Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar John Tyler
Map
Hengelo, Belanda
Hengelo, Belanda

Belanda Ikuti Gaya Main Hakim Sendiri Amerika

Diterbitkan : 22 Juli 2011 - 4:48pm | Oleh John Tyler (Foto RNW)
Diarsip dalam:

"Coro!" "Cabul!" "Pedofil!" Lima puluh orang lebih berkumpul di depan sebuah rumah di jalanan pemukiman yang tenang.

Beberapa meneriakkan hinaan, yang lain menempelkan wajah di jendela, mengintip ke dalam. Seorang pria dengan megafon menyemangati gerombolan. "Jika pemerintah tidak bisa dan tidak mau melindungi anak-anak kita, maka kita harus lakukan itu sendiri."

Malam itu, sebuah bangku di taman depan berubah fungsi jadi alat pemukul untuk memecahkan kaca jendela. Cat merah, tomat dan amoniak dilempar ke dalam rumah. Tulisan 'Pedo' ditorehkan dengan cat merah di dinding.

Gaya Amerika
Menurut John ini rasanya tidak asing. Di negara asalnya Amerika Serikat, sentimen publik akan pedofil dan para pelaku pelanggar seksual lain bisa sangat ekstrim. Hukum federal yang mengharuskan pelanggar diumumkan secara publik seakan-akan mendorong masyarakat untuk main hakim sendiri.

Banyak yang beranggapan rehabilitasi suatu hal yang tidak mungkin dan ketakutan jadi pemicu utama keinginan melindungi anak-anak dari para 'monster' tersebut.

Di Texas dan Missouri, hakim menghukum para penjahat seks untuk memajang tulisan "Bahaya: Ini Rumah Pelaku Pelanggar Seksual" di depan rumah mereka.

Peraturan baru di Florida mengharuskan para penjahat seks untuk mengenakan alat pelacak GPS seumur hidup, bahkan setelah masa hukuman penjara mereka selesai. Dan di 50 negara bagian Amerika, masyarakat berhak tahu alamat para pelaku pelanggaran seksual.

Pemikiran seperti ini sekarang mulai berkembang di Belanda. Insiden yang diceritakan di muka terjadi pada sebuah akhir pekan pertengahan bulan Juli di Hengelo, kota dekat perbatasan Jerman.

Tapi tidak seperti kejadian di Amerika, kerumunan bukan mengejar-ngejar seorang terdakwa penjahat seks. Penghuni rumah mengatakan dia tidak pernah punya hubungan seksual dengan anak-anak. Lalu mengapa dia diusik?

Tak bisa diterima
Marthijn Uittenbogaard (39) adalah bendahara dan juru bicara asosiasi pedofil Martijn. Selama 29 tahun terakhir kelompok ini memperjuangkan penerimaan masyarakat Belanda akan kaum pedofil. Kegemparan di luar rumah tersebut disebabkan ide-ide Martijn.

Hal ini bisa jadi mengejutkan. Dalam wawancara dengan harian NRC Next belum lama ini dia mengatakan:

"Orang tua memperlakukan anak-anak seperti harta milik. Tapi mereka sebenarnya milik semua orang ... Jaman sekarang ini, anak-anak terlalu dilindungi. Berangkat sekolah, berolahraga atau melakukan aktivitas lain, semuanya sangat terorganisir dan berjarak. Ini membuat hubungan pedofil benar-benar tidak mungkin."

Uittenbogaard berpendapat segala peraturan yang membatasi seksualitas harus dicabut dan anak-anak seharusnya diizinkan berhubungan seksual dengan orang usia berapapun. Tidak perlu dikatakan, ide Martijn dan rekan-rekan tidak bisa diterima masyarakat umum.

Perubahan zaman
Awalnya, organisasi Martijn sempat diterima. Penulis terkenal, politisi dan tokoh masyarakat lain terang-terangan mendukung pedofil. Segelintir tokoh masyarakat bahkan mengaku sebagai pedofil. Ketika itu, Menteri Kehakiman Korthals Altes sempat mengajukan usulan mengubah peraturan usia seks dewasa dari 16 menjadi 12 tahun.

Usulan ditolak.

Namun zaman berubah, organisasi pun jadi bulan-bulanan. Kementerian Kehakiman mungkin terpaksa menindak Martijn setelah terbukti delapan pengurus atau mantan pengurusnya punya catatan kriminal yang melibatkan pelanggaran seksual.

Ketuanya saat ini dipenjara atas tuduhan kepemilikan pornografi anak.

Perkembangan lain adalah semakin kerasnya sikap masyarakat Belanda yang memang dari awal sudah skeptis tentang argumen soal pedofil. Tersibaknya tabir pelecehan seksual yang terjadi di gereja Katolik membuat banyak orang berang.

Juga kasus 87 balita yang dilecehkan secara seksual oleh seorang pegawai penitipan anak Amsterdam dan pasangannya.

Keadilan
Jadi warga sipil semakin sering main hakim sendiri. Selain cacian dan ancaman yang langsung ditujukan kepada Uitenbogaard di Hengelo, ada seorang anggota organisasi yang diusir dari rumahnya di provinsi Friesland.

Seorang penulis yang hanya mendukung hak bicara organisasi Martijn juga dipecahkan kaca rumahnya dan pintunya ditulisi 'Pedo' dengan cat merah.

Bisa dimengerti jika Belanda tidak menyambut hangat pemikiran organisasi pedofil Martijn. Tapi pertanyaannya apakah Belanda benar-benar ingin mengikuti jejak Amerika berubah menjadi masyarakat 'ringan tangan'?

Diskusi

brog11 18 April 2012 - 1:18pm / Indonesia

wah ahaha kemajuan teknologi emank mantep, GPS jaman sekarang bukan hanya digunakan untk melacak kendaraan, manula, hewan, aset tapi juga penjahat, Penjahat sex .

http://www.solusigpstracker.com

Anonymous 26 Juli 2011 - 9:27am / Maluku

Belanda, kamu sudah tahu hukum dan dosa tapi kalian tetap memilih dosa. Bangsa kecil ini akan punah....kalian dulu penjajah kasih susah anak cucu bangsa Maluku sampai sekarang.
Menurut saya yang punya anak masih kecil, kepala para pedofil dan pendukung pedofil halal untuk ditembak.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET