Upacara meriah kelompok syaman, dukun sihir, Hindu, Muslim, Buddha dan Kristen. Semuanya dikumpulkan dalam buku “Religie Nu”. Selama tujuh tahun fotografer Belanda, Eddy Seesing memfoto sebanyak 71 komunitas agama di Belanda.
Seesing menyusun buku ini setelah memfoto beberapa generasi Maroko di Gouda. “Saya mulai mengerti mengapa mereka menganggap penting agama.” Ia melihat bahwa seluruh hidup mereka terkait dengan agama.
“Mereka potong rambut dan berbelanja di mesjid. Anak-anak mereka belajar agama di sana.”
Juga ibu Seesing menjadi sumber inspirasi besar. Ibunya adalah jemaat gereja Katolik Roma. “Setelah ayah saya meninggal, ibu ikut paduan suara, dan aktif di organisasi orang lansia. Ia juga jadi sukarelawan di sana.”
Syamanisme
Ketika berusia 17 tahun, Seesing putus dengan gereja Katolik. Ia tidak setuju dengan pendapat gereja soal perempuan, homo dan anti-konsepsi.
Setelah sempat mencoba agama Buddha, ia akhirnya menganut syamanisme. Anak kembarnya belakangan ikut ritual penyambutan, seperti dilihat pada beberapa foto. Seesing mulai mengenal syamanisme di Kanada. Di sana ia selama dua minggu ikut seorang syaman.
Menurutnya, pengalaman paling mengesankan adalah waktu ia menjalani “ritual berkeringat”. “Dalam kondisi yang panas itu, Anda bisa mengalami spiritualitas yang mendalam.”
Dengan buku “Religie Nu”, Seesing ingin menunjukkan berapa banyak kesamaan antar agama, misalnya khotbah atau acara pembaktian dan penyembahan. ”Pada waktu bersamaan saya berusaha untuk menunjukkan perbedaan budaya. Kita harus berhenti memaksa orang masuk agama tertentu, dan menerima perbedaan yang ada.”




























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.