Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Prita Riadhini
Map
Yogyakarta, Belanda
Yogyakarta, Belanda

Belanda Tak Cukup Luas Bagi Mas Paul

Diterbitkan : 30 Oktober 2010 - 7:51pm | Oleh Prita Riadhini (Foto: www.maspaul.com)
Diarsip dalam:

Nama panggilannya mas Paul. Paul Elbers, dilahirkan di Hilvarenbeek, Belanda, 53 tahun lalu. Rela meninggalkan tanah kelahirannya, berkelana, mengeksplorasi musik dan melebarkan sayap. Mas Paul menemukan kedamaian di Yogyakarta. Hidup terus mengalir, biarkanlah sesuatu berjalan seperti apa adanya. 

Seluruh hidup Paul Elbers diabdikan untuk musik. Sejak jaman duduk di sekolah dasar Paul kecil sudah mulai membuat lagu sendiri. Ia biasa menciptakan lagu. Hampir semua aliran musik diminati oleh Paul Elbers saat itu, dari klasik, hingga musik gereja dan musik pop. 

Paul Elbers sempat juga bergabung dengan kelompok musik di Belanda di antaranya dengan band yang musik rakyat. Dalam musik itu terdapat pula campuran-campuran musik dari wilayah lain dan hal itulah yang memperkenalkan Paul Elbers dengan musik Turki, dan Hongaria. Belanda ternyata tidak cukup bagi Paul Elbers untuk berkreasi.

Tahun 1989 ia pindah ke Yogyakarta, mencari tantangan baru. Karyanya terus mengalir, tercipta berdasarkan kata hati. Tidak ada kesengajaan mencampurkan musik barat dan musik timur.

"Untuk saya tidak ada musik barat atau timur. Yang membedakan siapa? Di sini yang main musik pop banyak, yang main gamelan di luar negeri juga lumayan banyak. Dan itu tersebar dimana saja di Amerika, Inggris, Belanda dan Jerman misalnya. Jaman sekarang ya sudah wajar."

Musik Saya
Mas Paul menambahkan ia tidak sengaja memadukan musik barat dan timur. "Ya ketemu jadi otomatis dari hati sendiri. Bukan direncanakan, wah saya sekarang mau campur barat sama timur. Tidak begitu. Saya sendiri bingung...bikin musik apa? Ya musik saya lah"

Paul Elbers tidak menghiraukan bagaimana sambutan atas karya-karyanya.  Yang lebih penting adalah dia bisa berkreasi sebebasnya. Memang ada apresiasi terhadap karyanya. Contohya pengunjung situsnya  www.maspaul.com  sekarang sudah mencapai angka seribu setiap bulannya. Upayanya menjadi terkenal di Yogyakarta juga dilakukan dengan main konser piano di hadapan keluarga pencita musik Indonesia yang sering menggelar konser sekali setahun.

"Sama teman-teman yang main klasik. Saya selalu main karya saya sendiri." Mas Paul tak jera untuk terus mengeskplorasi dan terus menggali semua jenis musik. Namun seperti dikatakannya perkembangan musik tradisional Indonesia mengalami hambatan antara lain karena soal dana.

Hambatan Dana
Mengembangkan musik tradisional di Indonesia merupakan tugas yang berat. Yang kurang di Indonesia bagi para pemusik tradisional adala fasilitasnya. Hal itu terjadi karena tidak ada dana. "Untuk kelompok tradisional tidak ada duit, dan begitu juga kelompok klasik. Yang sukses sebenarnya hanya musik pop saja.''

Karya-karya mas Paul yang sudah muncul antara lain berupa album Xpression, Impression, Mas Paul Song for you. Namun seperti dikatakan mas Paul. susah untuk menyumbangkan sesuatu untuk perkembangan musik tradisional di Indonesia. "Saya tetap orang asing di Indonesia. dengan limitasi dan batasannya."

Untuk masa depan sebaiknya para pemusik Indonesia harus lebih berani  menampilkan dan mengeksplorasi musik tradisional Indonesia dan membawanya ke pentas dunia.

Dengarkan wawancara lengkap dengan mas Paul:
 

Diskusi

Berno Beding 17 November 2011 - 9:47am / Indonesia

Musik itu penting buat Kehidupan....

Sebagai karya seni, musik pada hakikatnya tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Adalah hal yang sangat keliru bila keberadaan musik hendak dipisahkan dari bidang-bidang kehidupan manusia lainnya. Bahkan diyakini bahwa musik memiliki kekuatan yang dapat berpengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan manusia. Begitu pula musik sebagai bagian dari kebudayaan keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang hidup di masyarakat bersangkutan.

Sebagaimana dikemukakan oleh banyak tokoh pemikir kebudayaan, bahwa dunia kesenian – temasuk seni musik di dalamnya – merupakan bagian dari kebudayaan yang tak terpisahkan dari peradaban manusia, masyarakat atau suatu bangsa. Bahkan indikasi tinggi-rendahnya peradaban suatu masyarakat atau sebuah bangsa dapat ditelusuri dari nilai-nilai terkandung didalamnya, termasuk dari watak-watak karya keseniannya. Karena pada dasarnya karya seni (musik) merupakan refleksi perasaan, pikiran, atau cerminan realitas sosial dari nilai-nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat tersebut. Melalui musik ini pula kita dapat belajar tata nilai baik sosial-budaya, moralitas, spiritual, religius, maupun interaksi antarmanusia dalam kehidupan suatu masyarakat, bangsa atau negara.

Selanjutnya bagaimana mengintegrasikan peran dan fungsi musik dalam kehidupan di dalam kegiatan besar manusia bernama kebudayaan dan bidang-bidang kehidupan lainnya, seperti sikap dan nilai hidup, moralitas, intelektualitas, edukasi, bahkan dalam kehidupan politik.

Jadi, sebegitu pentingkah musik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Sejauhmana pengaruh musik membentuk karakter bangsa dalam kehidupan bernegara? Masih relevankah pertanyaan ini dilontarkan untuk mempertegas kembali komitmen tanggungjawab para seniman musik di tengah pengaruh kekuatan ideologis global?

Menurut filsuf Plato asal Athena – Yunani (427 – 347 SM), bahwa musik mempunyai peran cukup kuat dalam kehidupan negara. Dalam bukunya yang sangat terkenal yakni Republik, filsuf yang banyak memberi sumbangan pemikiran di bidang filsafat, etika, estetika dan kenegaraan ini juga menyinggung tentang pentingnya peran musik dalam kehidupan. Termasuk didalamnya bahwa musik memiliki pengaruh cukup kuat di bidang politik. Musik bisa untuk kekuatan, kebaikan maupun kejahatan. Bahkan disebutkan kejayaan atau keruntuhan suatu negara dapat disebabkan musik.

Benarkah kejayaan atau keruntuhan suatu negara dapat disebabkan karena musik, seperti dinyatakan Plato? Meski pendapatnya ini terbilang ekstrem, tapi setidaknya terminologi ini didasarkan bahwa keberadaan musik dalam suatu masyarakat merupakan pencerminan dari watak, karakter, moralitas dari masyarakat atau bangsa tersebut. Tinggal bagaimana eksistensi akan kehadiran musik ditempatkan di tengah kehidupan masyarakat.

Bahkan menurut Plato, masyarakat yang memandang musik hanya sebagai hiburan melulu, musik hanya sebagai alat bersenang-senang, serta musik hanya sebagai media umtuk mabuk-mabukan, masyarakat tersebut pastilah masyarakat bermoral rendah. Plato menempatkan musik tidak semata-mata sebagai hiburan, tapi bagaimana musik yang mampu menyentuh perasaan ini mengandung pedoman-pedoman atau arahan-arahan yang tertuang di syair ataupun puisi-puisi yang diungkapkan dalam narasi nyanyian.

Plato juga menekankan perlunya pendidikan musik bukan saja diajarkan sejak dini mulai usia anak-anak, juga diperkenalkan bagi calon penguasa atau para taruna sehingga mereka menjadi orang-orang yang tahu mencintai keindahan. Karena menurutnya, musik memiliki daya magis bagi warganegara yang dapat membangkitkan semangat juang dan mendorong keberanian, serta mengilhami perbuatan gagah berani dan kebaikan. Sifat hiburan dari musik merupakan pelengkap akal sehat yang berguna untuk menempatkan manusia di jalan benar. Plato sangat menentang terhadap orang-orang memainkan musik yang dapat merusak moral. Bukan cuma itu, musik juga menanamkan jiwa manusia perasaan halus, budi yang halus sebagai landasan yang sangat baik untuk menghidupkan rasa keadilan. Tetapi sebagai media pendidikan musik harus dijauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa serta mudah menimbulkan hasrat nafsu buruk.

Pentingnya musik bagi nilai kehidupan ini juga tak luput dari perhatian Muhammad Iqbal, filsuf dan sastrawan asal Pakistan, yang banyak memberi sumbangan pemikiran kebudayaan dalam dunia Islam. Munurut Iqbal, musik bagian dari karya seni tidak mempunyai arti tanpa pertaliannya dengan hidup, manusia dan masyarakat. Tujuan seni adalah hidup itu sendiri. Oleh karena itu seni harus menciptakan kerinduan kepada hidup yang sublim. Bait-bait yang ada di lagu harus membawakan pesan tentang kehidupan abadi meneruskan tujuan Tuhan, seperti kata-kata Malaikat Jibril dan suaranya yang mengumumkan Hari Pembalasan.

Seperti setiapkali memanjatkan doa tahlil selalu disebutkan bahwa seniman tak bedanya ulama adalah orang-orang yang diridhoi dan mendapat anugerah nikmat untuk mengamalkan, mewartakan ilmunya ke jalan yang benar, demi kebaikan dan kebajikan umat manusia, bukan kesesatan. Jadi di sini menunjukkan bahwa peran dan tanggungjawab seniman tak bedanya dengan ulama, pewarta kabar bagi kebajikan umat manusia.

Menurut Iqbal, musik tak bedanya dengan puisi. Musik memelihara ladang kehidupan agar tetap menghijau dan memberi petunjuk kehidupan abadi kepada kemanusiaan. Seni adalah sarana yang berharga bagi prestasi kehidupan dan pembinaan martabat manusia. Bahkan keberadaan seni ditempatkan sebagai nurani terdalam bangsa. Di sini posisi seniman memiliki kekuatan sangatlah besar yang dapat mengangkat derajat bangsanya, dan mengantarkan ke arah kebesaran demi kebesaran yang lebih tinggi. Untuk itu, seorang seniman seharusnya menjadi pelopor suatu fajar kebangkitan, dan menjadi rahmat bagi kemanusiaan.

Dari yang diurai kedua filsuf tersebut setidaknya menunjukkan bahwa kehadiran musik memberi peran dan pengaruh cukup kuat dalam kehidupan manusia, masyarakat dan bangsa. Musik yang didalamnya mengandung bait-bait keindahan dan keselarasan harmoni haruslah mengutamakan pesan kebajikan dan mengajarkan kearifan-kearifan pada hidup manusia. Di sini sebagai refleksi seni, musik juga tak luput dari pemahaman-pemahaman yang menyangkut ungkapan perasaan, alam pikiran dan kesadaran manusia akan realitas sosial dan nilai-nilai kehidupan.

Jadi dalam berkarya, seorang seniman sudah seyogjanya tidak hanya menuangkan kebebasannya dalam berekspresi semata, tapi juga bagaimana mampu membangkitkan kesadaran akan nilai humanisme (kemanusiaan) dengan cara memahami realitas sosialnya, sekaligus bagaimana memberi makna pada kehidupan. Tahapan pendewasaan dalam menyerap dan memahami karya seni yang berpijak pada realitas sosial inilah yang akan membawa manusia pada transformasi kesadaran, yang pada akhirnya berkembang sebagai sebuah gerak dialektika.

Martin S 2 November 2010 - 8:25am / Indonesia

Musik bahasa universal, memadukan aliran musik barat dan timur agar tercipta, karya dan karsah. Untuk menjalin hubungan persahabatan antara barat dan timur saling menghargai dan menghormati. Kalau budaya Jogyakarta (Jawa) menyebut dengan Ngalor - Kidul, tapi mas Paul dari Belanda menyebutnya Barat - Timur. Beda istilah tapi tak masalah, namanya juga melebarkan sayap seperti gurita piala dunia. Selamat berkarya dan berprestasi. H O R A S

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET