Situasi di Suriah semakin menjadi-jadi. Makin banyak negara, termasuk Belanda, memanggil pulang duta besarnya dari ibukota Suriah, Damaskus.
Rezim Suriah sudah berbulan-bulan menggunakan kekerasan terhadap pemberontak di negeri tersebut. Terutama kota Homs sudah beberapa hari menjadi sasaran penembakan. Puluhan warga tewas dalam pemboman yang dilakukan pasukan Presiden Bashar al-Assad.
Pembunuhan massal
Senin (06/02) Amerika Serikat memutuskan menutup kedutaan besarnya di Suriah dengan alasan keamanan. Duta besar dipanggil pulang ke Washington. Setelah itu antara lain Inggris, Prancis, Italia dan Spanyol memutuskan memanggil pulang duta besarnya.
Juga enam negara Teluk melakukan hal yang sama, karena memprotes “pembunuhan massal terhadap warga Suriah”.
Belanda bergabung dalam aksi diplomatik internasional itu Selasa (07/02). “Saya memutuskan memanggil pulang dubes Belanda di Damaskus ke Den Haag untuk berkonsultasi. Dan saya juga menegur duta besar Suriah di Belanda.” Demikian Menlu Belanda Uri Rosenthal.
Langkah simbolis
Rosenthal menganggap tindakan ini sebagai upaya untuk “menjepit rezim Assad dengan segala cara”. Kedutaan Besar Belanda tetap buka, antara lain untuk tetap membuka jalur komunikasi dengan oposisi maupun warga Belanda yang masih berada di Suriah.
Koos van Dam adalah mantan duta besar Belanda di antara antara lain Irak, Mesir dan Indonesia. Ia juga penulis buku tentang Suriah. Menurut Van Dam, langkah Rosenthal adalah langkah politik simbolis yang sebenarnya tidak banyak mengubah situasi di Suriah.
“Penarikan para duta besar itu tidak akan mempercepat berakhirnya kekerasan, reformasi politik dan lengsernya rezim. Di sisi lain bisa dikatakan: duta besar berperan sebagai semacam penghubung dengan pemerintah. Jadi jika masih ingin berhubungan dengan rezim, maka sangat penting bahwa komunikasi tetap jalan. Namun Belanda telah memutuskan untuk tidak melakukan itu.”
Dialog
Mantan dubes menganggap penting untuk berdialog. Tapi negara-negara Barat telah membuang kesempatan untuk itu, antara lain dengan mencari kontak dengan oposisi Suriah. Karena itu, Van Dam berharap Rusia bisa mengubah pikiran rezim Suriah.
Rusia sekutu lama Suriah. Menlu Rusia Sergej Lavrov Selasa (07/02) bertemu Presiden Suriah, Bashar al-Assad, di Damaskus.
Perang saudara
“Mengakhiri kekerasan adalah harapan terakhir mereka untuk mencapai perdamaian,” kata Van Dam. “Masalahnya adalah bahwa oposisi Suriah - bukan demonstran damai melainkan ormas bersenjata - pada gilirannya tidak mau menghentikan kekerasan. Itu mempersulit semuanya. Negeri tersebut lebih mudah terjerumus ke dalam perang saudara yang tidak menguntungkan siapa-siapa.”
Dalam perang semacam itu, beberapa kelompok bisa saling berhadapan, misalnya kelompok Suni-Alawit. “Itu berdampak destruktif.”
Menurut Van Dam penting meyakinkan kelompok Alawit yang mendukung rezim Assad, mereka tidak terancam bahaya jika reformasi dilaksanakan. Namun, demikian Van Dam, sudah dapat dipastikan reformasi demokratis akan berakhir dalam lengsernya rezim yang sekarang.
“Karena itu mereka menolaknya.”





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.