Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Joss Wibisono
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Bahasa Belanda Tidak Laku di Nusantara

Diterbitkan : 16 Desember 2011 - 5:38pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: RNW)
Diarsip dalam:

Orang Indonesia selalu bangga punya satu bahasa sebagai bahasa nasional. Bahasa ini bukan warisan bangsa penjajah. Mungkin ada orang Indonesia bertanya mengapa berlainan dengan Spanyol, Portugal, Prancis atau Inggris di bekas jajahan mereka, Belanda tidak memberlakukan bahasanya di Nusantara?

Rasanya seperti ada sesuatu yang terlewat pada setiap bulan bahasa, sebagai bagian ritual mengenang heroiknya Sumpah Pemuda. Itulah mengajukan dan berupaya mencari jawaban terhadap sebuah pertanyaan penting: mengapa penjajah Belanda dulu tidak mewajibkan warga Nusantara berbahasa Belanda? Bukankah di Filipina, Spanyol memberlakukan bahasa mereka, seperti juga Portugal di Timor Lorosa’e?

Tak berwawasan
Kekuatan kolonial Eropa lain: Inggris, Prancis, Spanyol dan Portugal, memang selalu membuat wilayah jajahan mereka juga berbahasa penjajah. Bahasa-bahasa Inggris, Prancis, Portugis dan Spanyol bukan saja menjadi bahasa pemerintahan di Afrika, Asia Selatan dan Amerika Latin, tetapi juga merupakan bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah pada belahan dunia itu.

Alhasil ketika kolonialisme berakhir, negara-negara yang merdeka dari jajahan Inggris, Prancis, Portugal dan Spanyol tetap menggunakan bahasa (bekas) penjajah sebagai bahasa nasional. Atau, walaupun sudah punya bahasa nasional seperti Maroko atau Aljazair yang berbahasa Arab, Bahasa Prancis seolah merupakan bahasa nasional kedua yang sekaligus merupakan bahasa penghubung dengan dunia internasional.

Mengapa penjajah Belanda tidak berbuat serupa di Indonesia? Jawabannya panjang dan rumit, serta bergantung dari zamannya. Kalau harus disingkat dan dipermudah mungkin bisa dikatakan itulah watak orang Belanda. Orang Belanda dikenal kikir, tidak suka membuang kebiasaan (apalagi kebiasaan yang murah) dan, dalam soal bahasa ini, mereka juga tidak terlalu punya wawasan masa depan.

Kalau Indonesia juga berbahasa Belanda, maka sekarang bahasa ini akan digunakan oleh nyaris 300 juta orang, sementara sekarang tidak sampai 100 juta orang. Watak tak berwawasan ini akhirnya memang menguntungkan kita. Ketika menjadi Indonesia (harus diakui ini berkat Belanda) kita akhirnya berbahasa Indonesia, tidak berbahasa Belanda.

Dialek kreol
Satu hal penting perlu ditegaskan, Belanda mulai menguasai Nusantara sebagai sebuah perusahaan dagang multinasional: VOC. Sebagai perusahaan, VOC jelas hanya memburu laba yang dilakukannya melalui monopoli serta kekerasan.

Perusahaan multi nasional pertama ini tidak merasa perlu membahasabelandakan wilayah-wilayah yang dikuasainya. Langkah ini pasti butuh biaya besar yang jelas akan mengurangi laba. Karena itu tetap digunakan bahasa setempat atau bahasa Melajoe, toh bahasa ini sudah lama merupakan lingua franca (bahasa pengantar) kepulauan Nusantara.

Ini berarti bahwa bahasa Belanda harus bisa bersaing dengan bahasa-bahasa yang sudah ada di Nusantara. Selain bahasa Melajoe dan bahasa daerah yang begitu banyak, pada zaman VOC itu, bahasa Portugis juga banyak digunakan.

Menurut Lilie Suratminto, dosen dan peneliti bahasa Universitas Indonesia, orang Portugis sudah 100 tahun lebih awal tiba di Nusantara ketimbang Belanda. Jadi, selain bahasa Melajoe, bahasa Portugis juga banyak dipakai, terutama di Batavia dan Ambon. Tentu saja bahasa Portugis ini berbeda dengan yang ada di Portugal, karena bahasa ini adalah dialek kreolnya.

Sebenarnya, dalam soal bahasa, VOC sudah mengambil langkah-langkah tertentu yang bertujuan memperluas penyebaran bahasa Belanda. Di Maluku dibuka sekolah dalam bahasa Belanda, selain itu pada pelbagai gereja protestan juga berlangsung kebaktian dalam bahasa Belanda. Tapi ternyata bahasa Belanda tidak juga memasyarakat di Maluku. Di luar sekolah, anak-anak tetap berbahasalokal dan dan pengunjung gereja berbahasa Belanda tetap itu-itu saja, jumlah mereka tidak bertambah.

Alhasil ketika pada awal abad 19 VOC bangkrut, bahasa Belanda di Nusantara tidak mengalami kemajuan. Jangankan bahasa pengantar, jumlah orang berbahasa Belanda waktu itu juga tidak mengalami peningkatan. Dengan begitu, langkah-langkah yang ditempuh VOC di bidang bahasa jelas telah gagal.

Bahasa ekslusif

Setelah VOC bangkrut, Nusantara diambil alih oleh pemerintah Belanda, lahirnya Hindia Belanda pada abad 19. Memang Inggris sempat memerintah, tetapi begitu Nusantara kembali ke tangan Belanda, tidak ada terobosan terhadap politik bahasa VOC yang gagal itu.

Bahasa Belanda tetap ekslusif, tidak dibuka untuk umum. Para peneliti bahasa melihat paling sedikit ada dua sebab. Pertama Belanda takut munculnya semacam bentuk dialek bahasa mereka di Nusantara. Ini sudah terjadi dengan bahasa Portugis yang digunakan di Batavia misalnya.

Mereka yang berbahasa Portugis itu tidak merasa terikat dengan Portugal. Padahal Belanda ingin supaya mereka yang bisa berbahasa Belanda tetap setia pada mereka. 

Kedua penguasaan bahasa Belanda oleh massa rakyat, terutama kalangan yang tidak beragama Nasrani, dianggap berbahaya. Karena itu politik bahasa pemerintah Hindia Belanda pada Abad 19 itu hanya diarahkan pada warga kulit putih dan tidak kepada massa rakyat Nusantara.

Bahkan pada tahun 1864 diputuskan untuk tidak lagi mengupayakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar di Nusantara, menggantikan bahasa Melajoe. Bahasa Belanda hanya diajarkan di sekolah-sekolah Belanda yang juga menerima sedikit murid elit pribumi, yaitu kalangan ningrat.

Sebaliknya, orang-orang Belanda yang berniat meniti karier di Hindia Belanda diwajibkan fasih berbahasa Melajoe, syukur-syukur kalau menguasai salah satu bahasa daerah.

Pada awal abad 20 Belanda mengubah politik kolonialnya, ketika memberlakukan apa yang disebut Politik Etis. Bertujuan untuk mendidik dan mengangkat martabat pribumi Inlanders, zaman ini ditandai dengan dibukanya pelbagai lembaga pendidikan. Bahasa Belanda menjadi salah satu mata pelajaran wajib. Apakah itu berarti peningkatan jumlah orang yang fasih berbahasa Belanda?
 
Jawabannya bisa diikuti pada bagian kedua.
 

Diskusi

Pengamat 22 Desember 2011 - 2:39am

Itu tandanya belanda adalah penjajah gagal di Indonesia.

Naseft Van Der Vandoe 21 Desember 2011 - 7:07am / indonesia

Saya belajar bahasa Belanda adalah untuk mengetahui sejarah, jadi banyak belajar bahasa itu bagus......

rudi 21 Desember 2011 - 3:12am / indonesia tercinta

Saya lagi belajar sifat belanda yg kikir dan ekslusif, dan repotnya ada sebagian orang yg sok keblanda2xan padahal dari kulit dan karakter sebenarnya dia bukan orang belanda.....yuhuuuuu , sadar diri siapa ente sebenarnya....ekonomi dunia ada di asia bung

Wanty 20 Desember 2011 - 10:51pm / Belanda Indo

Kalau secara jujur, Indonesia itu tidak punya bahasa. Akar kata dan asal mulanya bahasa Indonesia itu, dari mana datangnya sinyo manis? Kalau bahasa MELAYU itu benar benar ada dan tetap ada, tapi Indonesia dengan bahasanya, tidak pernah ada. lalu bagaimana sampai kita semua harus dibodohi oleh orang orang pintar katanya ada bahasa Indonesia? Indonesia itu sendiri, apa artinya dan apa maksudnya? Itu saja sampai dengan hari ini, mentri Pendidikan dan kebudayaan saja tidak tau dan mengertinya, lalu bagaimana dengan kita ini? Amat kasiahan untuk generasi penerus.

Anonymous 19 Desember 2011 - 7:51pm / indonesia

saya bangga berbahasa indonesia, ditambah lagi bahasa daerah. saya rasa dimanapun kita berada tidak akan lupa bahasa ibu pertiwi. Ingat! orang indonesia itu pintar-pintar dan dengan mudah beradaptasi. bahasa apapun akan dengan mudah dikuasai. jadi, untuk apa bahasa penjajah?

UDIN 20 Desember 2011 - 10:59pm

Bukannya bangga melainkan merasa ditipu oleh pemerintah Indonesia. Karena Indonesia tidak punya bahasa. Itu baha Melayu dan bukan bahasa Indonesia. Pemerintah Indonesia memperkosa hak bahasa MELAYU dan dikatakan bahasa Indonesia. Alangkah baiknya, kalau dibilang saja bahasa Jawa, seperti SUalayan, supermarket, pasar induk, pasar ikan, pasar lowak, apa lagi kalau mendengar omongannya President SBY, lebih dari gado gado lontong. Bicara Inggris medok Jowo.

Anonymous 19 Desember 2011 - 12:02pm

Karena sok nasionalisme yang bikin bahasa Indonesia pertama yang teratur saja adalah orang Belanda yaitu "Ejaan Van Ophuijsen (1901)", dan sudah disempurnakan kalau engga ada itu mana ada bahasa Indonesia. Ternyata sekarang ini bahasa Indonesia malahan jadi amburadul, banyak orang sok pake bahasa inggris setengah-setengah sampe di indonesiakan dan banyak singkatan-singkatan yang nggak dijelaskan. Baca saja koran Indonesia! ...Guawaat!

Anak korban 19 Desember 2011 - 5:53am / anak rantau

Dengan mempersulit mempelajari bahasa mereka. Namanya saja dipersulit, maka anda akan tahu sajalah karakter mereka. Tiori jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah. Itu tiori orang belanda. Karena kita hanya menyambung tradisi itu di indonesia, makanya negera indonesia tidak pernah maju. !!!

Yuhhuuu 19 Desember 2011 - 9:05am

Memangnya anda sudah maju banget apa ? ngomong Teori aja koq "Tiori" ?! ahahahahahahaha ... trus satu lagi .. Negara, Bung .. bukan "Negera" !!!

mbahpur 19 Desember 2011 - 10:48am / Indonesia

Bung @Yuhhuuu 19 Desember 2011 - 8:05am, banyak orang Indonesia, juga saya, tidak korek menulis kata2 asing dari bahasa yang sudah di adopsi di bahasa Indonesia. Bahkan juga Diplomat2 yang so terlatih...
Ada yang bilang menstruasi, mensturasi. Kata introspeksi menjadi intropeksi, interpretasi menjadi interprestasi.....dlsbnya.
Akan teapi janganlah hal2 kecil seperti ini menghilangkan arti dan maksud dari sebuah statement. Orang2 Bule juga tidak kalah ngawurnya koq.
Ada sebuah DOA: Ya Allah, jauhkanlah kami dari segala pencobaaan dan kesombongan hati..
Tx.

CHIANG KAI SEK 19 Desember 2011 - 3:47am / INDONESIA

Nggak ada untungya berbahasa Penjajah, lebih baik belajar bahasa mandarin, arab atau inggris. Sekarang jangan menatap ke barat , perekonomian Dunia sekarang di Asia / bangsa Timur ...... O.K !?

CHIANG KAI SEK 19 Desember 2011 - 3:46am / INDONESIA

Nggak ada untungya berbahasa Penjajah, lebih baik belajar bahasa mandarin, arab atau inggris. Sekarang jangan menatap ke barat , perekonomian Dunia sekarang di Asia / bangsa Timur ...... O.K !?

CHIANG KAI SEK 19 Desember 2011 - 3:46am / INDONESIA

Nggak ada untungya berbahasa Penjajah, lebih baik belajar bahasa mandarin, arab atau inggris. Sekarang jangan menatap ke barat , perekonomian Dunia sekarang di Asia / bangsa Timur ...... O.K !?

fatimah nuraeni 19 Desember 2011 - 2:38am / Indonesia

Menunggu artikel selanjutnya

imafatimah 19 Desember 2011 - 2:34am / Indonesia

menunggu bagian ke-2

handaka 18 Desember 2011 - 12:47pm

Saya belajar bhs belanda dr situs radio nederland. Masih awal.

handaka 18 Desember 2011 - 12:43pm / indonesia

Saya lagi belajar bhs belanda dr situs radio Nederland

handaka 18 Desember 2011 - 12:43pm / indonesia

Saya lagi belajar bhs belanda dr situs radio Nederland

handaka 18 Desember 2011 - 12:43pm / indonesia

Saya lagi belajar bhs belanda dr situs radio Nederland

Anonymous 18 Desember 2011 - 11:49am

NKRI tidak diakui kedaulatannya oleh Belanda maupun PBB. Karena sudah diakui pada tanggal 27 december 1949 di Amsterdam Belanda dan Jakarta sekali saja untuk selamanya. Dan tidak bisa lagi karena telah menggantikan namanya menjadi NKRI yang diresmikan pada tanggal 17 agustus 1950 di Jakarta dan kemudian dibalik menjadi 17 agustus 1945 di Jakarta. Ini namanya penipuan dan kepalsuan bernegara. http://batarahutagalung.blogsport.com/2011/11/rawagede-perjuangan-knpmbi

Anonymous 18 Desember 2011 - 11:47am

NKRI tidak diakui kedaulatannya oleh Belanda maupun PBB. Karena sudah diakui pada tanggal 27 december 1949 di Amsterdam Belanda dan Jakarta sekali saja untuk selamanya. Dan tidak bisa lagi karena telah menggantikan namanya menjadi NKRI yang diresmikan pada tanggal 17 agustus 1950 di Jakarta dan kemudian dibalik menjadi 17 agustus 1945 di Jakarta. Ini namanya penipuan dan kepalsuan bernegara. http://batarahutagalung.blogsport.com/2011/11/rawagede-perjuangan-knpmbi http://batarahutagalung.blogsport.com/2011/12/rawagede - belanda - menyesal- s

mbahpur 17 Desember 2011 - 11:54am / Indonesia

seandainya saya bisa ber bahasa Belanda, kemungkinan besar saya akan lebih mudah belajar bahasa Inggris.
Saya kira tidak ada 100 juta manusia Indonesia yang bisa berbahasa Belanda.
Bagi saya, VOC bertujuan lebih dari pada semata mata berdagang saja. Rememeber kata simbah ini.

hidayah fauzani 17 Desember 2011 - 3:09am / indonesia

kami berharap bahasa indonesia/nusantara bisa mendunia seperti bahasa inggris karena kita cinta bahasa indonesia.
cinta tanah air sebagian dari iman.
terima kasih

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET