Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar. Kali ini dengan Vasco da Gama, mantan pejuang Timor Leste, sekaligus pendengar setia Ranesi.
Vasco da Gama adalah mantan pejuang di Timor Leste. Badannya yang kekar menandakan keberaniannya dalam melayani bangsa dan negara. Sama seperti nama panggilannya ketika saat perjuangan "Creado". Berbagai laporan peperangan yang ditulisnya, tiba-tiba sudah disiarkan di Ranesi.
Dijumpai di Dili, Timor Leste, Vasco da Gama, ayah empat anak menceritakan bagaimana upayanya memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste bersama dengan Ranesi yang saat itu sempat menjadi teman setianya di saat-saat sulit. Ia mengenang kembali pengalamannya puluhan tahun lalu.
"Terus terang saja Radio Nederland saat itu sangat heboh menyampaikan perjuangan kami terutama penderitaan yang dialami oleh rakyat Timor Leste pada saat itu. Ketika itu kami belum punya radio-radio komunikasi seperti yang dimiliki TNI Indonesia. Setelah tahun 90an, baru kami dapat radio komunikasi. Itu hasil perebutan antara Falintil dengan TNI."
Tidak sia-sia
Menurutnya selain Radio Nederland yang menyampaikan perjuangan adalah radio Australia, ABC dan radio BBC London.
"Dengan disiarkan melalui radio-radio internasional maka kami yakin bahwa perjuangan kami tidak sia-sia. Karena secara internasional dunia sudah mengetahui bahwa di Timor Leste masih ada perjuangan melawan rezim Orba Indonesia."
Saat itu, tutur Vasco da Gama kepada Ranesi, dirinya tidak mengetahui bagaimana Ranesi mendapatkan berita-berita dari lapangan perang. Berita itu, menurutnya sangat aktual dan tepat sekali. Mungkin, tambahnya berita itu didapat dari rekan-rekan seperjuangan yang tinggal di Indonesia dan memiliki jaringan dengan radio asing, di antaranya Ranesi.
Berita itu juga menyebarkan kejahatan sistematis yang dilakukan oleh tentara Indonesia terhadap rakyat Timor Leste. Itulah keistimewaan Ranesi, tuturnya.
Ketika itu, tambahnya, saat ia menyusun hasil baku tembak dengan tentara TNI ia sempat menulis surat ke pergerakan bawah tanah. Setelah itu, ia tidak mengetahui lagi ke mana larinya berita itu.
"Tau-tau hasilnya kami dengar melalui Radio Nederland. Berarti berita itu sampai ke Ranesi melalui rekan kami di jaringan bawah tanah."
Perjuangan
Vasco da Gama ikut dalam gerakan perjuangan tahun 1975 dan sampai tahun 1999 berada di hutan menjadi anggota pemuda perjuangan. Di tahun 1975 ia sempat ditangkap namun akhirnya bergerak lagi dari hutan ke hutan.
Ia adalah mantan mantan pimpinan clandestine di Timor Leste. Sempat ditangkap oleh Kopassus, keluar masuk penjara selama delapan kali dan sempat pula dibela oleh pengacara Johnson Panjaitan.
Kehilangan keluarga
Pengalamannya sebagai gerilya bukan berarti tidak ada pengorbanan. Selain teman-teman seperjuangan yang kehilangan orang-orang dekatnya, Vasco da Gama pun kehilangan ayah ibunya setelah tewas akibat pemboman yang dilakukan oleh TNI saat itu.
Namun ia tidak menyimpan dendam sedikit pun. Vasco da Gama sempat mengawal mantan presiden Gus Dur ketika berkunjung ke Timor Leste.
"Menurut saya di mana saja ada perang, ada saling bunuh, tapi setelah merdeka kami anggap semua itu yang sudah lalu biarlah berlalu. Kita lihat yang di depan bagaimana kerjasama antara Timor Leste dengan negara-negara lain. Itu yang ada di kepala kami."
Menurut Vasco da Gama yang saat ini bekerja sebagai penyuplai barang-barang bangunan dan kontraktor, memandang agar ada kerjasama yang lebih baik di bidang ekonomi, militer dan politik
"Secara pribadi perjuangan kemerdekaan ini sudah tercapai tapi secara umum misalnya bagaimana memberantas kemiskinan di Timor Leste, itu masih harus dipikirkan jalan keluarnya," demikian Vasco da Gama sambil menghembuskan asap rokoknya.


















yah, itu adalah masa termasuk sejarah kelam bangsa indonesia. setiap bangsa pasti punya, bahkan amerika dan inggris sekalipun. tapi aku tetap cinta indONEsia, rakyatnya, budayanya, pulaunya, lautnya, semuanya. tapi.... pemerintahnya...? hehe2
Trompet RMS patah corongnya.....................
Sekejam kejamnya Belanda di zaman kolonialnya di tanah air kita tercinta, tapi tidak sebanding dengan kekejamnya pemerintah kita terhadap kita sebagai rakyatnya. Kalau beli 1 buah peluruh dari RUSIA berharga US.$. 12 000 000 atau 100 miliar rupiah, kemudian diuji cobakan dilau Hindia, dan membeli berbagai peralatan perang dari Europa dengan harga 1 miliard Dolar USA, maka matilah kita kita ini sebagai rakyat yang sedang mencari makanlah. Jadi pemerintah di Jakartalah yang sengaja membunuh kita kita inilah. Terimakasih pemerintah di Jakarta. Wasalam untuk Indonesiaku.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.