Amerika akan mengambil alih Uruzgan dari tentara Belanda Agustus mendatang. Den Haag sebelumnya selalu berharap skenario hitam ini jangan sampai terjadi. Tapi harapan itu sirna sudah.
Amerika merupakan batu sandungan besar menyangkut keberadaan pasukan Belanda di Uruzgan. Militer Belanda di Uruzgan menginginkan pemerintahan yang baik di Uruzgan. Dan untuk itu tentara Belanda berupaya keras untuk mewujudkannya. Namun Amerika yang juga masih aktif di Uruzgan masih membidik beberapa panglima perang yang berpengaruh serta musuh Taliban, yang dapat membungkam perlawanan Taliban. Namun memikirkan bentuk penyelesaian damai tidak dilakukan oleh pasukan Amerika.
Contoh lainnya. Belanda tidak mau memberi dukungan untuk milisi di DehRawod atau di wilayah Chora, karena mereka hanya memikirkan sukunya sendiri, serta menyingkirkan milisi lainnya. Namun Amerika justru melakukannya dan mengirim dana ribuan dolar ke mereka.
Saingan
Jadi Belanda tidak hanya melawan musuh standard di Afganistan, namun juga bersaing dengan sekutu mereka Amerika. Kendati NATO merupakan sebuah persekutuan namun Belanda dan Amerika ternyata saling bersebrangan dalam empat tahun belakangan.
Perbedaan pendapat
Hal itu tidak hanya menyangkut perbedaan budaya. Masalah lainnya adalah perbedaan pendapat yang terus berlangsung soal perwujudan perdamaian di Afganistan. Kemajuan yang dicapai oleh Belanda dan Aftanistan di beberapa wilayah belum cukup untuk menyakinkan Amerika untuk merubah strateginya. Selain itu, dua kamp pasukan Amerika kini berubah menjadi benteng. Hal itu diakibatkan risiko bahaya yang terlampau tinggi di luar pintu gerbang.
Tentara Amerika yang diwawancara oleh penulis kebanyakan dengan nada sinis mengomentari apa yang dinamakan pendekatan lunak pasukan Belanda. Istilah-istilah seperti berbicara, berunding dan pemerintahan yang baik tidak ada dalam istilah mereka. Itu membutuhkan waktu yang sangat lama, demikian reaksi pasukan Amerika rata-rata.
Dalam beberapa bulan terakhir, pencarian soal siapa yang menggantikan Belanda kembali meningkat. Inggris diminta dengan sangat untuk menggantikannya karena negara itu dianggap lebih mengerti soal pendekatan lunak Belanda yang dianggap sukses. Selain itu Denmark juga dianggap kuat, namun menuntut agar Belanda juga harus tetap tinggal. Dan itulah yang ditentang oleh parlemen Belanda.
Turun di Jajak Pendapat
Loby Belanda akhirnya terdampar di NATO. Kenyataannya di Afganistan tidak ada lagi yang dapat disebut teman sekutu. Negara-negara barat, saat ini disibukan dengan menarik simpati di negara sendiri. Dengan demikian tidak ada lagi waktu untuk membahas propinsi lainnya di Afghanistan. Meskipun dapat dikatakan Uruzgan adalah sukses terbesar yang diraih selama ini di antara negara-negara NATO di wilayah tersebut.
Amerika memiliki kemauan, uang dan ruang. Mulai Agustus mendatang, akan ada gaya yang lain. Panglima perang lama akan kembali mendapat kekuasaannya dan akan menguasai milisi dengan taktik memecah belah dan penguasaan. Selain itu Uruzgan akan mendapat perhatian yang kurang dibanding jika Belanda berada di sana.
Pada Desember nanti, Amerika juga akan mempertimbangkan bahwa propinsi itu bukan lagi masalah yang paling penting. Bukankah kami juga harus mempertimbangkan Helmand dan Kandahar?






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.