Imbauan Wapres Boediono untuk mengatur suara adzan mendatangkan kontroversi. Mayoritas suara di Indonesia menolak usulan Wapres. Beberapa pihak menyatakan pengaturan suara adzan tidak perlu dan mengada-ada. Di negara lain, seperti di Belanda, pengaturan suara di tempat umum, termasuk suara dari tempat ibadah, bukanlah hal yang aneh.
Polusi suara, selain mengganggu kenyamanan, dalam jangka panjang bisa menyebabkan keluhan kesehatan. Untuk itu di Belanda diterapkan norma ambang batas kekuatan suara yang diijinkan di tempat umum.
Di wilayah pemukiman misalnya, batas suara tidak boleh melebihi 50-70dB tergantung waktu pagi, siang atau malam.
Tentu saja ada tempat-tempat yang suaranya tidak bisa dihindari, misalnya di jalan tol, lintasan kereta atau wilayah bandara. Untuk itu, berbagai kebijakan diterapkan untuk meminimalisir polusi udara. Misalnya dengan membangun pagar-pagar di sepanjang jalan tol atau rel kereta yang melewati wilayah pemukiman.
Tempat-tempat ibadah tidak luput dari pengaturan. Walau tidak separah bisingnya suara jalan atau rel kereta, suara lonceng gereja atau pengeras suara tetap bisa menimbulkan gangguan kenyamanan.
Masjid
Dalam tahun-tahun terakhir, seiring dengan semakin banyaknya pemeluk agama Islam, di Belanda banyak dibangun masjid. Suara adzan sering menjadi pokok perdebatan. Menurut aturan, sebelum membangun masjid, pengurus harus terlebih dahulu mendapatkan ijin.
Pengaturan suara adzan menjadi salah satu pokok bahasan.
Belanda mengakui kebebasan beragama sebagai salah satu hak warga yang dilindungi oleh konstitusi. Oleh karena itu, pemerintah tidak bisa melarang gereja atau masjid mengeluarkan suara yang berkaitan dengan ritual ibadah.
Namun demikian, tiap-tiap pemerintah daerah boleh mengatur bagaimana tempat-tempat ibadah ini mengeluarkan suara. Yang menjadi tolok ukur adalah kenyamanan warga. Suara lonceng gereja atau suara adzan di pagi buta pada akhir pekan, misalnya, tentu saja akan mengganggu kenyamanan.
Tiap pemerintah kota di Belanda punya aturan yang berbeda-beda tentang suara adzan. Ada pemda yang mengijinkan suara adzan selama lima menit setiap minggunya. Ada yang hanya mengijinkan pada hari Jumat saja. Tapi, secara umum suara adzan hanya diijinkan pada siang hari.
Yang jelas setiap pemda dan pengurus masjid telah punya kesepakatan tentang kapan dan seberapa keras suara Adzan bisa diperdengarkan. Tidak jarang, pemerintah kota mewajibkan diadakannya penelitian sebelum menetapkan aturan untuk adzan ini.
Lokasi, besar kecilnya gedung, tingginya menara dan lain-lain perlu mendapat kajian.
Adzan terbatas
Masjid masyarakat Indonesia di Den Haag, Al Hikmah, tidak pernah mengumandangkan adzan dengan memakai pengeras suara.
“Warga sekitar kan mayoritas bukan muslim, jadi tidak perlu dikumandangkan adzan dengan pengeras suara,” kata Hambali Maksum, salah satu pengurus masjid. Ia menambahkan, pada saat didirikan pada 1996, masjid yang memakai gedung bekas gereja ini sudah sepakat dengan pemerintah setempat bahwa mereka tidak akan mengumandangkan suara adzan.
Suara masjid diperdengarkan di dalam gedung saja.
Walau secara umum masjid-masjid di Belanda tidak mengumandangkan suara adzan dengen memakai pengeras suara, di beberapa tempat masih muncul protes dari warga sekitar karena suara adzan yang mereka dengar.
Biasanya, protes semacam ini akan diselesaikan melalui jalur hukum. Hakimlah yang memutuskan boleh tidaknya suara adzan diperdengarkan.
Situasi di Belanda tentu saja sangat berbeda dengan Indonesia yang mayoritas muslim dan punya tradisi memperdengarkan suara adzan. Namun demikian, wacana pengaturan polusi suara bukanlah sesuatu yang mengada-ada.
Kenyamanan dan kesehatan warga perlu menjadi bahan pertimbangan dalam membahas wacana tentang pengaturan suara adzan.














“Nederland merdeka adalah negara tanpa loadspeaker ibadah dan seharusnya memahami sikon di Republik Indonesia agar jangan sampai kekeliruhan merusak pengelolaan negeri dan kesatuan bangsa Belanda!”
Masjid Berisik Menghancurkan Islam Dari Dalam. Kenapa teman anda mendadak marah ketika masjid berisik dikritik? Bukan menanggapi kritik dengan baik, justru membabibuta memuntahkan bergagai tuduhan keji tak berdasar pada pengkritik,seolah ingin membungkam, agar si pengkritik diam dan segera beralih ke topik lain saja. Kenapa ada orang-orang begitu gigih membela masjid pengganggu lingkungan sekitar yang jelas-jelas menyalahgunakan speaker / toa? Tulisan berikut ini bakal bikin anda mengerti penyebab perilaku mereka; Pertama, mari kita ingat dulu fakta-fakta dasarnya yang berkaitan dengan Allah, pihak yang namanya sering mereka pakai sebagai alat pembenaran: Apakah Allah budeg, tuli, congean dan autis hingga perlu diteriaki/dibentak-bentak pakai toa? TIDAK. Islam justru yakin bahwa Allah Maha Pendengar. Apakah Islam menganjurkan berdoa atau memuji-muji dengan berisik? TIDAK. Justru dalam Qur’an surat A’raf 55 dan 205 dikatakan bahwa Allah tidak suka orang yang berdoa/memuji-muji dengan sambil pamer apalagi berisik. Malah menganjurkan agar hal macam itu dilakukan secara pelan, lembut dan khusuk dalam privasi. Apakah Islam menganjurkan untuk jerit-jerit pamer suara pakai toa? TIDAK. Justru perbuatan riya termasuk perbuatan yang sangat dibenci. Hanya dengan 3 poin tersebut, jelas bahwa tradisi berisik di masjid pakai toa bukan ajaran Islam dan dibenci Allah. Tapi mengapa kebiasaan buruk ini justru digiatkan dan dibela oleh orang-orang tertentu? Malah aktif dilakukan oleh lingkungan penguasa masjid yang mustinya sudah membaca dan lebih faham Qur’an? Sekarang kita lihat selami ajaran-ajaran yang terkandung dibalik masjid berisik… Apa yang sebenarnya mereka dakwahkan melalui tradisi berisik pakai toa masjid? Ajaran Intoleransi dan egois, alias tidak toleran alias persetan dengan orang lain. Tidak peduli tetangga yang profesinya buruh pabrik baru pulang dari shift malam dan sangat butuh tidur, ibu-ibu pengajian malah berisik pakai toa. Tidak peduli ada orang sakit butuh istirahat, mic diserahkan pada anak kecil agar suara cempreng membahana ke seluruh kampung. Adu keras pakai toa, adu riya dengan masjid sebelah yang juga tak kalah berisik. Pembodohan. Seharian anak-anak kita disiksa oleh kurikulum yang pekat dan menguras energi. Sore, petang, atau malam harinya dengan sisa-sisa tenaga mereka ingin belajar lagi. Tapi konsentrasi belajar diganggu oleh bisingnya suara masjid. Jangankan belajar, nonton TV saja susah karena suaranya tidak terdengar, kalah sama bisingnya toa masjid. Sekolah masuk siang dan belajar pagi? Jangan salah, pagi hari juga ada ibu-ibu pengajian mainan toa nyambi arisan di masjid. Belajar subuh? Malah parah, banyak jompo-jompo alay mengigau lewat toa masjid. Mengganggu proses belajar dengan suara bising, menciptakan generasi bodoh di sekitar masjid, itulah salah satu tujuan mereka. Pemiskinan. Ini jaman internet, orang bisnis dan transaksi bisa dari rumah lewat telpon. Tapi telpon tidak akan bisa digunakan karena toa masjid nonstop membahana, kita ngomong apa, di seberang yang terdengar suara doa. Riya. Ajaran pamer, ajaran sombong, ajaran ngeksis. Merasa suaranya keren dan harus dikagumi orang sekampung, merasa curhatnya pada tuhan lebih penting dari ketenangan orang lain, hingga orang sedusun dipaksa ikut mendengar. Merasa dakwahnya penting hingga memaksa orang sekecamatan harus ikut menyimak dengan toa yang disetel maksimal. Melekatkan Branding Buruk pada Islam. Seolah-olah masjid berisik itu ajaran Islam. Seolah-olah sifat intoleran, egois, berisik, bego, miskin, riya adalah ajaran Muhammad SAW. Label seperti ini mereka rekatkan terus-menerus secara konsisten dan sistematis tanpa ada seorangpun yang menyadari bahwa agamanya sedang dinistakan. Padahal pelaku yang aktif terlibat cuma segelintir, paling di tiap masjid cuma dipimpin ustad dan segelintir muridnya yang telah dibrainwash. Sedikit pelakunya, tapi efeknya nasional bahkan meng-global: Islam sedunia jadi buruk rupa karena ulah jahat mereka. Nah, segala ajaran nggak bener ini terus menerus digemakan lewat toa ke telinga penduduk sekitar, beresonansi dan menggema dalam setiap jiwa, mempengaruhi pikiran dan prilaku orang-orang yang ada di sekitar masjid berisik. Warga pada awalnya mungkin terganggu, kemudian terbiasa, dan lama-kelamaan mengganggap itu wajar hingga akhirnya secara tak sadar mengikuti dan membela kebiasaan jahat tersebut. Persis seperti dengan anak baru jadi PNS yang baru masuk ke lingkungan penuh korupsi, awalnya mungkin risih dengan senior-senior korup, lalu terbiasa, dan lama-kelamaan ikut berlomba-lomba korupsi dan setiakawan membela sesama koruptor. Sekarang kamu bisa pikir sendiri sudah sesukses apa mereka merusak Islam dengan dakwah sesat lewat tradisi masjid berisiknya? Kita bahas sedikit: Egois dan intoleran? Lihatlah bagaimana dakwah ini sangat sukses mempengaruhi kehidupan sebagian umat Islam. Kebiasaan yang suka maksa-maksa dan persetan banget sama hak orang lain, hobi marah, gampang menghancurkan dan merusak. Bahkan penyakit Intoleransi ini begitu mendarah daging sampai terbawa dalam prilaku di jalan raya. Kamu lihat banyak orang yang kenalpotnya berisik setan dan arahnya distel freeflow nyembur langsung ke muka pengendara yang ada dibelakangnya. Atau yang lampu remnya dibikin bening, bukan merah, sengaja supaya menyilaukan pengendara dibelakangnya, biar bingung susah melihat dan rentan celaka. Itulah diantara hasil kesuksesan dakwah egoisme dan intoleransi. Jangan lupakan ruang-ruang publik, perhatikan kelakuan jamaah NU (Nahdatul UDUD) yang kalau merokok selalu sembarangan, membuta mengikuti ajaran ulama-ulama mereka yang kerjanya ngeracun orang-orang sekitarnya. Dan jangan lupakan para koruptor yang ringan hati mengorbankan orang lain demi uang. Mereka semua pasti sering terpapar dakwah jahat dari masjid super berisik, tiap hari sejak sebelum subuh hingga larut setelah isya pikiran mereka terus didakwahi dengan intoleransi dan egoisme, tak heran jika sehari-hari prilakunya sangat intoleran dan egois. Pembodohan? Ya elah, ga usah dijelasin lagi ini sih. Sebego apa sih sebagian besar anak-anak alay kita sekarang? Putus asa berusaha belajar dibawah siraman suara toa, daripada otak rusak, mereka pikir lebih baik dengerin headset disetel keras-keras… Yang disetel musik alay, alay pop, alay metal, alay dangdut. Kupingnya rusak, pikiran tetep rusak juga karena lirik-lirik alay nan cengeng. Akhirnya ya tetep bego. Bego + intoleran + stress = Mudah diprovokasi buat tawuran. Tawuran kan banyak dan sering banget tuh, coba diperiksa itu para pelakunya, pasti tinggal dekat masjid toa berisik. Pemiskinan. Udah miskin, bukannya cari tahu kenapa dimiskinkan dan dieksploitasi terus, bukan mikir solusinya, malah ikutan berisik di masjid ngebentak-bentak Allah. Sampe kiamat super kubro juga ga bakalan berubah itu nasib, mendukung masjid berisik malah bikin orang sekitar ikut bego dan melarat. Riya. Suara butut dengan topik cuma sekelas awewe salaki, pentingnya kepatuhan bini pada suami sambil curi-curi promosi poligami, tapi disetelnya keras-keras sekecamatan dipaksa dengar. Sekian jam sebelum dan sesudah azan selalu jerit-jerit pamer mantra pelet “ya wadud” sekian ribu kali. Pamer puja-puji untuk almarhum Nabi dan sahabat-sahabat nongkrongnya, atau nyanyi-nyanyi tak jelas dalam bahasa Arab bangun tidur. Dan yang paling parah adalah teriak-teriak La ilahailallah, jerit-jerit mengolok-olok Allah seringnya dengan nada membentak-bentak. Yang tua bangka pamer suara butut di masjid, yang abege-abege terpengaruh ikutan pamer juga… Pamer apapun yang bisa dipamerkan sambil mengganggu orang lain. Entah suara kenalpot butut sampai sekedar suara kentut, yang penting ngeksis dan ikut berisik. Apa yang mau dipamerkan? Apa kebaikan yang bisa diambil dari abuse toa masjid seperti itu? Mending adu ngeksis virtual di twitter sana, umat punya pilihan buat unfollow kalo jeritannya sampahnya sumbang. Branding buruk? Jika Amerika sudah sukses membranding Islam dengan label teroris, maka musuh-musuh dari dalam selimut sukses membranding Islam Indonesia dengan label intoleran, egois, bego, miskin, riya dan maniak speker/toa. Apesnya kita, branding ini pengaruhnya bukan cuma di mata orang yang melihat, karena dilakukan dan dipancarkan dari masjid, yang lokasinya berdekatan dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia, ini menjadi dakwah yang sukses mempengaruhi prilaku umat sehari-hari. Nah, sekarang kita pantas bertanya: Jika ajaran-ajaran jahat yang menghancurkan Islam dari dalam ini terus membahana dari masjid-masjid berisik. Terus mempengaruhi pikiran dan prilaku orang-orang disekitarnya… Mengapa pihak otoritas (Pemerintah & MUI) terus membiarkan? Bukannya ditertibkan dan diIslamkan, masjid-masjid berisik justru semakin brutal dibangun bahkan dengan drum-drum dan barikade minta sumbangan yang dibuat seenaknya ditengah jalan, yang mengganggu dan membahayakan semua pengguna jalan raya. Bingung? Ya lihat lagi faktanya: Pemerintah kita memang korup. Nyaris semua orang partai penguasa yang nongol di TV jerit-jerit pencitraan “Katakan Tidak Pada Korupsi” ternyata terlibat korupsi. Departemen Agama terkenal korup, bahkan pengadaan Qur’an pun dikorup. MUI? Ya mereka cuma alat penguasa, coba perhatikan bagaimana mereka lebih semangat mengadu domba umat dengan fatwa sesat daripada berusaha membuat umat kompak dalam kebhinekaan. Sudah terlihat benang merahnya? Gini… Agar pemerintahan korup bisa langgeng berkuasa, bebas merampok rakyat, bebas mengobral sumber daya alam ke perusahaan asing, maka rakyat harus dijaga agar tetap bodoh, tidak sadar dan tidak kompak. Salah satu caranya ya dengan mengajarkan intoleransi, egoisme, pembodohan, pemiskinan dan riya… Salah satu caranya ya melalui masjid berisik. Tentu banyak cara lain, misalnya sengaja membiarkan guru-guru penyebar ajaran terror menciptakan para pengantin bom, nanti ditangkapnya tebang pilih, cuma pengantinnya saja, tapi gurunya dibiarkan bebas menciptakan pengantin baru. Lalu beritanya diekspos sedemikian rupa biar heboh sampai orang luar simpati dan kasih bantuan untuk dana anti terror… dan anti Islam. Hasilnya sambil menyelam minum air, sambil menjelekkan Islam dengan branding teroris, efektif juga jadi alasan buat minta sumbangan ke luar negeri. Tapi itu cerita lain. Yang jelas, dakwah intoleransi dan egoisme itu bikin umat Islam sangat bermasalah, ndak cuma sama umat agama lain, tapi dengan sesama Islam sendiripun pasti ribut terus. Sedangkan pembodohan, pemiskian, dan riya ga penting itu sudah paket komplit untuk bikin sibuk orang miskin, miskin lahir batin. Sudah mulai paham kan? Nah, sekarang jika anda bertemu orang-orang yang disinggung di pembukaan tulisan ini, kamu bakal ngerti mereka bahwa mereka itu sedang semangat menghancurkan Islam dari dalam. Walaupun mereka melakukannya tidak secara sengaja penuh kesadaran (karena mereka mungkin cuma korban brainwash dari guru-guru mereka), tapi tetap mereka sedang aktif berusaha menghancurkan umat dari dalam. Semoga kamu bisa dan berani mengambil sikap yang tegas terhadap mereka…. Tapi kalau kamu takut ya wajar, wajar banget, sejak kecil kita sudah dilatih taat dan takut pada orang yang kalau ngomong sering menukil ayat ini dan hadis itu sambil dikit-dikit nyebut Allah. Para munafikun memang sudah berevolusi, mereka justru lebih pandai mengatasnamakan agama dan memperalat nama Tuhan untuk mempengaruhi pikiran anda, menakuti hati anda dan memperbudak anda agar patuh mengikuti dan mendukung misi mereka untuk merusak, memecah belah, adu domba membodohkan dan menghancurkan manusia demi kepentingan segelintir penjajah. Ya kalau takut, minimal anda bisa sodorkan tulisan ini. Semoga dengan begitu mereka bisa insyaf sendiri dan menghentikan usaha-usaha jahatnya itu.
Masalahnya suara adzan sdh menjadi bagian dr budaya dan penduduknya mayoritas moslem.
Dalam filsafat Pancasila semua religi terlindung sesuai dengan syarat2 yang berlaku. Keberadaan reformatif yang tidak jelas membuat kelompok-kelompok minoritas mengekspresikan kebenarannya atas kehendak sendiri yang berakibat tidak berguna bagi masyarakat secara luas. Ketidakpahaman terhadap agama, toleransi dan “politik-khusus” masyarakat yang diam dalam apati karena kurang istirahat-tidur secara berkualitas, tertimbun dalam sindrom kecapaian kronis. Demokrasi-publik harus mulai berdiri atas kesatuan rakyat dengan tujuan memerdekakan Nusantara dari segala ketidakadilan dan praktek2 yang tidak sesuai dengan konstitusional-nya. Kelebihan suara yang timbul dari knalpot bising dan loadspeaker adalah hasil dari persekutuan kebisingan, oknum yang mencari perhatian. Bukan kelakuan dan keinginan mayoritas yang berjuang setiap hari. Kesopanan dalam masing-masing suku dan agama perlu bangkit kembali berdasarkan akar budaya, langit konstitusi dan pendidikan negeri yang menjadikan seseorang dapat diajari untuk berfikir dan berdiri atas pola akhlak dan memahami hak individual dalam masyarakat.
bagus semua..udah ngerti toleransi..jangan ngotot seolah-olah kalau speakr 100000watt terus masuk sorga. kalau hanya memanggil orang sholat sih gak perlu pakai pengeras,minta tolong aja sama polisi.
keputusan Dirjen Bimas Islam nomor: Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Keputusan itu ditandatangani oleh Dirjen Bimas Islam saat itu, Kafrawi, pada tanggal 17 Juli 1978
harusnya aturan pemimpin diikuti mereka
menurut saya kita boleh-boleh ajah berpendapat tapi tidak harus memojokan salah satu agama,,bukannya setiap agama harus saling menghargai,,??
Bagi aku mau pake pengeras sekencan-kencangnya ga masalah asal pada jam yang masuk akal. Masalahnya pada waktu adzan di kampungku, sebelum jamnya pun i.e. jam 2 pagi sudah mulai teriak-teriak disertai pengumuman2 ga jelas! Kadang anak-anak kecil baru belajar zikir teriak-teriak ga jelas. Tradisi sih tradisi tapi 100 tahun lalu speaker ga ada yang sekeras sekarang, sekarang masjid di daerah rumahku ada 5 dan semuanya adu keras2an teriak. Coba kalian yang ga setuju akan pengaturan ini tidak emosi dulu tapi pikir kasus-kasus di daerah. Mungkin di daerah kalian memang ga masalah tapi di daerah lain suara adzan memang mengganggu sekali terutama bagi orang tua dan anak-anak yang butuh istirahat. Jadi setuju sekali jika memang ada pengaturan suara. Bukan aneh tapi diperlukan.
Ala omong kosong semuanya. Lihat saja Bapak President dengan Mes Culpa, itu bahasa apa lagi? Ini main ambil saja kata semaunya siapa rasa diri berkuasa. Mea Culpa, itu apa untuk kepentingan negara kita ini lagi? Kenapa tidak bilang saja Indo Mes? Sehari 5 kali patuh pada sembayang, menggunakan pengeras suara lagi, tapi kelakuannya, lebih dari harimau dan beruang lapar. Tidak ada keterangan yang sehat datangnya dari yang memeluk agama Islam. Semuanya mau merasa dirinya tau tentang Alahnya. Tidak ada satupun yang sadar dan mengalah, dimana saja, mereka semua mau menang saja. Tidak ada kasih dalam diri mereka, melainkan berkesan untuk selalu berperkara. DiBelanda kalau pemerintahnya tidak berhati hati, lama lama mereka membangun mesjid ditengah pasar. Dan itulah cara mereka tanpa memikirkan kepentingan bermasyarakat. Mereka lebih mengutamakan mesjid dari kepentingan masyarakat umum. Jadi kalau pemerintah Belanda tidak keras dari sekarang, akibatnya buat anak cucunya dikemudian hari. Wilders benar.
Woiii.. kita sama2 usir itu londo tapi kamilah (umat Islam) yang banyak ambil peran untuk usir itu londo. Sebagian kalian sebenarnya masih ada rasa khianat terhadap Indonesia.
Pergilah dengan Indonesiamu yang kolot dan islamisasi itu deh, tak ada gunanya membicarakan negara bludek kaya gitu ma bawa aja di Arab sana. Supaya semuanya jalan dengan tutup muka sedangkan pantatnya kelihatan. Indonesia itu negara model apa itu?
Ini Berita yang Paling Tolol yang aku baca!!
Gusti Allahnya Budeg kaleee...
orang kristen membunyikan lonceng gereja kalau ada badai dan petir dengan alasan petir adalah setan. Dengan membunyikan lonceng setan akan pergi.... kenyataannya yang membunyikan lonceng malah sekarat disambar petir. Haha...
Agama kristen pakai lonceng, agama buda pakai beduk dan ketuk bagaimana?
Gusti Allahnya Budeg kaleee...
Gusti Allahnya Budeg kaleee...
Mas, mas, kapan orang islam itu sadar dan mengerti? Kenapa mereka menggunakan pengeras suara segala dalam mengaji atau berdoa? Apakah itu suruhan Tuhannya orang islam? Tapi pertanyaanku ialah, kenapa sampai memakai pengeras suara di mesjid? Mau tonjolkan suara untuk diketahui sesama saudara ataukah itu ajaran Tuhan? Apakah dulu juga Mohamad berdoa dengan penggunaan pengeras suara dipadang pasir yang gersang itu? Gila semuenye.
Suara Adzan .. berisikk.
Bukan jamannya lagi di gunungx2, kalo waktu adzan itu mesti pakai corong. Coba aja kalo agama lain pakai corong pas lagi kebaktian, apa kalian mau?
Di Negara Republik Indonesia, fakta: diDKI saja,setiap jengkal tanah berdiri mesjid, musolah, disetiap kantor baik di Kementerian maupun swasta bahkan rumah tinggal, selalu dipasang corong/toa kearah empat penjuru...!!!dari subuh, lohor, asar, magrib dan Isa suara azan yang sangat memekakan telinga...juga dari semua radio, tv, sampe ke hp ,...seolah-olah kita ini tinggal ditengah padang pasir yang tadus...!!! juga diselingi lagu-lagu kasidah arab... Brisiiik!!! juga suara ustad-ustad berdakwa (propaganda) teriak teriak penuh dengan asutan kebencian dan kekerasan... mimpi Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, Darul Islam/DITII sedang dilaksanakan oleh PKS dan dan partai-partai politik lainnya yang berbasis Islam, Muslim Brotherhood...!!!
Kalau anda merasa kebisingan anda tak usah datang ke Jakarta. Tapi memang pemerintah dan polisi sangat aneh, sudah ada undang-undang dan peraturan lingkungan hidup yang menetapkan bahwa kebisingan dibawah 50 dB tetapi orang-orang yang memakai sepeda motor maupun mobil yang kenalpotnya dibuka sampai menghasilkan suara keras diatas 100 dB tidak pernah ditangkap dan diadili.Jadi tampaknya pemerintah dan pegawainya itu hanya mencari duit untuk ditimbun ke anak cucunya saja. Negara keropos yang perlu diobrak-abik dengan revolusi.
Kebisingan suara itu bukan cuma di Jakarta Bung ! tapi sudah merata di seluruh penjuru Indonesia !!
Saya setuju dengan semua isi tulisan Ranesi di atas mengenai suara Azan. Yah harus fleksibellah, tapi memang seyogianya suara azan tidak perlu memakai pengeras suara, siapa tahu di sekitarnya ada orang yang sedang sakit bahkan sakit jantung, orang non muslim pula. yah alangkah baiknya jadi orang bijaksana, yang selalu memperhatikan orang lain.
Harusnya seperti itu bung Taufiq...Saya pun sependapat dengan anda dan dimanapun harusnya ada perasaan untuk menghormati hak orang lain...Mantap
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.