Ribuan warga Belanda tahun lalu bergabung dalam aksi “Merajut bagi India”. Aksi ini diselenggarakan organisasi bantuan Save the Children, cabang Belanda. Sebanyak 200 ribu topi bayi dikirim ke India pertengahan tahun lalu.
India kini sudah masuk musim dingin. Di ibukota Delhi, tempat kebanyakan topi dibagikan, suhu udara bisa turun hingga di bawah 0 derajat Celsius. Di beberapa pemukiman kumuh, bayi-bayi mengenakan topi berwarna-warni buatan Belanda.
Infeksi paru-paru
“Kami sangat senang diberi topi,” kata Indu Bala, perempuan sebaya yang tinggal di pemukiman Adarsh Nagar, Delhi barat laut. Bersama sekelompok ibu muda ia mendatangi organisasi bantuan lokal untuk belajar bagaimana bisa melindungi bayi dari infeksi paru-paru.
Kebanyakan perempuan melilitkan syal rajutan di atas pakaian musim panas yang tipis. Beberapa bayi mengenakan topi rajutan bewarna-warni.
“Untuk kali berikut, kami juga ingin mempunyai topi untuk kami sendiri dan anak-anak yang lebih tua,” kata Bala. Kebanyakan anak yang lebih tua tidak bertopi. Tapi ketika para perempuan mendengar mereka dikunjungi seorang tamu dari negara pengirim topi, anak-anak itu pun segera dipakaikan penutup kepala.
Terharu
Lucu sekali melihat anak-anak India bertopi berwarna-warni. Pembuat topi dari Belanda pasti akan terharu melihat bagaimana hasil karyanya digunakan dalam praktek. Walaupun demikian, topi-topi ini tidak menyumbang peran penting pada kesehatan anak-anak, kata Bala.
“Kami tahu bahwa penting untuk menjaga agar bayi tetap hangat. Kami biasanya membeli sendiri topi di musim dingin.”
Banyak anak yang tidak kebagian topi Belanda, mengenakan topi yang dibeli di pasar lokal, atau syal rajutan. Sabine Copinga dari Save the Children mengakui, aksi “Merajut untuk India” tidak memicu “revolusi topi”.
Klinik berjalan
Tapi, katanya, secara tidak langsung, aksi itu membantu kegiatan organisasi bantuan. Dengan klinik berjalan, Save the Children mengunjungi pemukiman-pemukiman kumuh untuk merawat ibu hamil, ibu muda dan anak-anak. Topi-topi buatan Belanda dibagikan dalam kesempatan itu.
“Perempuan yang awalnya enggan mendatangi klinik, akhirnya toh mendaftarkan diri dan melakukan pemeriksaan dengan harapan bisa kebagian hadiah topi,” kata Copinga, yang ikut aksi pembagian di Delhi.
“Jadi aksi ini sebenarnya membantu menghilangkan kendala-kendala yang ada bagi perempuan yang tidak terbiasa mendapatkan pelayanan medis. Diharapkan, setelah itu, mereka akan lebih mudah meminta pelayanan kesehatan reguler.”
Merawat bayi
Lakshmi Devi (24) adalah seorang ibu. Ia banyak belajar di klinik, katanya: “Saya misalnya belajar tentang makanan, apa yang harus dimakan dan diminum bayi saya, bagaimana harus menyiapkannya, kapan harus menyusui bayi dan bagaimana saya harus merawat bayi saya.”
Topi berwarna coklat-merah, hadiah Save the Children untuk putrinya, Aryan, kelihatan tidak terpakai. Tapi ketika mau difoto, Lakshmi dengan cepat menutupi kepala anaknya dengan topi. “Dia keras kepala dan lebih suka bermain tanpa sesuatu di kepalanya,” kata Lakshmi sambil tertawa.
Lakhsmi menjamin: “Pagi hari dan pada malam-malam yang dingin Aryan selalu memakai topi.”
Nilai tambah
Dipertanyakan apa sebenarnya nilai tambah topi-topi buatan Belanda. Para kritisi mengatakan Save the Children seharusnya membeli topi itu di India saja. Nilai tambah aksi ini, menurut Sabine Copinga, terutama berlaku bagi perajut Belanda.
“Tentu, kami juga bisa meminta orang menyumbang tiga euro untuk topi. Tapi itu bisa dilakukan dalam tiga menit. Merajut topi membutuhkan waktu sedikitnya satu jam. Kami ingin benar-benar melibatkan orang-orang di Belanda dan menyadarkan mereka apa yang terjadi di India. Kami tetap menerima email berbunyi: 'Kalian sudah tahu ke mana topi yang saya buat?' Jadi aksi ini membawa dampak.”






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.