Arsip Nasional Belanda di Den Haag membuka untuk umum ratusan meter arsip. Berbagai macam arsip, di antaranya arsip-arsip kedutaan, kerajaan dan politisi tidak lagi menjadi arsip rahasia. Tahun ini Arsip Nasional Belanda memutuskan untuk membuka untuk umum lebih banyak arsip rahasia. Ini tentu saja menjadi terobosan menarik banyak peneliti dan sejarawan.
Arsip yang berhubungan dengan Indonesia antara lain adalah arsip-arsip Nationale Actie Steunt Spijtoptanten Indonesië (NASSI, 1949 - 1969) dan Stichting voor Nederlandse Onderwijs in Indonesië. Arsip NASSI tadinya tidak terbuka untuk umum. Peneliti harus mendapatkan izin terlebih dahulu untuk membacanya.
NASSI adalah sebuah organisasi, inisiatif seorang keturunan Indonesia - Belanda, Tjalie Robinson, yang ingin membantu orang-orang Indo, yang dari tahun 1949 - 1969 masih berada di Indonesia. Karena berbagai alasan, antara lain karena keadaan Indonesia yang saat itu masih tidak jelas, mereka ingin pindah ke Belanda.
Karena mereka sebagian besar sudah menjadi WNI, proses visa masuk Belanda menjadi rumit. Dulu, salah satu pertimbangan Arsip Nasional Belanda untuk tidak membuka arsip-arsip seperti ini untuk umum adalah karena topiknya terlalu peka untuk kelangsungan hubungan kedua negara. Namun sekarang tidak lagi.
Selain itu terdapat juga arsip Marsosé Belanda yang meneliti peran Pangeran Bernhard di Indonesia. Tahun limapuluhan dia ingin menjadi raja muda di Indonesia. Hal ini dikemukakan sejarawan Jort Kelder dan Harry van Zijne dalam bukunya berjudul 'ZKH, permainan tingkat tinggi di Istana Yang Mulia'.

Flickr, Aopelaar.jpg)
















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.