Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 24 Mei  
Payung Salendra
Avatar Prita Riadhini
Map
Depok, Indonesia
Depok, Indonesia

Berburu Radio Nederland Sampai ke Pulau Buru

Diterbitkan : 4 Juni 2012 - 9:18am | Oleh Prita Riadhini (Foto: Ranesi)
Diarsip dalam:

Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.

Berburu informasi. Itu yang terus dilakukan Payung Salenda, bahkan ketika mendekam di penjara Pulau Buru selama sepuluh tahun. Melalui radio gelap yang dibawa sesama Tapol, Payung Salenda berhasil mendapat berita Radio Nederland kendati tidak secara langsung.

Setiap goresan keriput di wajahnya menceritakan jalan hidup Payung Salenda. Mantan tahanan politik Tapol yang mendekam di penjara Pulau Buru sepuluh tahun itu, menuturkan peran Radio Nederland dan kisah hidupnya di kediamannya kawasan Depok, Jawa Barat.

Dengan runtun, Payung bercerita kepada Radio Nederland, bahwa berita-berita radio tersebut tidak langsung didengarnya di Pulau Buru karena saat itu dirinya bersama Tapol lainnya mendekam di penjara dalam jarak 18 meter dari Pusat Komando Tentara.

Berita Toraja
Payung Salenda adalah aktivis kiri di Tana Toraja sekitar tahun 1960an. Ketika itu ia memperjuangkan kaum yang tertindas. Namun ada orang-orang borjouis yang tidak suka dengan caranya. Ia "dicomot" di Jakarta sekitar tahun 1967 sebelum akhirnya ditempatkan di Pulau Buru.

"Berita Radio Nederland hanya saya dengar dari mulut ke mulut di Pulau Buru. Kita senang bukan main kalau mendengar berita dari Radio Nederland terutama waktu di Pulau Buru. Waktu itu ada juga tentara dari Tana Toraja sebagai petugas. Dia yang sering saya dekati untuk cari-cari berita. Berita itu menyenangkan dan membela kita. Mendorong kita supaya bisa selamat dan bertemu dengan keluarga kembali."

Pembebasan Tapol
Satu yang pernah diingat dari Radio Nederland adalah berita soal pembebasan Tapol. Pada saat itu selain di Pulau Buru banyak Tapol yang ditahan di kamp konsentrasi di propinsi-propinsi karena biaya yang mahal untuk mengangkut mereka ke Pulau Buru dengan kapal.

Untuk tahanan wanita misalnya ada di Pelantungan Jawa Tengah yang jumlahnya sekitar 200 hingga 300 orang.

Pembebasan itu tutur Payung Salenda yang berusia di akhir 80 tahun, kepada Radio Nederland, luar biasa menyenangkan. "Bagi kita berarti demokrasi sudah berjalan setelah dibebaskan, sebab banyak suara dari luar yang mengecam Soeharto yang tidak berperi kemanusiaan membuang orang sembarangan, membunuh orang."

Kendati sudah bebas sekitar tahun 1977, Payung Salenda merasa masih terpenjara, karena banyaknya larangan-larangan yang diterapkan. Setelah bebas, misalnya, ia tidak boleh bekerja baik di sektor pemerintah maupun swasta, karena di Kartu Tanda Penduduk KTP selalu dicantumkan eks Tapol.

Waktu itu dia juga ingat bahwa Radio Nederland memberitakan banyak orang progresif yang juga mengeluh karena Tapol masih setengah-setengah dibebaskan.

"Jadi harus punya inisiatif untuk bekarya sendiri. Kalau tidak ya konyol. Dan waktu itu saya masih bisa aktif kesana kemari untuk ngojek dan membantu menjaga warung yang dijalankan istri saya."

Sebarkan penderitaan
Peran Radio Nederland saat itu, tutur Payung, adalah sebagai radio yang turut menyebarkan tentang penderitaan para Tapol dari Pulau Buru. Bahkan saat gelombang pembebasan pertama, Payung dan rekan-rekannya sesama Tapol berlomba-lomba mencari informasi siapa yang dibebaskan pertama kali.

Ternyata yang dibebaskan adalah yang sudah tua dan lanjut usia serta sakit-sakitan. Ia termasuk dalam gelombang kedua yang dibebaskan karena saat itu masih dianggap muda.

Dengan perlahan Payung menceritakan pengalamannya di Pulau Buru. Waktu pertama kali tiba para Tapol mengejar kucing hutan.

"Kita makan. Lalu ular juga dimakan enak sekali kulitnya daripada dagingnya. Saya dikasih makan tak ada lauk, hanya nasi saja. Untung setelah setahun lebih kami bisa pelihara ayam lalu makan telurnya, kadang-kadang. Kemudian pemerintah datangkan sapi. Setelah dua tiga tahun kita bilang bahwa sapinya baru beranak satu. Padahal yang dua kita potong kalau lebaran dan 17 Agustus."

Para Tapol di Pulau Buru juga memelihara ikan mas. Ketika itu mereka membuat perangkap ikan dan menangkap ikan ulin. Sempat juga memelihara bebek, dan telurnya dimakan. Kadang para Tapol itu juga berpesta di sawah untuk makan daging bebek.

Pendidikan politik
Payung Salenda juga mewarisi agar anak-anaknya belajar berpolitik, dengan mencintai sejarah serta mengeluarkan pendapat dengan bebas. Salah satu dari keempat anaknya adalah Arthur Sailendra.

Arthur kecil terkadang juga ikut mendengarkan siaran Radio Nederland yang selalu disimak ayahnya. Dengan berita yang disiarkan Radio Nederland, Arthur bersama ayahnya selalu mendiskusikan masalah-masalah politik.

"Dulu waktu masih punya gelombang SW saya melihat bapak dengan tekun menyimak informasi Radio Nederland. Itu menjadi bahan diskusi dengan anak-anak atau teman-temannya. Berita radio asing terutama Radio Nederland dicermati sebagai informasi yang penting, karena ada soal perkembangan di luar dan dalam negeri yang waktu itu masih diblok oleh satu sistem diktator saat itu. Ia (Payung, Red.) selalu menyampaikan berita itu kepada teman-temannya sampai titik komanya nggak ilang."

Sembunyi-sembunyi
Arthur yang remaja melihat ayahnya sangat serius mendengarkan siaran Radio Nederland. "Saya suka nimbrung dari jarak jauh. Dia serius sekali mendengar kayak orang main catur. Saya perhatikan bapak dengerin radio ditempelin di kuping karena kan waktu itu suaranya suka hilang-hilang."

Kendati sudah bebas, Payung Salenda masih mendengar Radio Nederland dengan sembunyi-sembunyi. Karena pengalamannya sebagai mantan Tapol, ia menjadi tak gampang mempercayai lingkungan. "Jadi memprotek diri dan ideologinya dari kelompok yang tidak mengerti dia. Bisa saja si A atau B intelnya aparat negara. Dan sampai saat ini pun label seorang tahanan itu masih nempel."

Trauma
Penangkapan ayahnya terjadi ketika Arthur masih duduk di kelas tiga SD. Saat itu Arthur ogah pergi ke sekolah.

Ketika ditanya apakah penangkapan ayahnya menyebabkan trauma, Arthur menandaskan . "Ada rasa ketakutan. Entah itu kalau ngeliat aparat kita udah nggak percaya lagi."

  • Payung Salenda<br>&copy; Foto: Ranesi - www.ranesi.nl

Diskusi

Anonymous 9 Juni 2012 - 3:21am / Afrika Barat Daya

yah ampun, mungkin saya satu2nya remaja yang dengerin ranesi. baru denger awal taun ini, eh malah ditutup wahahaha. saya cuma bisa ketawa aja

Anonimus 5 Juni 2012 - 8:51am

Dari kelas IV SD tahun 1972 sampai tahun 2002 saya sering mendengar Radio Nederland, tetapi karena perubahan zaman dan perubahan jenis komunikasi saya sekarang beralih hanya membaca situs Radio Nederland. Saya sangat prihatin atas penutupan Radio Nederland Bahasa Indonesia.

Ade 5 Juni 2012 - 6:46am / indonesia

sayang ya Ranesi ditutup. padahal saya membutuhkan informasi untuk membantu saya dalam banyak aspek. saya berharap Ranesi tidak jadi ditutup.

Elfarid 5 Juni 2012 - 4:20am / Indonesia

Sedih mendengar RaNESI ditutup sampai waktu yang tak ditentukan. Walau semakin sulit mendengar RaNESI karena semakin ruwetnya frekuensi radio di Indonesia tetapi membaca tulisan secara online sudah cukup untuk mengerti sudut pandang lain dari suati peristiwa.

Saat saya remaja RaNESI meruapakan salah satu siaran radio dari luar negeri yang menyajikan berita yang kadang tak ada di media dalam negeri.

Semoga RaNESI tidak terlalu lama menjadi kepompong dan muncul lagi sebagai kupu-kupu yang indah denga sayap warna-warni.

@ellfarid

Agustadi 4 Juni 2012 - 5:43pm

Aku seorang paling merasa dendam atau benci terhadap tindakan dan perbuatan jahatnya pemerintah Indonesia. Mungkinkah ada banyak orang yang menjadi marah bila membaca namaku. Tapi bila kita mengikuti dengan saksama ceritra Pak Payung Salenda selama di Pulau Buru, hati siapapun, pasti terharu dan tak tahan membendung cucuran air mata. Begitu kejam, kejam, kejam kau hai Pancasila dan Bineka tunggal ika. Begitu kejam, kejam, kejam hai kau TNI dan POLRI dalam mengkhianati rakyatmu sendiri yang hanya karena permainan para tokoh politik di Jakarta, orang lain dianiaya dan diperlakukan semaunya pancasila dan UUD 1945 serta Binaka tungggal ika. Kamu pemerintah Indonesia, siapapun juga dia, apakah itu president, Jenderal, kementrian, semuanya telah diracuni otaknya dengan pancasila yang telah merusak jiwa raga bangsamu sendiri. Pancasila, kaulah pengkianat bangsa, UUD 1945 kaulah pengkianat bangsa KUHPRI 1958 engkaulah pemutarbalik fakta dan kebenaran sehubungan dengan berkuasanya para ABRI dan POLRI pada negeri ini. ORDE BARU benar benar adalah pengkianat dan perong rong martabat bangsa. Pemerintah NKRI haruslah meminta maaf yang sebesar besarnya kepada seluruh rakyat yang telah dianiaya selama ini karena dituduh PKI. Agustadi.

Iqbal 4 Juni 2012 - 3:31pm

pak Payung Salenda, apapun ideologie anda dan saya, itu tidaklah penting, tetapi apa yang saya baca membuat saya menangis dan teringat ayah saya yang tidak pernah tau dimana dia berada, salam saya untuk ibu yang sangat tabah menunggu bapak.

Dino Musida 4 Juni 2012 - 1:10pm / Indonesia

Kisah ini menegaskan bahwa siaran bahasa Indonesia di Radio Belanda adalah bagian perjalanan bangsa Indonesia. Lepas dari hubungan kolonial dahulu, Radio Belanda adalah salah satu sumber informasi yang memajukan harkat manusia Indonesia. Seperti juga Radio Australia dan radio-radio lain di erbagai belahan lain dunia. Bahkan pemuda-pemuda Indonesia berani mendesak Bung Karno dan tokoh lain untuk segera menyatakan Kemerdekaan karena bermula dari berita radio. Sayang sekali perjalanan Ranesi harus selesai di sini.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...