Angka penderita Aids di kabupaten Buleleng meningkat. Paroh Februari terhitung 730 orang terjangkit. Bukan saja kalangan penjaja seks yang terkena, tetapi ibu rumah tangga juga.
Perkembangan ini menjadi perhatian masyarakat di Bali Utara. Dalam upaya menanggulangi penyebaran lebih luas, Pemerintah Daerah Buleleng melancarkan program sosialisasi sejak akhir 2009. Semua lapisan masyarakat dilibatkan baik sebagai penyuluh maupun sebagai kelompok sasaran. Demikian disampaikan I Ketut Wiratmaja
Sosialisasi
Program di Buleleng ini memilih kelompok bidikan usia antara 20 sampai 29 tahun, karena mayoritas 79% dari kasus penjangkitan AIDS berasal dari kelompok usia ini. Data yang diperoleh dari penyuluh yang melakukan sosialisasi di semua kecamatan dan rumah sakit umum.
Pendidikan
Pemerintah juga membidik dunia pendidikan sebagai target sosialisasi. Kelompok Siswa Peduli Aids, KSPA bertugas melakukan sosialisasi kepada rekan-rekan di sekolah masing-masing. Mereka memberikan informasi tentang bahaya HIV Aids dan cara menangkal penyebaran Aids di kabupaten Buleleng.
Suami Nakal
Kalangan penjaja seks adalah kelompok paling rentan penularan aids di Buleleng. Sedangkan ibu rumah tangga terjangkit virus HIV karena ditulari oleh sang suami.
Prostusi Masuk Desa
Pemerintah Daerah Buleleng gencar melancarkan sosialisasi ke setiap kecamatan dan pedesaan di Buleleng. Pedesaan menjadi prioritas karena trend terbaru kafe-kafe yang menjadi lokasi prostitusi terselubung, mulai marak di desa-desa.
Wakil Bupati
Buleleng menurut I Ketut beruntung karena Ketua Komisi Penanggulangan Aids Daerah, KPAD, adalah juga wakil bupati kabupaten Bali Utara itu. Jabatan ini bermanfaat karena anggaran yang ditujukan untuk program penanggulanagan Aids, tersalurkan dengan baik. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
Rahasia Terjamin
Pemda Buleleng juga melengkapi RSU Buleleng dengan peralatan test moderen Voluntary Counseling and Testing (VCT) untuk melacak HIV. Sejak 2008, dipasang peranti VCT di Puskesmas pada sembilan kecamatan di Buleleng. Kesadaran warga untuk memeriksakan darahnya yang terinfeksi Aids juga makin tinggi karena mereka mendapat jaminan identitasnya dirahasiakan.
Peran Media
Radio Guntur FM di Singaraja juga terlibat dalam sosialisasi penanggulangan penyebaran Aids dengan cara menyampaikan informasi. Guntur FM memutar promo dan jingle-jingle pendek mengenai ancaman penularan Aids. Disamping itu mitra Radio Nederland ini juga bekerja sama dengan penyuluhan daerah dan para siswa.
Radio yang mengudara di 104,6 FM itu juga kerap mengundang nara sumber dari para penyuluh, siswa, ahli dan pejabat terkait mengenai HIV Aids penyebaran dan penanggulanggannya.
Gunung Es
Guntur FM menyadari bahwa penyebaran HIV Aids merupakan fenomena gunung es. Yang tampak hanya pucuknya saja, sedangkan keadaan sebenaranya bisa sangat besar. Penanggulangan ini dinilai perlu mendapatkan prioritas, karena "catatan 730 kasus penularan HIV aids, tapi pada kenyataannya bisa jadi 10 kali atau seribu kali lipatnya." demikian I Ketut Wiratmaja dalam bincang dengan Radio Nederland.
Laporan bisa didengar di bawah ini:






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.