Sepak bola lebih dari sekedar permainan bola, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) juga tahu. FIFA memusatkan perhatian pada program pengembangan untuk generasi muda.
Toh warga Belanda Willem Grimminck berharap lebih banyak perhatian dicurahkan bagi pemain muda Asia. Terutama yang perempuan. Beberapa bulan mendatang dia akan bermain bola keliling Asia. Dia ingin memancing perhatian FIFA dalam rangka Piala Dunia 2010.
"Indah rasanya menyaksikan sebuah tim baru memilih kapten dan bagaimana si kapten menjalankan peran itu. Anda melihat kepercayaan diri bertumbuh. Sepak bola dan pembentukan tim yang termasuk di dalamnya, membuat gadis-gadis muda sadar mereka punya bakat. Dengan ini mereka bisa dimotivasi untuk mengembangkan bakat."
Willem Grimminck bercerita soal pekerjaannya dengan semangat. Setahun yang lalu dia mulai menggunakan sepak bola sebagai instrumen untuk pekerjaannya di ATSEC, sebuah organisasi yang berjuang memberantas perdagangan manusia. Pekerjaan ini dimulai di pedesaan negara bagian Jharkhand, India. Apa yang tadinya berawal sebagai sejumlah pertandingan, saat ini berkembang menjadi sebuah klub dengan empat tim perempuan dan dua tim pria. Selain itu, klub juga jadi ajang diskusi dan batu loncatan untuk masa depan yang lebih baik.
Pertandingan Sepak Bola
Untuk mempromosikan pemanfaatan sepak bola dalam proyek-proyek pembangunan di Asia, tidak lama lagi Grimminck akan berangkat dari India ke Zurich, Swiss, di mana FIFA berkantor. Turut menemani seorang warga Amerika Franz Gastler, yang mendirikan organisasi Yuwa di Jharkhand. Dalam perjalanan, mereka akan menyelenggarakan pertandingan sepak bola untuk pemuda setempat di 20 lokasi di India, Nepal dan Pakistan.
Keduanya mengadakan penelitian tahun lalu tentang keuntungan sepak bola bagi pembangunan. Berkat klub Yuma, sejumlah pemuda mendapat beasiswa Akademi Sport India. Mereka mendapat pendidikan dan latihan sepak bola gratis. Selain itu, olah raga juga membantu kaum muda secara tidak langsung.
"Terutama untuk perempuan, sangat penting untuk bisa mendiskusikan posisi mereka yang lebih rendah di masyarakat," demikian Grimminck. "Sepak bola menyatukan mereka dan menyediakan mimbar untuk bicara. Ini memberi kesempatan untuk saling menyemangati satu sama lain untuk misalnya bersekolah atau bekerja. Juga sering ada konfrontasi dengan keluarga. Mereka tidak bisa menghadapinya sendirian, tapi bersama-sama."
Perdagangan Manusia
Di banyak tempat di India, tidak semua orangtua mendorong anak gadisnya untuk mempelajari sebuah keahlian atau bekerja. Seringkali keluarga lebih baik kehilangan anak gadisnya ketimbang uang. "Di pedesaan Jharkhand masih berlaku pemikiran bahwa perempuan tidak ada nilainya," kata Grimminck. "Ini menyebabkan banyak anak gadis jadi korban perdagangan manusia. Kelompok ini membeli anak-anak gadis dari anggota keluarga untuk kemudian menjual mereka ke pabrik atau rumah bordil. Selama ketimpangan posisi masih ada, sangat susah untuk memberantas perdagangan manusia."
Jharkhand adalah salah satu sumber terbesar perdagangan manusia di Asia. Setiap tahun 30 ribu gadis menghilang dari Jharkhand. Dengan sepak bola saja, mereka tidak bisa tertolong, demikian Grimminck. "Harus dikombinasi dengan sekolah atau proyek lain." Grimminck sendiri aktif mengadakan program rehabilitasi untuk mereka yang berhasil kabur dari perdagangan manusia. Program dimulai satu setengah tahun lalu. Rehabilitasi dilangsungkan dengan pemberian pelatihan dan pencarian pekerjaan. Saat ini sudah ada 60 gadis yang bekerja sebagai pembersih kamar di hotel bintang lima atau sebagai keamanan di perusahaan atau acara-acara.
Sepak Bola Harapan
"Kami bukan mau sesumbar bahwa kami yang menemukan roda," kata Grimminck. "Inisiatif olah raga di negara-negara berkembang lebih dari cukup, hanya saja perhatian untuk Asia sangat terbatas. Juga dari FIFA, pemrakarsa utama penggunaan sepak bola sebagai alat pembangunan. Dalam rangka Piala Dunia 2010, FIFA mendirikan program 'Football for Hope' (Sepak Bola Harapan) terutama di Afrika dan Amerika Selatan. Masuk akal, karena dua wilayah tersebut adalah wilayah sepak bola besar, tapi di Asia, sepak bola juga bisa berbuat banyak."
Untuk meyakinkan FIFA, Grimminck akan memaparkan laporan perjalanannya di Zurich awal Februari mendatang. Setelah itu dia akan pindah ke Nepal. Di sana dia akan tetap bekerja memberantas perdagangan manusia. Di Nepal hal tersebut juga merupakan masalah besar dan Grimminck juga akan menggunakan sepak bola dalam upayanya. "Pada akhirnya kita ingin mencapai keadaan di mana sepak bola lebih menyatu dalam proyek-proyek pembangunan di seluruh Asia. Oleh karena itu kita mengarahkan kampanye kepada FIFA. Jika mereka ikut, yang lain juga akan ikut."
Ikuti perjalanan Grimminck di www.yuwa-india.org

























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.