Posisi Wim Rijsbergen makin sulit dipertahankan, menyusul kekalahan timnas Indonesia dari Iran dan Bahrain. Berbagai pengamat di Belanda sudah memprediksinya. Sebuah Opini!
Situs Sport1 menulis: "Piala Dunia terlalu jauh buat Wim Rijsbergen. Setelah dua kekalahan di kwalifikasi PD2014. Indonesia menduduki juru kunci grup E."
Sejak penunjukannya jadi pelatih timnas Indonesia paroh Juli 2011, pengamat dan media di Belanda sudah menyangsikan kecocokan antara pelatih asal Belanda ini dengan timnas Indonesia. Wim terlalu singkat berada di Indonesia untuk bisa melakukan persiapan dengan baik, itulah yang mendasari berbagai pendapat.
Masalah waktu ini tampak dalam persiapan yang mepet dalam menemukan lawan tanding untuk timnas. Rencana latihan lawan Malaysia, Korea Utara, Oman beruntun batal dan pada saat terakhir.
Emosi
Soal lain adalah bahasa dan budaya. Sebagai orang 'baru' yang menukangi timnas, Rijsbergen kurang faham dengan ikatan emosi skuad Merah Putih dengan fans dan politik. Tanggapan negatif tentang penampilan skuad Garuda pasca laga kontra Bahrain langsung menyulut emosi publik Indonesia. Masyarakat bola tidak mau terima, meneer dari Belanda itu mengatakan "Yang bermain tadi bukan timnas saya."
Walaupun ungkapan itu sudah sering kita dengar dari mulut pelatih usai jumpa pers di Belanda dan Eropa. Di Belanda ungkapan itu berarti: "Saya tidak mengenali permainan skuad itu. Mereka tidak menjalankan instruksi taktik yang saya harapkan."
Riedl Faham
Alfred Riedl pendahulu Rijsbergen, lebih memahami budaya Asia secara umum. Karena dia sudah beberapa periode melatih timnas Laos dan Vietnam. Riedl lebih faham memainkan perannya. Dia mengerti betul mengangkat hati publik.
Ketika skuad pujaan kalah, maka Rield langsung mengatakan bahwa penyebab kekalahan adalah murni karena kesalahannya. Dia juga pandai menarik simpati publik dengan mengajak skuad lengkap menyatroni pesantren putri, meminta doa sebelum tanding.
Selain itu pelatih asal Austria itu mahfum betul cara andap asor menghargai para pembesar politik dan penyandang dana. Dia ajak seluruh staf dan pemain sowan orang-orang penting. Walaupun secara sportif ini buang waktu saja, tapi Riedl pandai membawa diri.
Itulah hal-hal yang tampaknya sepele namun sangat penting dan hanya bisa dimiliki orang yang sudah lama tinggal di Indonesia atau Asia. Bahkan Riedl dikabarkan sudah menguasai cara berpolitik halus model Indonesia.
Konon dia memanggil beberapa pemain Garuda bertemu, sehari setelah kalah dari Bahrain (6 Sept). Ia ingin menebar kesan bahwa dirinya lebih pantas menjadi pelatih timnas daripada Rijsbergen. Namun aksi ini memberi dimensi baru diskusi timnas Indonesia. Nasibnya sudah terlanjur sial karena terjadi perubahan drastis pada tampuk pimpinan di PSSI Juli 2011 dan penguasa baru bukan dari kubunya.
Orang Panigoro
Akhirnya penguasa baru memilih Wim Rijsbergen sebagai pengganti. Pilihan ini tampaknya lebih karena dia sudah melatih PSM Makassar (LPI) 'kompetisinya' penguasa baru sepakbola. Dan Wimnya sendiri mau menerima tantangan itu karena merasa memahami filosofi Arifin Panigoro yang ingin berinvestasi jangka panjang di sepakbola Indonesia.
Kepada tabloid sepakbola Belanda, Voetbal International dia mengatakan sudah melihat masalah sejak awal:"..pemain timnas yang dipanggil juga belum sepenuhnya siap tempur. Sebagain besar pemain dari kompetisi lain. Saya belum mengenal mereka dengan baik. Memang ini tidak mudah, tapi saya siap berbuat maksimal."
Kecemasan de Haan
Juli 2011 ketika Rijsbergen baru saja diangkat, pelatih kawakan Belanda, Foppe de Haan juga sudah mewanti-wanti. "..sangat berat kalau misinya adalah lolos putaran akhir Piala Dunia, karena akan terganjal negara-negara tangguh di Asia." Ketika itu Foppe sudah menyebut Iran juga sebagai barisan tangguh.
Selain itu de Haan juga menilai waktu yang diberikan pada rekan senegaranya di Indonesia terlalu mepet. Karena ada faktor-faktor awal yang harus terpenuhi untuk menjalankan tugas dengan biak. Mantan pelatih timnas U-23 Indonesia 2006 itu kepada Radio Nederland mengatakan “Dia harus minta kejelasan soal seleksi pemain dan mendapatkan staf yang bisa dipercaya. Lantas pemain sendiri perlu sering latihan lawan tim-tim tangguh.”
Sejak diangkat Wim tidak banyak punya pilihan pemain. Dibanding dengan Alfred Riedl, Wim hanya menambahkan Boaz Solossa di skuadnya. Selain itu dia juga tidak mendapat pendampingan dari staf Belanda yang dipercayanya. Lestiadi satu-satunya orang Indonesia yang paling lama mendapingi di PSM Makassar, pun baru enam bulan mendampinginya.
Lebih dari itu Indonesia menghadapi lawan yang serius di luar ASEAN. De Haan sudah khawatir Wim Rijsbergen akan gagal kalau misinya harus lolos putaran akhir Piala Dunia 2014 Brasil. “Saat ini masih banyak negara saingan yang secara potensi di atas Indonesia. Kalau lawan Irak, Iran, Arab Saudi, Cina, Jepang atau Korea Selatan, Indonesia belum siap,“ paparnya pada Radio Nederland.
Tidak Cocok
Di samping lawan-lawan berat setingkat Iran, Qatar dan Bahrain, John Taihuttu pelatih junior Fortuna Sittard, menilai bahwa Wim Rijsbergen tidak cocok melatih timnas Indonesia. Ia melihat kwalitas pemain nasional Indonesia tidak memadai. "Mereka sudah terlanjur terbentuk. Pelatih asal Eropa tidak bisa lagi merubah kebiasaan yang menurut kita 'salah'."
"Pemain Indonesia terlalu banyak dribbling dan penonton sudah sorak sorai kalau pemain melewati dua orang lawan. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk bisa menjalankan sistem di lapangan," ungkapnya kepada Radio Nederland.
Syarat untuk menjadi tim sukses, menurut pelatih yang mengomandoi tim Keturunan Maluku melawat ke Indonesia Maret 2011, harus memiliki teknis bagus dan mampu bermain kombinasi 1-2 seperti Jerman, Belanda dan Spanyol.
Namun demikian Taihuttu juga meragukan kwalitas Wim Rijsbergen sebagai pelatih. "Sebagai pemain Wim memang sangat bagus. Tapi dia belum pernah menunjukkan prestasi sebagai pelatih. 2006 di Trinidad dan Tobago, dia sukses sebagai asisten (Leo Beenhakker red.), tapi tidak sukses ketika menjadi pelatih kepala."
Jos Luhukay
Ditanya soal pelatih yang cocok bagi timnas Indonesia, John Taihuttu menyebut nama Jos Luhukay pelatih FC Augsburg yang aktif di Liga Utama Jerman. "Dia berlatar belakang Maluku dan memiliki ikatan dengan Indonesia. Pengalamannya di Jerman bisa bermanfaat bagi sepakbola Indonesia."






















Ada yg meneraik dari artikel nya ""Saya tidak mengenali permainan skuad itu. Mereka tidak menjalankan instruksi taktik yang saya harapkan." "
Masalahnya di Indonesia bukan itu interpretasi dari yg Wim ucapkan. Wim bilang itu bukan team saya. Dengan maksud bahwa team tersebut bukan dia yg memilih tapi pelatih sebelumnya dankarena itu dia ingin segera mencari pemain pengganti. Tapi saya sendiri tidak tahu mana yg dia maksud dan mana berita yg benar :) Terlalu awal untuk menilai Wim dan dia juga harus belajar budaya Indonesia.
Wah.. rame banget pembahasannya ya?!
Sebetulnya saya jg bosen dengar teriakan publik indonesia.. "kembalikan riedl.. kembalikan riedl.." screaming,histeris bak seperti anak perempuan abg yg tergila-gila pada aktor film yg di pujanya.
Publik bola di indonesia ini rata-rata suka prestasi instan, mereka lebih pengin lihat hasil gemilang,tanpa mau melihat dan merasakan proses menuju itu.
ditambah lagi mental para pemain timnas.. digertak pelatih langsung ngambek,nulis curhat,sibuk ngurusin syuting film/iklan.. bahkan mengancam akan mogok dari timnas jika masih di latih oleh pak Wim. ini mental pemain apa ya? mereka membela timnas juga di bayar kan..?!
kultur indonesia memang punya ciri tersendiri, tp apakah itu perlu dibawa-bawa ke urusan olah raga bola ini?! ya kpn majunya?! se olah pemain pingin nentuin pelatihnya sendiri.. yg bisa ngerti'in hati mereka.. duuh.. jijay bin letoy..
Saya sih setuju aja atas dampratan pak Wim, tujuannya agar pemain itu melek,masak mereka merem terus?! main di liga kental dengan adu jotos.. giliran di damprat aja ngambek..
Untuk tokoh bola di belanda, tolong dong.. bantu industri bola di negara kami agar bisa melahirkan pemain timnas yg tokcer.. pemain timnas yg professional dan rela berdarah-darah demi membela negara di bidang sepak bola..
Untuk pak tanjung, saya mohon maaf jika ada perkataan saya yg kurang sopan.. terima kasih pak. salam sejahtera untuk anda dan warga indonesia yg ada di sana.
Om Tanjung apakah Jos Luhukay mau melatih indonesia, apakah pak jos juga berbahasa indonesia, apakah menurut om tanjung beliau memang cocok melatih merah putih, terimakasih atas reportasinya tentang pemain indonesia di eropa, dan saya tunggu laporan 2x menariknya baik di RNW maupun di SEPAKBOLANDA ....
Amat menarik menonton percakapan interaktif antara jurnalis Eka Tanjung dan simpatisan Ranesi. Tiba-tiba saya melihat titik cerah yang selama ini tidak saya lihat, yaitu ternyata Eka Tanjung lebih cocok menjadi jurnalis RRI (Radio Republik Indonesia) ketimbang menjadi jurnalis Ranesi. Alasannya: Eka Tanjung tahu begitu banyak tentang persepakbolaan Indonesia, tapi hanya tahu sedikit persepakbolaan Belanda. The wrong man on the right place, kira-kira begitu, ha ha. Jangan marah ya Eka.
Terima Kasih Pak Danny,
Di sinilah kita bisa berkomunikasi. Simpatisan Ranesi banyak, tapi yang benci Ranesi juga ada, itu biasa. Trims juga pujiannya, saya jadi malu dan merasa sejuk membaca tulisan pak Danny. Pengetahuan saya soal sepakbola Indonesia dan Belanda masih dangkal lah pak. Masih harus belajar dari pak Danny yang sudah ulung. Saya tidak mudah marah kok pak, tenang aja. Tetap senyum manis.. Gimana kabar Kinciranginnya apa sudah rampung upgrade nya?
Mr. Wim terlalu pasif saat timnas sedang berlaga, hanya duduk aja sambil coret2 kertas. Coba lebih aktif sedikit dengan turun ke sisi lapangan untuk beri instruksi jika dirasa pemain ada yang berbuat kesalahan.
Tapi disisi lain, tidak salah jika Mr. Wim diberi kesempatan lagi. Siapa tahu di sisa 4 laga : kandang 2kali menang dan tandang 2x bisa menahan seri. Jika itu bisa terjadi, Indonesia lolos atau tidak lolos ke putaran selanjutnya, dia pantas dipertahankan sebagai pelatih timnas Indonesia. Tapi jika ternyata kalah semua dari sisa 4 laga, jajaran PSSI harus realistis untuk mencari pengganti.
Salam Bung Eka, jayalah Timnas Garuda!
Bung Sumartono,
Itulah yang menandakan ada perbedaan besar budaya pelatih Eropa dan Indonesia. Di Eropa kebanyakan memang menyandarkan pada angka dan data. Kalau di Indonesia, pelatih dinilai pada atusiasnya. Saya ingat Louis van Gaal yang semangat di pinggir lapangan sambil melakukan tendangan pencak silat, menjadi bahan omongan publik.
Ini menandakan ekspektasi publik yang berbeda dari seorang pelatih. Saya kok tidak yakin Indonesia bisa meraih angka maksimal dari 4 laga bersisa.
Sudahlah tidak usah dibahas PSSI terutama pengurusnya sami mawon alias podo wae tanpa prestasi hanya ribut melulu karena sudah lunturnya nasionalisme dijidatnya hanya mikirin gimana caranya kaya dengan lewat organisasi PSSI, percoyo ora percoyo yo kudu percoyo bahwa sekarang PSSI kualat alias kena karma ya sudah jelas memperlakukan pelatih saja seperti hewan koq sekarang silakan menikmati hasil kebodohan dan kecongkakanya, mau phk pembantu saja ada omong dan kompensasi ini PSSI boro-boro , inilah kalau penggurus PSSI isinya iblis yang senang sepak bola, cocoknya ikut piala dunia persetanan saja
Bung Bejo,
Waduh kok sumpah serapah seperti itu? Yah kan mengorganisir itu tidak gampang. Apalagi PSSI organisasi yang besar dengan pengurus yang ganti-ganti. Sekarang ini sulit sekali mendapatkan sumber info tentang kompetisi yang baru. PSSI tidak punya situs yang up to date. Tapi mereka ya tidak serendah mahluk-mahluk yang bung sebutkan itu.
Menurut saya, sebaiknya seluruh kegiatan persepakbolaan di Indonesia dilarang. Harus dilarang dan bagi yang melanggarnya harus dihukum seberat-beratnya. Alasannya adalah karena Indonesia ternyata sangat jago untuk segala hal yang terlarang. Tidak percaya?
Lihat ini: Narkoba dilarang, malah semakin banyak pengguna&pengedarnya di Indonesia. Pornografi dilarang, malah produksi film2 dan foto2 artis2 porno semakin merajalela. Terorisme dilarang, liat aja sendiri. Korupsi dilarang, sama juga malah Indonesia bisa disebut sebagai jawaranya di dunia.
Jadi mungkin kalau sepakbola dilarang, hasilnya akan memuaskan.
Bung Fans,
Anda sungguh luar biasa dengan ide cemerlang itu. Logika terbalik. Apakah semua yang dilarang selalu dilanggar? Jangan sampai nanti sepakbola dilarang, malah muncul olah raga baru yang berbahaya. Atau muncul banyak kelahiran anak, karena bapak-bapak kurang hiburan tengah malam. Saya merasakan kejengkelan Anda, dan mencoba mencari solusi. Kalau begitu sebaiknya kita bersabar saja sambil nonton liga-liga asing sebagai contoh. Kenapa tidak menggunakan logika: Kalau timnas Spanyol yang pemainnya pendek-pendek bisa juara dunia, berarti kita yang pendek-pendek ini bisa jadi juara dunia juga.
Terimakasih bung Djenol.
Jangan kawatir bung Djenol, soal olahraga yang berbahaya, sekarang ini saja sudah banyak sekali 'olahraga-olahraga' terlarang yang laris manis dilakukan oleh anak muda di Indonesia. Contohnya banyak sekali balapan-balapan liar di jalanan yang bahkan sering makan korban. Sudah dilarang polisi, tapi malah tetap nekad.
Saya tertarik anda menyebutkan soal banyaknya kelahiran anak. Gak usah susah-susah, bung. Sekarang ini saja kelahiran anak terutama yang di luar nikah itu buanyaknya gak ketolongan, hihi.
Koran-koran di Indonesia, bahkan televisi sekalipun hampir tiap hari memberitakan soal penemuan bayi di tempat sampah lah, bayi di bungkus koran lah, mayat bayi lah, dan lain sebagainya mengenai kegiatan orang-orang yang senang bikin bayi tapi gak mau tanggungjawab.
Tambah lagi khan bukti bahwa Indonesia itu jagonya melanggar larangan.
Berarti, sepakbola juga harus dilarang, dan yang melanggar dimasukkan ke penjara.
Nah, nanti khan ada kasus tuh, bermain bola di dalam penjara dapat diperberat lagi hukumannya,
dan bagi sipir yang ketahuan terlibat, akan dihukum juga.
Setelah itu tunggu selama kira-kira 25 tahun, lalu sepakbola diperbolehkan lagi untuk dimainkan.
Saya yakin saat itu Indonesia akan langsung berada minimal di urutan 10 rangking dunia FIFA, ik-ik-ik-ik
Fans Berat Bung Djenol
menurut saya lebih baik Timnas dilatih Rachmad Darmawan atau Wolfgang Pikal aja deh...
Thanks Wira,
Bisa kasih alasannya mengapa mereka?
Kalau Rachmad Darmawan bisa kita lihat hasilnya di SEA Games 2011 ini. Kalau tugas skala negara-2 ASEAN sukses, nah bisa kita angkat dia untuk tugas lebih berat. Tapi Pikal apa sudah punya track yang bagus, sebagai pelatih kepala? Jangan-jangan cuma jadi bulan-bulanan lagi nanti?
apakah anda bung tanjung punya profil pemain Keturunan Indonesia yang paling sukses di Belanda (Eropa)selain Van Broncost ? trims
Bung Rangga,
Ada beberapa bung. Beberapa hari silam saya wawancara dengan salah seorang keturunan Indonesia yang masih aktif di Liga Inggris. Artikelnya akan kami munculkan di situs Radio Nederland ini.
kalo emg g sanggup knp dl mau di mintain jd pelatih???
*aneh
Hai Anon,
Kalau Wim nya sendiri sih Pe-De abis. Sampai sekarang juga dia masih yakin bisa merampungkan tugas.
Hanya pengamat di Belanda ini melihat masalah dan ganjalan mendasar yang menghambat Wim tidak akan bisa optimal. Dia sih semangat 45, rupanya. Kecuali ada perkembangan baru detik ini, yang aku tidak tahu.
Iya bang hambatan yang ada di pemain kita terlalu banyak. mereka tidak siap jika mendapat pelatih yang keras dengan disiplin yang tinggi. merujuk dari persiapan salah satu tim liga indonesia tahun lalu, dimana salah satu pelatih yang mempunyai kedisiplinan yang tinggi malah kena pecat, karena para pemain mogok. dan malah sebelum mogok,ada salah satu pemainnya (yang sekarang anggota timnas juga) memecahkan gelas waktu makan siang didepan pelatih. http://www.lintasberita.com/Sports/Sepak-bola/persib-bandung-retak .
Bung GeGe,
Kalau menurut tulisan itu pemain yang memecahkan gelas di depan pelatih adalah Markus Horison. Jadi tidak tertutup kemungkinan yang telah emosi dan mutung tidak ingin main lagi untuk timnas adalah Markus ini.
Saya rasa pemain Indonesia masih belum bisa dikatakan full prof. Sulit mengatakan diri sebagai full prof kalau klubnya saja masih tergantung pada uang rakyat APBD.
Semoga saja kedepannya, ketika dimulai klub-klub non APBD ini mulai tercipta pula generasi profesional yang tidak mudah kedor ketika ditangani pelatih yang disiplin.
ma'af saya sebetulnya agak ragu untuk berkomentar.
tapi saya mengikuti argumen anda semua di atas.
kalau menurut saya memang betul pak de wim tidak mengenal betul karakter seluruh timnas karna keterbatasan waktu,ini adalah timnas nya pakde riedl..akan lebih tepat bila pak wim membentuk timnas sendiri sesuai dengan keinginan nya,mungkin akan lebih bijak untuk kita berkomentar..salam.
Terima kasih Dindik,
Sudah meninggalkan pesan, walaupun sempat ragu. Itu memang persoalan besar, kalau pelatih belum mengenal klub barunya. Sedangkan dia juga tidak punya staf pilihan yang dia percaya 100%. Memang sial buat pelatih dan pemain. Pilihannya bagi PSSI ada dua.
1. Membela pemain yang protes, berarti mempertahankan pola lama. Mental pemain tidak akan membaik, dan mereka akan merasa tidak perlu berubah. Berarti prestasi biasa saja. Akibatnya Wim harus hengkang.
Pilihan 2. Mempertahankan Wim. Berarti melanjutkan pendidikan disiplin. Dampaknya separoh pemain akan kehilangan motivasi gabung di timnas dan digantikan dengan suntikan pemain baru. Dampaknya bisa baik dan bisa hancur. Tapi ini tantangan baru untuk berani berubah.
Kalau begitu Anda kelihatannya memilih opsi dua ya?
saya setuju dengan anda bung tanjung, Riedl berdiri pada dua kaki. terlalu bermain aman dengan posisinya. disatu sisi dia pernah diwawancara bahwa dia tidak setuju dengan sowan ke rumah pejabat. tp pada wawancara lain dia berargumen lain. lalu apakah Riedl lebih baik? saya rasa tidak juga, melihat permainan di piala AFF, timnas hanya menang pada saat bermain di kandang. apa yang terjadi pada saat bermain diluar? Timnas kita kalah 3-0 lawan Malaysia. Malaysia loch, bukan Iran.
Hallo GeGe,
Anda ternyata mengenali yang aku maksudkan pada tulisan itu. Dia orang yang pandai menyesuaikan diri. Orang lain melihatnya mungkin seperti Bunglon, tapi saya menilainya pandai menyesuaikan diri dan mengadopsi budaya tempat dia bekerja. Malaysia memang tidak bisa disamakan dengan Iran.
Dia ajak seluruh staf dan pemain sowan orang-orang penting. Walaupun secara sportif ini buang waktu saja, tapi Riedl pandai membawa diri ----> maaf Bung Tanjung. Riedl bukan mengajak tapi diajak. Dia juga menolak kegiatan ini.
Konon dia memanggil beberapa pemain Garuda bertemu, sehari setelah kalah dari Bahrain (6 Sept). Ia ingin menebar kesan bahwa dirinya lebih pantas menjadi pelatih timnas daripada Rijsbergen------> sebaiknya Anda mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia tidak setengah-setengah. Untuk bagian ini, Riedl tidak memanggil melainkan memenuhi undangan Bambang Pamungkas, Firman Utina, dan Markus Horison.
Soal Irfan Bachdim, Riedl tidak memanggilnya saat LPI tidak diakui oleh FIFA. Namun setelah LPI akhirnya disupervisi oleh PSSI maka nama Irfan Bachdim kembali dipanggil. Jadi bukan tidak konsisten seperti yang Anda ungkapkan.
Bung Lapotuak,
Trims sudah meninggalkan komentar.
Motifnya Riedl ikut sarapan di rumah Mr. Ical, hanya Tuhan yang tahu karena Riedl sendiri gak jelas. Mungkin kita baca info yang berbeda. Ini saya lampirkan kutipan dari Tempo Online, awal Januari 2011:
"Setelah kalah 0-3 oleh Malaysia di final pertama, Riedl sempat mengatakan terganggu oleh media dan kegiatan berlebihan yang tidak perlu. Komentar itu membuat merah kuping pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Setelah turnamen berakhir, Manajer Andi Darussalam Tabusalla meminta Riedl mengklarifikasi pernyataannya di media. Riedl pun menjawab beda soal kunjungan ke rumah Aburizal setelah menang melawan Filipina. "Kami senang dan merasa terhormat mendapat undangan itu," katanya."
Saya percaya sumber Tempo dan kalau saya membaca artikel dan potongan ini, maka Riedl kesannya mencla-mencle. Dia bisa saja istrahat di hotel atau ke mall. Tapi ini dia berangkat juga. Poin saya adalah dia mengalah demi para bos dan penyandang dana. Itu aja.
Mungkin soal Irfan yang LPI atau ISL itu, saya akui kurang akurat. Tapi tidak menghilangkan sikap ragu Mr. Riedl. Awalnya media menggutip Riedl akan memanggil pemain berdasarkan kwalitasnya. Ungkapan yang sangat bijak sekali. Seperti halnya bos PSSI sekarang yang tidak meng-ilegalkan ISL, bahkan mengijinkan banyak pemain kompetisi lain ini tetap main di timnas.
Tapi ketika itu Herr Riedl malah kemudian berkata, Irfan tidak bisa dipasang karena dia dari kompetisi ILEGAL. Wah dia sudah main politik, atau ada yang mbisiki. Saat itu aku membacanya, "Riedl faham betul budaya Indonesia." Mungkin namanya bukan tidak konsisten, tapi mungkin istilah yang tepat beliau manuuut banget kepada yang menggaji.
Di tulisan itu saya mengagumi cara beliau bermain, sangat kita benget.
Jelas timnas lebih bagus dilatih oleh alfred dibandingkan wim, karena alfred sudah lama mengenal karakter timnas . Sedangkan wim baru 2 bulan yg lalu menjadi pelatih timnas. Tetapi kenapa sudah berani melontarkan kata'' yg seharusnya tidak dikatakan, apalagi di depan media. Seharusnya kekalahan tersebut menjadi tanggung jawab 'pelatih'. Dibawah ini murupakan bukti keakraban pelatih 'alfred riedl' dan sifat terang-terangan kepada pemain serta kehebatannya dalam melatih timnas sehingga sukses memboyong indonesia ke final piala aff 2010.
Link tersebut merupakan
situs pribadi ''bambang pamungkas'' yang telah dibuat sejak tahun 2007.
coba baca pada judul ''saya,
alfred riedl dan piala aff 2010'' yg telah di upload pada tanggal 16 Agustus 2011.
bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/timnas/2011/08/16/105/saya-alfred-riedl-dan-piala-aff-2010
ijin share bung...
Mohon dilampirkan sumber artikel dan linknya kalau mungkin.
PSSI kemana ya? kok diam aja ya melihat pelatih dan pemainnya "ribut" di media.
Sudah jelas tidak banyak yang bisa diharapkan dari pelatih yang baru kurang lebih 2 bulan menangani sebuah tim, yang notabene juga baru kurang dari 1 tahun di indonesia dan melatih di "kompetisi yang lain".
Kalau pengurus PSSI mau berpikir jernih mungkin gak perlu secepat itu mengganti pelatih dengan jadwal pertandingan yang sangat mepet.
Kalau menurut pandangan saya Indonesia dapat mengalahkan turkmenistan karena peran dari Rahmat Darmawan. Jadi mungkin paling bagus jika RD kembali menjadi assisten WR di timnas.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.