Minum, menari, makan dan bermain mata -walaupun sedikit kaku- dengan baju rapih atau pakaian sehari-hari. Museum Frans Hals di Haarlem, Belanda barat memperlihatkan bagaimana orang Belanda, dari orang kaya sampai petani miskin, berpesta pada abad ke-17.
Pada abad ke-17, juga disebut Abad Emas, Belanda salah satu negara terkaya di dunia. Kaum yang berada ingin memamerkan kekayaan dengan cara kalvinis, yaitu sederhana.
Pelukis seringkali mendapatkan tugas melukis potret megah. Tapi juga pesta-pesta meriah dijadikan lukisan.
Berpakaian mewah
Beberapa pelukis Haarlem menjadi terkenal karena lukisan-lukisan tersebut. Karya pelukis Dirck Hals berjudul "Buitenpartij" atau pesta di luar memperlihatkan sekelompok orang kaya berpakaian mewah. Di atas meja terletak beberapa buku.
Kakaknya, Frans Hals, juga pelukis terkenal, melukis perwira terkemuka mengenakan baju putih cemerlang. Tapi para laki-laki ini tidak lagi duduk rapih di meja, seperti terlihat pada banyak lukisan lain. Frans Hals memperkenalkan diri sebagai pembaharu yang memperlihatkan pengalaman hidup dalam karya-karyanya.
Pesta sebenarnya
Kelompok orang kaya, yang menghadiri makan-makan pada pernikahan Antonie Palamedesz tampil kaku dan tidak berpakaian meriah. Lain halnya dengan pesta-pesta gembira warga biasa. Pesta pernikahan petani atau kermis. Itu baru pesta yang sebenarnya. Dalam hal ini petani Belanda tidak bisa disebut kalvinis.
Bagi seorang pelukis - dan bagi kami sebagai penonton- pesta rakyat lebih bagus untuk ditonton.
































Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.