Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Kamis 23 Mei  
sistem pendeteksi porno anak-anak
Avatar Willemien Groot
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Belanda Menguji Sistem Pendeteksi Porno Anak-Anak

Diterbitkan : 25 April 2012 - 9:58am | Oleh Willemien Groot (Foto: Microsoft)
Diarsip dalam:

Institut Forensik Belanda (NFI) dan perusahaan peranti lunak raksasa Microsoft mengembangkan sistem yang bisa cepat mendeteksi porno anak-anak. Tim peneliti seringkali harus memeriksa sejumlah besar data dan foto untuk dapat memulai kasus pidana terhadap pihak pedagang. Ini tidak hanya menyita banyak waktu, tapi juga membebankan secara mental. Lagipula, jumlah data bertambah setiap tahunnya.

Program PhotoDNA dikembangkan tahun 2009 oleh Microsoft dalam kerja sama dengan Dartmouth College di Amerika, khusus untuk membantu memerangi porno anak-anak. Program ini antara lain dipakai mesin pencari Bing, provider email Hotmail dan sejak setahun juga oleh Facebook.

Mereka membandingkan foto yang diupload oleh pengguna dan menyebarkannya bersama dengan database Child Victim Identification Program dari Amerika. Peranti lunak ini bisa dipakai secara cuma-cuma, karena Microsoft berharap bakal diterapkan secara global.

Kode unik
Program tersebut mengubah gambar berwarna menjadi gambar dengan skala abu-abu, dengan di atasnya sebuah raster yang terdiri dari 12 kali 12 kotak. Setiap kotak diberi kode tersendiri yang unik. Dengan demikian, sebuah gambar, juga setelah di-edit secara digital, dapat dikenali oleh PhotoDNA.

Program ini bahkan bisa mengenali gambar yang diperkecil, diperbesar atau bagian dari gambar tersebut. PhotoDNA bisa dengan cepat melacak gambar yang sama di antara pelbagai koleksi foto.

Namun yang lebih penting adalah bahwa program bisa mencocokkan gambar yang tak dikenal pada rangkaian foto yang dikenal. “Ini terutama penting dalam tahap pelacakan,” kata erwin van Eijk, peneliti pada Institut Forensik Belanda.

Ini menghemat waktu dan sangat penting dalam upaya menggulung jaringan pedofilia. Rangkaian foto atau hanya satu foto saja, sudah bisa menggabungkan pembuat dengan pembeli.

Cepat
Tahun lalu, Institut Forensik Belanda mendatangi Microsoft untuk melakukan penelitian bersama di pasar Belanda dengan menggunakan database porno anak-anak Belanda. Institut ini adalah satu-satunya lembaga pemerintah di dunia yang diperbolehkan menggunakan PhotoDNA dalam kombinasi dengan software-nya sendiri yang mampu melacak jumlah besar data.

Alasan mengapa NFI diizinkan melakukan itu adalah karena lembaga Belanda tersebut cepat mengajukan permohonan. Setiap tahunnya NFI dibanjiri informasi yang makin banyak saja. Diharapkan software-Microsoft dapat membantu Institut Forensik Belanda.

Standar global
“Di samping itu juga penting untuk mevalidasi metoda itu,” tutur peneliti Van Eijk. Dalam teori bisa saja terjadi bahwa raster pada sebuah gambar yang dikategorikan termasuk dalam rangkaian foto porno anak-anak, memperlihatkan sebuah pola yang mirip foto liburan. Ini juga disebut false positive.

“Jadi kami harus menentukan apakah itu kasusnya, berapa sering terjadi dan dalam kondisi seperti apa.”

Jika itu sudah jelas, maka dalam jangka waktu tertentu, metoda ini bisa dipakai sebagai barang bukti di pengadilan dan kemungkinan bisa berkembang menjadi standar global dalam kasus susila. Menurut Microsoft kemungkinan terjadinya match yang salah, sangat minimal. Tapi klaim seperti itu harus bisa diperkuat di pengadilan. 

Tugas berat
Tim penyidik, misalnya dari NFI, tetap punya tugas berat untuk menonton porno anak-anak. Perlu ditegaskan bahwa PhotoDNA bukan program pengenal wajah, karena tidak bisa “melihat” apa yang ada pada foto itu. Karena itu tidak cocok untuk melacak pelaku dan korban.

Erwin van Eijk berharap menerima hasil-hasil pertama kerja sama sebelum dimulai musim panas.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...