Ahad, 20 Februari. Apa yang seharusnya merupakan demonstrasi damai dan bermartabat di Maroko utara, ternyata berubah menjadi konfrontasi menjengkelkan antara demonstran dengan polisi anti huru hara.
Ribuan pemuda dari desa sekeliling berdatangan ke kota Al Hoceima. Marah, sangat marah dan jelas hanya ingin melakukan kekerasan. Maka terjadilah malapetaka itu. Laporan Mohamed Amezian
Sulit dimengerti
Seorang korban tewas. Kemudian kantor bank, mobil polisi, balai kota, toko, hotel, teras, semuanya jadi sasaran tindakan membabi buta. Memalukan dan sulit dimengerti. Hujan batu menghantam kantor polisi dan puluhan pemuda berupaya memajat pagar bajanya. Ratusan lain mengepung bangunan itu. Makin gawat lagi ketika tiga mobil polisi terbakar.
"Inilah akibatnya kalau tidak ada bimbingan," kata salah seorang aktivis hak-hak asasi manusia di Al Hoceima. "Makhzen, pemerintah pusat, selalu melarang kami membimbing kawula muda," tambahnya lagi.
Al Hoceimna, kota kecil di wilayah pegunungan Rif, Maroko utara, memang selalu merupakan wilayah peka. Dari sinilah asal sebagian besar orang Maroko yang kini berada di Belanda. Mereka adalah suku minoritas Berber. Adakah kecurigaan antara pemerintah dengan masyarakat? Makhzen kenal kami dan kami kenal Makhzen, kata orang.
Preman
Mendiang Raja Hassan II, ayah raja yang sekarang, pernah menyebut orang Berber sebagai preman. Orang Berber tidak mau melupakan ucapan itu. Raja Mohamed VI yang sekarang bertahta menggantikan ayahnya ingin merubah ucapan itu. Jurang ketidakpercayaan sekarang terus membelah Pegunungan Rif dengan pemerintah pusat di Rabbat.
Polisi anti huru hara menembakkan gas air mata untuk mengusir massa. Tak bisa berbuat apa-apa, kami melihat bagaimana polisi menggunakan kekerasan terhadap kelompok kecil pemuda. Ini semua bisa dibenarkan? Ya, kata banyak orang di Al Hoceima. Aku tidak, walaupun jelas secara pribadi.
Kekerasan juga pecah di kota-kota Maroko lain, terutama di Utara. Di Tanger, Assila, Larache, Tetouan. Di kota Fes, Maroko Tengah, para demonstran mengepung rumah walikotanya. Ia adalah salah satu pentolan partai Istikal yang berkuasa. Tindakan simbolis, bagiku.
Generasi Facebook
Gerakan 20 Februari itu menuntut perubahan politik, tanpa seruan membubarkan monarki. Generasi Facebook sekarang menuntut monarki parlementer, kebebasan berpendapat, pemilu jurdil, dan UUD yang demokratis. Generasi ini juga ingin memerangi korupsi. Orang-orang korup di sekeliling raja kabarnya ingin menyabot tuntutan-tuntutan itu. Adakah orang-orang ini mendukung para perusuh di Al Hoceima? Tampaknya itu masuk akal.
Kutinggalkan kotaku dengan rasa malu. Aku setuju perubahan, tapi tidak harus dengan harga apapun.





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.