Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Rabu 22 Mei  
janda Rawagede
Avatar Michel Maas
Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Belanda Tutup Babak Hitam di Rawagede

Diterbitkan : 9 Desember 2011 - 2:27pm | Oleh Michel Maas (Foto: Michel Maas)
Diarsip dalam:

Enam perempuan tua duduk di baris depan. Merekalah janda-janda korban pembantaian yang dilakukan tentara Belanda di Rawagede 9 Desember 1947. Mereka berupaya menangkap kata-kata Duta Besar Belanda, Tjeerd de Zwaan. Dengan pidatonya, sang dubes berupaya menutup babak hitam sejarah Belanda.

Tahun 1990 masih ada 51 orang korban, 10 tahun kemudian jumlah ini tinggal separuh. Ketika negara Belanda digugat, masih tersisa 10 orang janda yang membubuhkan tanda tangan di bawah gugatan. Dan hari ini mereka tinggal berenam saja.

Terkait:

Para janda mendengarkan sebuah pidato yang pendek dan jelas. Setelah 64 tahun mereka dengar permintaan maaf. "Dalam hal ini saya minta maaf atas nama pemerintah Belanda bagi tragedi yang berlangsung di Rawagede 9 Desember 1947," kata Duta Besar Tjeerd de Zwaan.

Minta maaf atau menyesal
Kata-katanya sangat jelas. Tidak perlu lagi didiskusikan apakah ini permintaan maaf atau ungkapan "penyesalan". Kini itu sudah masa lalu. Selain permintaan maaf, Belanda juga memberi santunan ganti rugi: keenam janda yang masih hidup, masing-masing menerima 20.000 euro.

Bisa dipertanyakan mengapa Belanda perlu 64 tahun untuk minta maaf, bisa dipertanyakan apakah 20.000 euro itu cukup. Tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tak terdengar di Rawagede Jumat ini.

Sebuah babak ditutup di Rawagede. Terutama bagi para janda. Mereka hanya sibuk dengan kasus di pengadilan selama lima tahun terakhir. Mereka diterbangkan ke Belanda, dibawa ke Jakarta, berbicara dengan anggota parlemen dan bersaksi di depan pengadilan.

Wanti, salah satu janda, "Saya bersyukur ini sudah selesai."

Tak terlambat
"Tidak pernah terlambat kalau mau minta maaf," kata pengacara Liesbeth Zegveld. Tapi bagi beberapa janda momentum ini terlambat sudah. Saih, misalnya. Ialah satu-satu korban selamat pembantaian 1947, ketika tentara Belanda mengeksekusi semua warga pria Rawagede, baik anak-anak maupun dewasa.

Saih selamat karena pura-pura mati, sementara tubuhnya berlumuran darah orang lain. Dia tampak tegar bahkan masih bisa terbang ke Belanda untuk mengikuti proses gugatan tahun lalu.

Tiba-tiba dia meninggal karena serangan jantung enam bulan lalu. Ia dikuburkan di belakang rumahnya. Saih tidak pernah mendengar permintaan maaf dan tidak menerima santunan. Karena siapa yang mati, dicoret dari daftar penerima santunan.

Putusan hakim, beberapa bulan lalu, mewajibkan pemerintah Belanda hanya membayar kompensasi kepada para janda dan korban yang selamat. Bukan kepada keluarga atau anak-anak.

Jelas
"Saya rasa pemerintah Belanda senang dengan putusan hakim. Enam sanak saudara korban adalah kelompok yang tidak banyak," kata Zegveld, "tapi saya tidak mau menggunakan istilah 'murah'. Kurang cocok untuk konteks ini. Sudah bagus pemerintah menuntaskan kasus Rawagede secepat ini, dan tidak naik banding atau mulai macam-macam prosedur lain, tapi langsung membayar santunan itu. Tidak ada yang menyangka ini akan terjadi. Sehari sebelum vonis pengadilan saya bilang kami punya kans satu persen."

Walau demikian ada pihak yang tidak puas. Batara Hutagalung, salah satu warga Indonesia yang menggelindingkan kasus Rawagede, mengatakan Belanda masih belum resmi menerima 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia.

Hutagalung juga mengatakan bahwa Rawagede merupakan satu dari puluhan kejahatan perang dan semua kasus itu juga harus dituntaskan. Jika orang-orang seperti Hutagalung dapat menentukannya, maka Belanda bakal menerima banyak tuntutan ganti rugi.

  • Pengacara Liesbeth Zegveld<br>&copy; Foto: Michel Maas - www.ranesi.nl
  • Dubes Belanda<br>&copy; Foto: Michel Maas - www.ranesi.nl
  • Dubes Belanda bersama beberapa veteran<br>&copy; Foto: Michel Maas - www.ranesi.nl
  • Janda Rawagede<br>&copy; Foto: Michel Maas - www.ranesi.nl

Diskusi

PARTAI KOMUNIS INDONESIA, 13 Desember 2011 - 11:32pm

HIDUP PKI, HIDUP PKI, HIDUP PKI, HIDUP PKI, HIDUP KOMUNIS HIDUP KOMUNIS

Untung 12 Desember 2011 - 2:32pm / rubrik bananas

Benar benar ini negara Bananas. Ya harusnya berhati hati, kalau tidak salah melulu. Yang dibilang Jawa itu yang mana? Kalau Rawagede itu Jawa barat, sedangkan yang dimaksudkan Jawa itu Jawa Tengah. Jadi kalau Rawagede mewakili seluruh Jawa atau Indonesia, maka ini sudah tidak ada keadilannya lagikan? Lalu siapa lagi yang harus membicarakan seluruh Jawanya lagi? Kakek gua juga mati diserang Westerling dengan pasukannya di Ambarawa. lalu bagaimana ini?

mbahpur 12 Desember 2011 - 6:16pm / Indonesia

Bung Untung harus hubungi saudara Jeffry Pondaag dari yayasan KUKB dan kawan2nya juga teman2nya di KUKB/KNPMBI di Jakarta. Kalau kakek Anda dulu bukan PEMUDA PEDJOANG dan hanya rakyat jelata, Anda bisa diskusikan dengan mereka2 itu. Sebab di Temanggung juga ada kasus pembantaian 1500 manusia Jawa. hanya belum bisa diketahui, mereka ini Gerilyawan atau rakyat jelata.
Kalau Kakek mas Untung di Ambarawa dulu sebagai laskar gerilya melawan agresor Belanda, sebaiknya relakan Beliau GUGUR dengan nama harum..
JANGAN MINTA GANTI RUGI ke BELANDA.. NEVER!!...

udin 12 Desember 2011 - 7:01am / indonesia

Rawagede udah di maafkan,tapi yanglainnya gimana? Belanda udah banyak melakukan genosida di Indonesia. Westerling cs dan laimnya masih belum di seleseikan. Gimana kehormatan bangsa ini?Inikah cara pandang belanda terhadap HAM di negeri nin?

Anonymous 12 Desember 2011 - 9:40am / Indonesia Belanda

Lalu bagaimana dengan pembunuhan dan penganiayaan TNI dan POLRI oleh SBY sebagai presidentnya di Timur Yimur dan Papua dan Maluku dan Atjeh? Berapa banyak orang sekarang ini berada dalam RSU dan penjara gara gara ulahnya TNI dan POLRi itu? Maukah dilupakan saja?

mbahpur 12 Desember 2011 - 10:04am / Indonesia

ya uruslah broo kalau anda memang punya kapasitas untuk mengurusnya.
Anda tahu berapa ongkos waktu, tenaga, dana dan pikiran untuk ngurusin kasus Rawagede ini?

Anonymous 12 Desember 2011 - 9:36am / Indonesia Belanda

Lalu bagaimana dengan pembunuhan dan penganiayaan TNI dan POLRI oleh SBY sebagai presidentnya di Timur Yimur dan Papua dan Maluku dan Atjeh? Berapa banyak orang sekarang ini berada dalam RSU dan penjara gara gara ulahnya TNI dan POLRi itu? Maukah dilupakan saja?

si mata jengkol 12 Desember 2011 - 1:53am / BABAKAN TAROGONG

ah nu kos kieu nenek nenek jowo pake sendal jepit laen bahan ditayangkeun malu oy oy maluoyoy goreng patut

Pangeran Haryo Penangsang 12 Desember 2011 - 10:00am / Pajang

biasanya kalau disebut "jowo" itu artinya jowo tengah. tapi Rawagede ada di jowo borot. saudaramu juga dari sundo yang artinya kalau di sun kondo kondo.

Anonymous 11 Desember 2011 - 9:49pm / Indonesia

SBY sekarang lagi sakit kepala karena apabila uang ganti rugi kepada Rawagede itu, tidak melalui Bank Negara, maka sulit sekali bagi pemerintah mengontrolnya. Ini satu kejutan bagi Bina Grha. Karena Rawagede bisa menjadi kawasan Lasvegas ke 2. Semua penduduk mempunyai uang Ero dari Belanda. Bagaimana nantinya dengan rupiah lagi? Ini benar benar suatu kejutan bagi para pelancong KKN dinegara kita ini. Awas lo, jangan sampai uangnya melancong ketangan mr. KKN di Jakarta duluan. Kalau via mr. KKN maka Rawagede pasti menjadi rawa yang paling gede.

Anonymous 11 Desember 2011 - 10:47pm

Dulu Indonesia dipuja puji bangsa, sekarang malah disikat oleh bangsa. Disikat president, disikat semua anggota parlement, disikat TNI, disikat POLRI disikat para anggota kementirian, tidak adalagi puji puja bangsa. mala dihina semua bangsa. KKN, Penipuan, Maling, neopotisme, radikal dalam semua kalangan, tipu menipu dan tindak menindak dan menganiaya rakyat. Merampas hak orang semaunya. dimanak pujaan bangsa itu? Semuanya telah hilang ditelan para penguasa negeri ini.

Batara R. Hutagalung 11 Desember 2011 - 12:37pm / Indonesia

'RAWAGEDE. PERJUANGAN KNPMBI DAN KUKB', lihat:
http://batarahutagalung.blogspot.com/2011/11/rawagede-perjuangan-knpmbi-...

'RAWAGEDE: BELANDA MENYESAL SAJA TIDAK CUKUP. HARUS MINTA MAAF!', lihat:
http://batarahutagalung.blogspot.com/2011/12/rawagede-belanda-menyesal-s...

Batara R. Hutagalung

Lucky martinus Wiesanto 11 Desember 2011 - 3:25am / Indonesia

KL dan KNIL serta ABRI adalah kecepot

Anonymous 10 Desember 2011 - 10:10pm / Indonesia Belanda

Kayaknya sejarah Indonesia ini, tidak ada yang benar ya. Kalau membaca keterangan Ibrahim Isa dibawa ini, maka ada sedikit kejanggalan ceritra dan fakta tentang kemerdekaan Indonesia. Mana yang benar, 17 Agustus 1945 atau 29 Desember 1949? Ini sejarah sudah mulai diputarbalikan oleh orang orang yang main putusan sendiri. Kalau Rawagede menang perkaranya, maka itu adalah keputusan hakim di Deh Haag Belanda. Kalau Indonesia mendapatkan kemerdekaannya itu atas keputusan siapa? Ataukah tidak perlu dengan keputusan siapapun. Ini mana yang benar, aku orangnya yang selalu menentang itu bung yang selalu katakan ilegal dan kriminal internatuional terhadap Indonesia, tapi sekarang ini, mana lagi ada kebenarannya bagi Indonesia itu? terserah saja kalau bung anonymus membaca keterangan ini, terserah, tapi aku mau bicara tentang kebenaran dan bukan bohong bohong. Cobalah berikan penjelasan yang baiklah Ibrahim, terimakasih.

republik bananas 10 Desember 2011 - 6:16am / mars

katanya di indonesia banyak pisang?

Anonymous 10 Desember 2011 - 12:56am / indonesia

Mengharap pemerintahan SBY bersikap sama terhadap korban kekerasan negara pada para akrtifis mei 1998 seperti berharap seekor belut akan tumbuh bulu ..

Anonymous 10 Desember 2011 - 1:05am / indonesia

Jangan terlalu berharap pada hal yang mustahil dilakukan oleh pemimpin yang di sandera oleh para MAFIA Bung,..dia sudah tak punya nyali lagi,..

Ibrahim Isa 9 Desember 2011 - 6:53pm / Nederland

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 05 Desember 2011
-----------------------

LANGKAH BESAR DAN SIGNIFIKAN DLM PERBAIKAN HUBUNGAN INDONESIA-BELANDA

Hari ini kita baca di situs BBC, 05 Desember 2011, bahwa pemerintah
Belanda akan secara resmi menyampaikan permintaan maaf atas pembantaian
ratusan warga Indonesia di Rawagede pada masa agresi ke-2 Belanda atas
Republik Indonesia, 1947. Hal ini dinyatakan kepada pers oleh jubir
Kemlu Belanda, Aad Meijer, ( AFP, 5-12-2011). Dikatakan oleh Aad Meijer,
bahwa,

"Duta Besar Belanda untuk Indonesia pada Jumat 9 Desember akan meminta
maaf atasnama pemerintah Belanda atas apa yang telah terjadi" .

Menurut fihak kita, Indonesia, jumlah yang dibantai oleh tentara
Belanda, berjumlah 431 orang. Belanda menyebut angka kurang dari
separuhnya. Pebedaan angka ini dengan sendirinya setelah fihak Indnesia
bisa menunjukkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kuat, akan bisa
terselesaikan.

Yang teramat penting dari sikap pemerintah Belanda tsb yang akan minta
maaf dan memberikan ganti rugi atas korban yang ditimbulkannya dari
agresi militernya terhadap Republik Indonesia, ialah:

Di satu fihak sikap Belanda ini merupakan langkah besar dan signifikan
dalam normalisasi dan perbaikan hubungan Indonesia-Belanda, sejak
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Selanjutnya yang kita nantikan adalah PENGAKUAN RESMI PEMERINTAH
BELANDA, bahwa Republik Indonesia, dengan siapa pemerintah Belanda
mengadakan hubungan diplomatik, adalah sebuah NEGARA MERDEKA YANG
BERDIRI SEJAK Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Dengan
sendirinya, fihak Belanda juga harus mengakui bahwa dua kali agresi
Belanda terhadap Republik Indonesia, yang mereka namakan ´aksi
kepolisian´ itu, setelah tercapainya Persetujuan Linggarjati antara
Republik Indonesia dengan Kerajaan belanda, tahun1946, dan tahun 1947,
setelah tercapainya Persetujuan Renville, 1947, antara Republik
Indonesia dan Kerajaan Belanda.--- *adalah suatu perang agresi yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dikemukakan dalam Piagam PBB.

Dengan demikian, ´hutang Hindia Belanda´ kepada Den Haag yang harus
dibayar oleh Indonesia setelah Persetujuan Konferensi Meja Bundar, harus
dikembalikan kepada Republik Indonesia. Bersamaan dengan itu pemerintah
Belanda, harus siap-siap membayar PAMPASAN PERANG kepada Republik
Indonesia, sebagai akibat perang agresi yang dilancarkannya terhadap
Republik Indonesia. Bila ini terlaksana, baru bisa dikatakan sengketa
Indonesia-Belanda sekitar kemerdekaan Indonesia bisa diakhiri.

Demikianlah bila keadilan dan kebenaran hendak benar- benar ditegakkan
dan dikembangkan dalam hubungan Indonesia -- Belanda.

* * *

Disampaikan pula bahwa Duta Besar Belanda untuk Indonesia akan berpidato
pada acara peringatan pembantaian pada 9 Desember di Rawagede yang kini
dikenal sebagai Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat. Pemerintah
Belanda sebelumnya pernah menyampaikan penyesalan atas pembunuhan warga
di Rawagede tetapi belum pernah menyampaikan permintaan maaf secara resmi.

Liesbeth Zegveld, pengacara keluarga korban pembantaian mengatakan
pihaknya menyambut permintaan maaf pemerintah Belanda. Ditambahkannya,
bahwa, pemerintah Belanda juga akan memberikan ganti rugi sebesar 20.000
euro atau sekitar Rp243 juta per keluarga korban yang mengajukan
gugatan. Liesbeth Zegveld menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa,

"Peristiwa yang terjadi 64 tahun lalu dan terdapat putusan tegas dari
pengadilan. Keluarga korban sangat senang karena pemerintah Belanda
tidak akan mengajukan banding dan akan meminta maaf," kata Zegveld.

* * *

Apa yang dikemukakan diatas tentang kewajiban pemerintah Belanda yang
dengan resmi harus mengakui HARI KEMERDEKAAN INDONESIA, dan dengan itu;
mengakui dua kali agresi Belanda terhadap Republik Indonesia; serta
mengembalikan uang pembayaran Indonesia kepada Belanda (Sejumlah
1.130.000.000, dolar AS, yang sudah dilunasi Indonesia pada Belanda)
menyusul Persetujuan KMB; serta PEMBAYARAN PAMPASAN PERANG BELANDA
kepada Indonesia, -- *adalah serentetan masalah antara Indonesia dan
Belanda yang masih menggantung. YANG BELUM SELESAI.

Namun, kita tidak menutup mata atas kemauan baik pemerintah Belanda
dengan sikapnya belakangan ini yang , DENGAN RESMI HENDAK MINTA MAAF
SEKITAR KASUS RAWAGEDEk dan kesediaannya untuk membayar ganti rugi atas
tindakannya di Rawagede. Sikap pemerintah Belanda itu betapapun HARUS
DISAMBUT.

Bahkan, fihak pemerintah Indonesia patut menarik pelajaran dari sikap
Belanda tsb. Bahwa pemerintah Rutte/Verhage yang sekarang ini, meskipun
tak ada keterlibatan langsung dengan PERISTIWA PEMBANTAIAN RAWAGEDE ---
namun, telah mengambil oper tanggungjawab pemerintah yang lalu, yang
telah melakukan pelanggaran kemanusiaan terhadap rakyat Indonesia.

/Pemerintah Presiden SBY, juga seyogianya berteladan dari sikap
pemerintah Belanda sehubungan dengan tindakan pelanggaran HAM yang
dilakukan pemerintah Belanda lebih 60 tahun yang lalu. Yaitu mengakui
pelanggaran tsb, minta maaf, dan membayar ganti rugi.

Pemerintah SBY juga bisa dan harus berani mengambil oper tanggungjawab
atas pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah Orba, yaitu melakukan
kesalahan pelanggaran HAM terbesar, dengan pembantaian masal,
pemenjaraan, penghilangan dan pembuangan ke P, Buru. Pemerintah SBY
harus berani turun tangan menangani kasus pembantaian dan pelanggaran
HAM lainnya sejak berdirinya rezim Orba, serta merehabilitasi jutaan ara
korban dan memberikan pembayaran ganti rugi yang layak.

ITULAH PELAYARAN YANG HARUS DAN BISA DITARIK OLEH PEMERINTAH SBY DARI
SIKAP BELANDA MENGENAI KASUS RAWAGEDE!

* * *

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...