Siapa, sih?
Pengacara dan mantan hakim Haitham al-Maleh adalah pengurus dan mantan ketua Human Rights Association di Suriah (HRAS). Ia termasuk salah seorang aktivis HAM yang menuntut pencabutan keadaan darurat di Suriah sejak 1980. Selain itu ia menentang hukuman mati untuk anggota Ikhwanul Muslimin dan menuntut dibebaskannya semua tahanan politik.
Akibat aktivitasnya tersebut, pada tahun 80-an Al-Maleh sempat enam tahun mendekam di penjara. Pada 2006 ia menerima penghargaan Geuzenpenning atas perjuangannya untuk demokrasi dan HAM di Suriah.
Ia tak akan berhenti, kata Haitham al-Maleh yang berusia 80 tahun sambil terkekeh. Pengacara HAM ini tiba-tiba dibebaskan Selasa (08/03). Ia dikenal sebagai pejuang demokrasi dan kebebasan. Kepada Radio Nederland ia menyatakan harapan agar bisa terus berjuang. "Selama Tuhan masih memberi waktu, saya akan tetap berjuang melawan diktator Suriah."
Juli tahun lalu, Al-Maleh diganjar tiga tahun penjara atas dakwaan "melemahkan moral nasional." Pengacara HAM ini mengkritik korupsi dalam dunia politik Suriah. Ia juga mengimbau presiden Bashar al-Assad agar bersikap terbuka mengenai nasib ribuan tahanan politik yang sudah bertahun-tahun hilang.
Pembebasan tiba-tiba al-Maleh - yang pada 2006 menerima Geuzenpenning, penghargaan HAM dari Belanda - adalah keputusan pemerintah Suriah. Keputusan ini diduga ada hubungannya dengan amnesti untuk tahanan yang melakukan kejahatan ringan atau memiliki orangtua berusia lebih dari 70 tahun. Amnesti ini diberikan untuk memperingati 48 tahun partai pemerintah Baath yang mengambil alih kekuasaan tahun 1963.
Revolusi
Al-Maleh tidak percaya bahwa pembebasannya ada hubungannya dengan revolusi di negara-negara Arab. "Presiden al-Assad tidak mengubah strategi. Sikapnya tidak berubah. Bahkan ketika revolusi terjadi di sekelilingnya," katanya dalam wawancara dengan redaksi Arab Radio Nederland.
Pengacara HAM ini menekankan bahwa tentara dan dinas keamanan Suriah masih menahan setidaknya empat ribu tahanan politik. "Orang-orang itu masih di balik terali. Tak seorang pun dibebaskan. Sebelas teman saya juga tidak."
Harapan
Ia merujuk pada penulis, jurnalis, anggota oposisi dan pengacara yang dipenjara lima tahun terakhir. Pada masa tahanan, mereka bersama-sama mogok makan untuk memprotes penindasan politik dan pembunuhan massal. Toh al-Maleh masih menyimpan harapan untuk negerinya. Walaupun situasi tentu tak akan berubah begitu saja: sejak revolusi Mesir dan Tunisia, pemerintah Suriah justru menangkap para disiden dan anggota oposisi.















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.