Empat partai di semifinal dan final ini banyak membawa nuansa balas dendam. Uruguay dendam sama Belanda, Jerman dendam ke Spanyol dan dendam Belanda pada Jerman.
Belanda melangkah ke babak final setelah mematahkan upaya balas dendam Diego Forlan yang ingin membalas kekalahan Uruguay pada piala dunia 1974. Pada pertandingan itu Pablo ayah Diego bermain sebagai bek dan kalah dari Oranje.
Pada pertandingan semi final Jerman lawan Spanyol juga bermuatan rasa balas dendam. Jerman jelas bersemangat untuk melaju ke final apalagi kalau bisa melakukan balas dendam atas kekalahan final Piala Eropa 2008 lalu. Dua tahun lalu Jerman kalah di final piala Eropa, 1-0. Akhirnya Spanyol pulang dengan gelar Juara Eropa.
Sekarang ini, bermodal permainan cantik dan atraktif yang dipertokokan Jerman pada laga- laga terakhir ini membuktikan bahwa tim asuhan Joachim Löw memang mampu mengalahkan tim manapun juga.
Mendepak pulang Argentina dengan 4-0, lalu menyudahi tim Inggris dengan 4-1. Itulah bukti-bukti ketangguhan tim Jerman yang atraktif dan enak dipandang itu. Sepertinya Jerman mengkopi pola permainan "totaalvoetbal" khas Belanda zaman dulu.
Dua Sandungan
Secara teknis dan taktis sepak bola, semuanya oke, tapi bagaimana kesiapan mental mereka? Sebab saat ini ada dua batu sandungan yang bisa menggoyahkan stabilitas Mannschaft der Panzer yang usia rata-ratanya masih muda. Faktor non teknis pertama adalah fenomena Paul si Gurita.
Paul si Gurita
Di Jerman ada ikan laut yang hidup di aquarium yang bisa menebak secara jitu. Orang mulai percaya tahayul ini karena si Gurita itu tebakannya untuk tim Jerman selalu tepat. Juru ramal melakukan prediksinya dengan disugui pilihan dua kerang untuk makan. Satu kerang berbendera Jerman dan satu kerang berwarna bendera tim lawan.
Selama ini Paul si Gurita selalu memilih kerang Jerman, menjelang lawan Inggris dan Argentina. Tapi menjelang pertandingan Jerman lawan Spanyol ini, juru ramal berkaki delapan itu justru memilih kerang berbendera Spanyol. Apakah itu tandanya tim Matador yang akan menang?
Ban Kapten
Mungkin kalau fenomena Gurita bisa diabaikan dan ditanggapi dengan tawa saja. Tapi sebenarnya Jerman dilanda kemelut yang lebih serius. Persoalan Phillip Lahm yang ingin tetap memegang ban kapten Der Panzer, pasca Piala Dunia. Lahm tidak berniat mengembalikan ban itu ke Michael Ballack, kapten yang cedera.
Walaupun pelatih Jerman, Joachim Löw mencoba menepis isu adanya perpecahan. Namun dari reaksi Ballack yang memutuskan pulang ke Jerman dua hari sebelum laga lawan Spanyol, menunjukkan bahwa ini ada sesuatu. Löw kembali menetralisir spekulasi itu dengan mengatakan bahwa Ballack akan balik lagi ke Afrika Selatan, kalau Jerman menang lawan Spanyol.
Dalam situasi yang tenang, masalah ban sebenarnya bisa diselesaikan dengan mudah. Tapi ketika ketegangan sedang memuncak dan tim dituntut berkonsentrasi penuh, maka masalah sepele itu bisa sangat mengganggu. Jadi apakah dengan kondisi ini Jerman bisa melakukan balas dendam pada Spanyol, yang sekarang tampaknya adem-ayem saja?
Dendam Belanda
Kalau bagi Belanda sendiri sebenarnya tidak masalah siapapun yang akan menjadi bakal lawan di partai pamungkas di Soccer City itu. Oranje ingin menang dan mengukir sejarah sebagai negara kecil yang menjadi juara dunia.
Kalau Jerman nanti bisa melakukan balas dendam dan lolos final, maka giliran Belanda yang balas dendam atas kekalahan di Final Piala dunia 1974 di Munchen oleh Jerman. Senin pagi 12 Juli WIB nanti Belanda menjadi juara dunia, dan Jerman boleh menyandang gelar sebagai tim paling atraktif.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.