Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Enter a description of the photo here
Avatar Willemien Groot
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Asia Berusaha Produksi Vaksin Sendiri

Diterbitkan : 23 November 2009 - 2:40pm | Oleh Willemien Groot
Diarsip dalam:

Sejumlah negara industri yang baru berkembang mencoba memproduksi sendiri vaksin flu Meksiko H1N1.

Antara lain India, Brasil, Meksiko, Indonesia dan Afrika Selatan mengatakan ingin tidak tergantung dari sumbangan vaksin atau dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO. Apakah ambisi itu tidak terlalu muluk? Banyak persoalan praktis yang harus diselesaikan dalam waktu singkat.

Organisasi kesehatan dunia WHO sudah memperingatkan sebelumnya: negara-negara miskin selalu harus menunggu terlalu lama jika ingin membeli vaksin flu. Kecemasan itu sekarang menjadi kenyataan. Kebutuhan akan vaksin begitu besarnya, sehingga hanya pemerintah yang bisa memesan vaksin tersebut. Bahkan mereka juga tidak bisa menjamin jumlah vaksin yang didapat akan memenuhi kebutuhan di negara itu sendiri.

Prioritas
Sejumlah negara dunia ketiga akhirnya mengambil keputusan untuk memproduksi vaksin sendiri. Apabila hal itu berhasil, maka mereka tidak tergantung pada Barat lagi, seperti misalnya vaksin Aids yang sudah dibuat sendiri. Sebuah inisiatif yang bagus, menurut Remco van de Pas, pakar kesehatan LSM pembangunan Belanda Wemos:

"Yang menjadi pertanyaan untuk tiap negara itu adalah, apakah pemberantasan penyakit flu merupakan prioritas utama. Apakah memang semua perhatian, investasi dan pengetahuan harus dipusatkan kepada hal ini, atau ada masalah-masalah lain yang lebih membutuhkan perhatian?

Di negara-negara yang penduduknya kebanyakan meninggal akibat Aids, malaria dan TBC dibandingkan flu, maka mengembangkan sebuah vaksin yang memberantas H1N1 kelihatannya hanya menghamburkan uang saja. Dana itu sebaiknya digunakan untuk memberantas penyakit-penyakit yang bisa disembuhkan. Selain itu penduduk miskin biasanya tidak mengindahkan isu-isu kesehatan dan makanan sehat. Apabila kedua alasan utama itu bisa diselesaikan, maka setiap orang punya daya tahan tubuh yang lebih kuat terhadap flu.


Tuntutan keamanan

Masalah besar adalah tidak adanya keahlian di negara-negara bersangkutan. Negara farmasi raksasa seperti India pun, baru pertama kali memasarkan vaksin flu. Itu menuntut penanaman modal tinggi di laboratorium-laboratorium yang harus memenuhi syarat keamanan yang super ketat. Bahan pokok vaksin adalah virus hidup, jadi bayangkan andaikata salah satu virus itu sampai lolos.

Menurut Van de Pas perawatan selanjutnya juga tidak terlalu diperhatikan.  Dia tidak yakin apakah negara-negara berkembang bisa menilai apakah sebuah vaksin aman atau tidak. Karena mereka tidak memiliki keahlian dan jaringan pengontrolan mutu yang dapat diandalkan. Apalagi registrasi dampak sampingan vaksin.

Lebih dari itu, negara-negara yang masih harus mulai mengembangkan vaksin anti flu Meksiko jelas ketinggalan. Besar kemungkinan, virus H1N1 sudah hilang atau bermutasi tahun 2010 atau 2011 saat vaksin Afrika Selatan dipasarkan.
 

Layanan kesehatan yang memadai
Apabila masalah produksi teratasi, vaksin itu masih harus didistribusikan ke kalangan yang memerlukannya. Yaitu, para karyawan dinas kesehatan dan anak-anak yang diprioritaskan. Tetapi juga kaum miskin dan warga desa. Di samping itu biaya kampanye vaksinasi juga harus terjangkau. Ini sesuatu yang mustahil.

Rencana negara-negara industri baru tampak hanya untuk kalangan kelas menengah, yang jumlahnya bertambah terus. Mereka semakin mampu membayar layanan kesehatan yang memadai dan obatan-obatan modern.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET