Desa-desa di Kecamatan Ciseeng, Bogor tercatat sebagai wilayah yang termiskin di Jawa Barat. Padahal, jaraknya hanya 60 kilometer saja dari ibukota. Warga di desa-desa itu kesulitan mengakses modal untuk usaha.
Para penduduk desa terlalu miskin untuk meminjam modal di bank yang mensyaratkan jaminan. Padahal, banyak usaha yang dapat dikembangkan di sana.
Lembaga keuangan mikro Amartha hadir menolong mereka dengan memberikan pinjaman lunak bagi warga Ciseeng. Sasarannya adalah kaum perempuan dengan harapan mereka dapat berdaya dan meningkatkan penghasilan keluarga. Reporter KBR68H Mellie Cynthia mengunjungi desa-desa di Ciseeng, Bogor memotret upaya pemberdayaan perempuan di sana.
Mencari keong
Asmanah, warga Desa Cibeuteung Udik, Ciseeng, Bogor baru saja pulang selepas mencari keong di sawah. Itulah kegiatan rutinnya setiap hari dari pagi hingga siang. Keong-keong di dalam ember itu untuk pakan 13 bebeknya yang ia beli sejak setahun lalu.
Asmanah beternak bebek untuk dijual telurnya. Ia tidak bisa sepenuhnya bergantung dari penghasilan suaminya 50 ribu rupiah per hari sebagai buruh tani.
Asmanah bercerita, awalnya ia tidak punya uang untuk membeli bebek. Ia takut meminjam dari bank karena tidak punya harta benda yang bisa dijaminkan. Apalagi, uang yang ia butuhkan juga tidak banyak. Karena itu, saat Koperasi Amartha Indonesia menawarkan pinjaman tanpa jaminan dengan bunga rendah, ia pun langsung mengiyakan.
500 rupiah
Untuk uang 500 ribu rupiah yang dipinjamnya, Asmanah cukup membayar cicilan 13.600 rupiah per minggu selama setahun. Jumlah itu sudah termasuk bunga sekitar 20 persen. Saat ini, ia hampir melunasi pinjamannya. Tahun depan, ia berencana meminjam 1 juta rupiah untuk menambah modal usaha jualan telur bebek.
Menurut pendiri Koperasi Amartha Indonesia, Andi Taufan, pinjaman 500 ribu rupiah per tahun ini pas untuk memulai usaha skala rumah tangga bagi masyarakat desa. Maksimal pinjaman 3 juta per tahun.
"Nilai 500 ribu itu kita sudah survei ke desa. Kalau mau memulai usaha berapa umumnya, standarnya, risikonya juga bisa kami kelola. Risiko perorangan cukup kecil, itu bisa memberi nilai tambah, bisa memberikan modal awal dan berputar usahanya. Ketika mereka sudah siap dengan pembiayaan lebih besar, setahun mereka bisa akses modal lebih besar lagi, yakni satu juta rupiah."
Perempuan
Dadang, Ketua RT di Kampung Cigelap, Cibeuteung Udik, menyayangkan sikap pemda serta bank yang enggan memberikan pinjaman modal kepada masyarakat desa, apalagi kaum perempuan.
"Setahu saya belum ada upaya pemda mendukung usaha ibu-ibu ini. Kalau pinjam duit ke bank, banyak syarat-syaratnya. Permintaan orang Bank, ditanya usaha? Boro-boro buat usaha, tidak ada modal gimana usahanya. Kita kan mengajukan untuk buat usaha, gimana mau maju?"
Koperasi Amartha yang dibentuk sejak 2009 lalu ini memang bertujuan menggerakkan roda ekonomi desa melalui pemberdayaan kaum perempuan. Tujuannya untuk mempersempit jurang kesenjangan antara warga kota dan desa. Seratus persen anggota koperasi adalah perempuan.
Tanggung renteng
Kelompok Mawar adalah salah satu dari 60-an kelompok perempuan binaan Koperasi Amartha di Ciseeng. Saat ini, total anggota Amartha berkisar 1000 perempuan yang tersebar di tujuh desa. Jika ada anggota kelompok yang tidak disiplin melunasi cicilan, maka Amartha menerapkan sistem tanggung renteng, yakni seluruh anggota kelompok yang bertanggung jawab membayar.
Syarat untuk menjadi anggota Amartha tidak sulit. Selain wajib hadir dalam pertemuan kelompok, mereka juga harus sudah menikah dan mendapat izin suami. Syarat menikah sesuai dengan tujuan Amartha agar pinjaman itu bisa membantu meningkatkan penghasilan keluarga.
Izin suami diperlukan karena pinjaman itu harus dikelola bersama dalam keluarga.
Kesejahteraan keluarga
Koperasi Amartha bergerak dari keprihatinan Andi Taufan akan sulitnya akses modal bagi masyarakat desa. Amartha menyasar kaum perempuan, karena menurut pemuda berusia 24 tahun itu, perempuan punya peran penting meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
"Ketika perempuan punya peran bisa memberikan penghasilan tambahan buat keluarga, kita memberdayakan perempuan, punya posisi tawar di keluarganya, yang tadinya dia hanya menerima uang sehari-hari buat dibelanjakan, di sini dia bisa menghasilkan uang buat apa yang mereka rencanakan. Dia prioritaskan itu untuk keluarga dan anak-anak untuk sekolah, kualitas hidup meningkat, punya sanitasi lebih baik, dari kamar mandi luar jadi di dalam. Yang tadinya rumah ada yang masih panggung, diplester pakai semen dan bilik jadi bata."
Atas kiprahnya ini, akhir bulan lalu Andi Taufan diganjar penghargaan Satu Indonesia sebagai pelopor gerakan ekonomi mikro untuk masyarakat pedesaan. Awalnya, dana pembiayaan ia rogoh dari koceknya sendiri. Sekarang ia telah bekerjasama dengan sejumlah bank dan investor untuk menggerakkan usaha pinjaman mikro ini.
Saat ini, semakin banyak perempuan Ciseeng yang ingin mengajukan permohonan pinjaman dari Amartha.
Bagi mereka tak ada kata putus asa untuk berjuang demi kesejahteraan keluarga. Yang terpenting, anak bisa sekolah dan tinggal di rumah layak.


























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.