Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Rawagede
Avatar Joss Wibisono
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Belanda Masih Jauh dari Balongsari

Diterbitkan : 10 Februari 2012 - 1:46pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: KontraS)
Diarsip dalam:

Selain kredit mikro, untuk Rawagede yang pernah dilanda banjir darah tahun 1947, Belanda juga menghibahkan dana bantuan pembangunan proyek fasilitas. Bedanya kalau kredit mikro ini sudah berjalan lancar, pembangunan fasilitas belum juga dimulai.

Tiga fasilitas di Balongsari yang dibiayai oleh Belanda adalah sekolah, pasar dan pusat kesehatan. Ketiganya melanjutkan fasilitas yang sudah ada atau sudah pernah ada di Balongsari yang dulu bernama Rawagede.

Terkait:

Gedung SMA yang ingin didirikan melanjutkan SMP yang sekarang sudah ada, pusat kesehatan meningkatkan pusat kesehatan yang sudah ada dengan menambah fasilitas rawat inap, sedangkan fasilitas pasar membangun kembali pasar yang pernah tutup pada tahun 1950an.

Pembebasan tanah
Sekarang SMA terdekat berjarak 25 kilometer dari Balongsari, pasar 30 kilometer dan untuk bisa ke rumah sakit, seorang warga Balongsari harus terlebih dahulu menempuh jarak 35 kilometer. Direncanakan tiga fasilitas itu dibangun pada tempat-tempat yang sudah ada, “Jadi tidak perlu melakukan pembebasan tanah,” kata Suparta, seorang tokoh masyarakat Balongsari.

Menurut Kedutaan Besar Belanda di Jakarta kehendak masyarakat itu disampaikan kepada Menteri Luar Negeri Maxime Verhagen dan Menteri Kerjasama Pembangunan Bert Koenders. Ketika berkunjung ke Balongsari pada bulan Januari 2009, Menlu Verhagen juga mengadakan perundingan panjang lebar dengan beberapa orang janda korban banjir darah 1947.

Dari sinilah pihak Belanda berkesempatan untuk memahami apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Maka terungkap tiga proyek itu, selain tentunya proyek kredit mikro yang ditangani oleh LSM Belanda Hivos.

Tiga proyek ini merupakan hasil musyawarah masyarakat Balongsari Maret 2009. Menurut Suparta kesepakatan ini kemudian diajukan ke kedutaan besar Belanda, “Mereka berjanji memfasilitasi, mengajukannya ke pihak Den Haag”. 19 November 2009, Kedubes Belanda mengirimkan rancangan kesepakatan sebagai konsep awal yang harus ditandatangani bupati, yang waktu itu dijabat oleh Dadang Muchtar.

Sampai setahun berlangsung negosiasi terus termasuk rakor dengan pemda. Memorandum itu tidak juga ditandatangani. “Itulah awal keterlambatan,” tutur Suparta.

Peran dua faktor
Yang menjadi keprihatinan masyarakat Balongsari adalah kapan pembangunan proyek ini akan mulai. Sudah tiga tahun setelah musyawarah ternyata fasilitas itu tidak juga muncul. Pihak kedutaan besar Belanda di Jakarta paling sedikit menunjuk dua faktor yang berperan pada keterlambatan ini.

Pertama prosedur administrasi di kementerian dalam negeri. Kedua, pembicaraan mengenai perincian proyek ini ternyata lebih lama dari yang diperkirakan. Demikian kedutaan besar Belanda di Jakarta.

Dengan kata lain, tak kunjung terlaksananya proyek ini bukan karena Belanda. Hal ini juga ditegaskan oleh Suparta, pemuka masyarakat Balongsari. “Program ini sudah dilimpahkan ke kementerian dalam negeri,” tegasnya.

Kedutaan Besar Belanda di Jakarta bahkan menegaskan akhir tahun lalu aliran dana pertama sudah ditransfer kepada rekening kementerian dalam negeri. Dengan begitu, demikian kedutaan Belanda lebih lanjut, proyek ini sudah bisa dimulai pembangunannya.

Suparta, tokoh masyarakat Balongsari, menunjuk sekarang tinggal koordinasi di tingkat pemda saja, dengan pemerintah desa. Katanya, “Kalau memang segala sesuatunya sudah beres, di tingkat desa dan tingkat pemda, kementerian dalam negeri siap mentransfer uang tersebut ke rekening pemerintah desa Balongsari. Itu yang didapat dari rakor dengan kementerian dalam negeri bersama kita, kecamatan, desa dan pemda.”

Akhir bulan
Camat Balongsari Yasin Nasrudin kepada Radio Nederland menegaskan sekarang proyek ini masih dalam tahapan menyelesaikan memorandum kesepakatan yang disebut MoU. Ia menegaskan kementerian dalam negeri memang sudah meneruskan ke bupati, tapi dari bupati masih harus ke pemerintah desa. “Informasi terakhir,” demikian Yasin, “pada akhir bulan ini MoUnya akan ditandatangani”.

Yasin Nasrudin mengaku tidak tahu mengapa prosesnya bisa begitu lama. “Mungkin ada pernyataan-pernyataan atau kata-kata MoUnya yang harus dikoordinasikan dulu dengan bagian hukum”, jelasnya.

Sementara itu Kedutaan Besar Belanda di Jakarta menyatakan transfer pertama dana pembangunan fasilitas tiga bangunan Balongsari sudah ditransfer ke rekening kementerian dalam negeri. Bagaimana kalau pembangunan tidak juga dilaksanakan?

Kedubes menegaskan secara teratur menerima laporan perkembangan proyek ini. Dan itu sesuai dengan kesepakatan yang ada dengan kementerian dalam negeri. Kalau dari laporan dan kunjungan ke Balongsari ada hal-hal yang aneh, maka itu akan dibicarakan dengan para mitra.

“Kalau perlu juga akan diambil tindakan,” demikian terbaca pada surat elektronik Kedubes Belanda. Mereka juga bisa melakukan pemeriksaan keuangan oleh lembaga akuntan mandiri.

Diskusi

mbahpur 10 Februari 2012 - 3:34pm / Indonesia

Dana 800.000 € (?) adalah dana besar.
Semoga dana2 bantuan seperti ini malah jangan bikin repot. Kalau sudah masalah uang, (he..he, apalagi di Indonesia), wah rumit kelokan2 jalan yang harus ditempuh. Contoh aktuil Partai Demokrat, DPR-RI dengan pembangunan wisma Atlet SEA Games 2011.

Anonymous 10 Februari 2012 - 7:39pm / ADUH *** DPRRI di Jakarta PENIPU dan PENCURI

mbahpur, anda terlambat. Baca dulu komentara para ahli hakim atau hukum international tentang kinerja MPR dan DPRRI di Jakarta Senayan hari inilah. Ikutilah serentetan siaran tv menyangkut tindakan dan perbuatan DPRRI di Jakarta menyangkut 24, berapa miliyar rupiah hanya untuk memperbaiki sedikit kerusakan di Gedung DPRMPRRI di Jakarta Senayang Indonesia. Dikatakan oleh para ahli hukum sedunia bahwa, para pemebesar negara itu adalah KRIMINAL dan BAJINGAN SONTOLOYO. saksikanlah adegan berita itu pada www.ambon.com massage 56848 dan 56837 oke? terimakasih. Jangan terlambat, nanti ketinggalan keretanya. Dikatakan bahwa "malu" dan jangan ditambahi awalan dan akiran yang artinya awalan ke dan akhiran an jadinya kemaluan.

Anonymous 10 Februari 2012 - 7:36pm / ADUH *** DPRRI di Jakarta PENIPU dan PENCURI

mbahpur, anda terlambat. Baca dulu komentara para ahli hakim atau hukum international tentang kinerja MPR dan DPRRI di Jakarta Senayan hari inilah. Ikutilah serentetan siaran tv menyangkut tindakan dan perbuatan DPRRI di Jakarta menyangkut 24, berapa miliyar rupiah hanya untuk memperbaiki sedikit kerusakan di Gedung DPRMPRRI di Jakarta Senayang Indonesia. Dikatakan oleh para ahli hukum sedunia bahwa, para pemebesar negara itu adalah KRIMINAL dan BAJINGAN SONTOLOYO. saksikanlah adegan berita itu pada www.ambon.com massage 56848 dan 56837 oke? terimakasih. Jangan terlambat, nanti ketinggalan keretanya.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET