sudah bisa disimpulkan daya vokal Deta punya kelenturan yang menjangkau zaman-zaman klasik, romantis dan moderen, periodisasi musik klasik Eropa.
Pembukaan yang dipilih Deta bukanlah sebuah gebrakan, melainkan sebuah nomor syahdu yang memuja senja. Itulah In Abendrot (Merembang Petang), karya Franz Schubert [1797-1828], seorang komponis Austria zaman romantik awal.
Tapi pada nomor kedua, masih karya Schubert, Deta tampil ekspresif ketika mengeluhkan ketidaksetiaan kaum pria.
Dua karya komponis Austria lain, Hugo Wolf [1860-1903], mengakhiri nomor-nomor dalam bahasa Jerman. Deta kemudian meluncur ke nomor-nomor bahasa Prancis, membawakan karya Francis Poulenc [1899-1963]. Dengan dua nomor modern ini segera terlihat kelenturan vokal Deta.
Bukan itu saja, lafal bahasa Prancisnya cukup meyakinkan, mungkin hanya orang Prancis yang tahu karya Poulenc itu dibawakan bukan oleh seorang soprano Prancis. Sebenarnya Poulenc juga menggubah beberapa karya vokal yang bernafaskan gamelan Bali. Misalnya opera pendek Les mamelles de Tirésias, mungkin ini tantangan Deta di masa depan.
Untuk sekarang sebagai seorang soprano, Deta harus bisa membuktikan dirinya memang pantas tampil di Kleine Zaal (bangsa kecil) Concertgebouw. Itu terlihat pada tiga nomor karya komponis Rusia Igor Stravinsky. Nomor dongeng untuk anak-anak itu menampilkan binatang-binatang dalam irama rancak.
Deta berhasil dengan lafal bahasa Rusia yang cepat tapi tetap transparan. Penonton puas, mereka mengganjar tepukan tangan meriah bahkan disertai siut-siut.
Membuka diri
Kelahiran Jakarta, Deta menegaskan, “Saya merasa menjadi wakil orang Indonesia, jadi saya ingin memasukkan program yang berbau-bau Indonesia, sekaligus memperkenalkan budaya kita.”
Pilihan Deta jatuh pada Tembang Soenda Opus 28, karya Paul Seelig [1876-1945]. Seelig yang tamatan Konservatorium Leipzig di Jerman tapi membuka penerbitan musik Matatani di Bandung, dikenal sebagai salah satu komponis yang berhasil menggabungkan gamelan dengan musik klasik.
Dalam Tembang Soenda yang terdiri dari tiga bagian, Seelig mengubah gamelan dan tembang Sunda menjadi semacam Lieder atau lagu seni Jerman. Dalam pembawaan Deta, Sinom, Kinanti dan Dandang Gula Miring (tiga nomor dalam Tembang Soenda) terdengar baik sebagai lagu seriosa maupun sebagai tembang Sunda.
Apalagi dengan ekspresivitas yang tidak umum di sebuah gedung konser, Deta seolah menyihir hadirin, mengajak mereka masuk ke dalam dunia mistik timur.
Ekspresivitas inilah yang digarisbawahi oleh Els Lok, salah seorang pengunjung tetap konser Rabu siang itu. Lebih lagi, dalam Tembang Soenda, Els Lok melihat betapa Deta berhasil membuka dirinya, bahwa dia adalah seorang soprano Indonesia. “Nomor ketiga bagi saya terdengar sekali nuansa Indonesianya. Dan itu mengharukan,” kata Els, kelahiran Tarakan di Kalimantan ini.
Tembang Soenda ini juga paling disukai oleh Kanako Inoue, pianis yang mendampingi Deta. “Saya merasa dekat dengan karya-karyanya, ini membuat saya tenang dan nyaman bermain,” demikian Kanako yang sekaligus mengaku tidak paham bahasa Sunda.
Baik Deta maupun Kanako layak merasa puas pada penampilan mereka di Rabu siang itu. Bisa jadi dewan juri juga berpendapat demikian, sehingga keduanya bisa tampil sebagai juara Het Debuut yang diselenggarakan oleh Concertgebouw.























Membaca kisah pendek dari adik kami "Deta" aku berpesan kepada semua anak anak muda di Indonesia, agar lepaskanlah dirimu dari belenggu nista dan jahanam para penguasa negeri ini. Carilah nasibmu dinegeri rantau. Kalau negerimu sendiri, tidak ada kesempatan untuk mengembangkan diri, itu namanya membelenggu diri sendiri dan tidak mau terlepas. Kata orang" Lebih baik hujan batu dinegeri sendiri, daripada hujan emas dinegari orang" Aku mau bilang, bahwa kalau hujan batu itu kena kepalmu, bocor darah tau ngga? Tapi kalau hujan Emas dinegeri orang itu namanya berkat Tuhan. Namanya saja emas, apa yang lebih berharga dari emas? Aku mau ditimpah hujan emas dinegeri norang. Deta telah mendapatkan hujasn emas dinegari orang. Apa lagi kalau bisa menikah dengan orang bule nanti, bukan saja emas, tetapi juga berlian. Lari dari belenggu nista dan sengsara Indonesia itu. Lepaskanlah dirimu jangan mau ditipu lagi.
Setelah mendengar rekaman Bernadeta & Kanako karya Ananda Sukandar "Dalam Doaku" saya mengagumi keindahan suara Deta yang instimewa dan teknik vokalnya yang mulus. Dalam usia yang masih sangat muda ia telah berprestasi gemilang. Pergumulannya dengan "vocal chord" menjadikan dia lebih arif dalam menjaga kelestarian tali pita suara nya. Semoga cita2 nya terlaksana untuk menjadi penyanyi kaliber dunia. Sukses selalu!
Kadang malah di negara sendiri seniman seperti ini malah diabaikan,sungguh ironis . . . .
Ya namanya saja Indonesia. Mana mungkin itu bisa terjadi kepada rakyat kecil? Kalau bukannya anak pejabat, mana mungkin anda bisa menjadi manusia terpandang? Untuk itu syukurin karena di Belanda dunia yang begini maju dengan segala apa saja, kita kita ini, malah yang mengangkat derajad bangsa dan negara. Lihat saja, berpakaian apa adanya. Cuman karena ketekunan hati kita dobrak tembok tembok penghalang yang dibangun dinegri kita untuk maju dan terlepas.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.