Citra perempuan Saudi di mata kita adalah seorang perempuan berjilbab yang ditekan dan tidak memiliki hak apa pun, misalnya untuk menyetir mobilnya sendiri.
Namun Wajeha Al Huwaider, seorang aktivis perempuan Saudi kini memberi kesan baru ihwal aktivis perempuan Saudi, ia memasang video di Youtube. Dengan demikian ia menarik perhatian media barat untuk berbagai masalah yang sampai saat ini dibisukan secara diplomatis.
Menyetir
Salah satu video yang tersebar luas 2 tahun lalu mempertunjukkan Wajeha Al Huwaider menyetir mobilnya, video ini disebarkan pada hari perempuan sedunia. Wajeha menyatakan: "Saat ini saya sedang menyetir mobil di daerah yang diperkenankan. Kawasan yang terpencil, kalau di kota-kota besar kami dilarang menyetir padahal di sinilah kami butuh ini."
Dalam video ini ia meminta dukungan menteri dalam negeri Saudi dan menawarkan untuk mengajar perempuan Saudi menyetir mobil. Di Arab Saudi seorang perempuan dilarang berada di satu ruangan dengan pria yang bukan keluarganya.
Kekuatan penentang
Wajeha menyatakan memang benar masalah ini adalah masalah sosial yang tidak mendukung perempuan diberikan haknya. Namun dalam wawancara dengan Radio Nederland, ia menyatakan: "Siapa pun yang menentang hak kami, tanggung jawabnya terletak di tangan pemerintah Saudi yang harus mengubah undang-undang yang diskriminatif terhadap perempuan."
Tidak pernah akan terjadi demo perempuan di jalan-jalan Riyad atau Jeddah. Menurut Wajeha, perempuan Saudi takut untuk menuntut haknya. Ia terpaksa melakukan aksinya sendiri karena para aktivis perempuan lainnya menarik diri.
Namun halangan terbesar baginya adalah hubungan Arab Saudi dengan Barat, dan posisi kuat yang dipegang Arab Saudi karena kekayaannya. Demikian perkiraan Wajeha. Hal ini menghalangi negara-negara Barat menekan Arab Saudi untuk menyelesaikan masalah hak-hak asasi manusia dan hak perempuan.
Dalam artikel yang ia tulis untuk The Washington Post akhir tahun lalu, Wajeha Al Huwaider menyatakan peraturan mengawal perempuan adalah yang paling menghina untuk perempuan. Seorang perempuan di Arab Saudi tidak bisa bepergian, studi atau mulai bisnis tanpa persetujuan tertulis dari ayah, saudara laki-laki, suami atau anak laki-laki.
Ketika Wajeha, yang bercerai dari suaminya dan memiliki dua putera, ditahan di perbatasan Arab Saudi dengan Bahrain, pihak yang berwajib menolak membebaskannya. Ia harus meminta bantuan adik laki-lakinya sebelum bisa dibebaskan.
Protes alternatif
Setelah penahanannya, Wajeha dilarang meneruskan aktivitasnya termasuk menulis artikel ihwal topik hak perempuan. Sebagai gantinya ia beraksi secara alternatif dan menyorot berbagai hak perempuan, misalnya menyetir mobil, pernikahan anak dan kebebasan untuk bepergian. Ketika mengunjungi Virginia tahun lalu ia mengadakan aksi di sebuah perusahaan otomotif. Ia menyerukan: "Perempuan Saudi mau membeli mobil Anda, dan banyak yang memang bisa membayarnya, namun anda harus mendukung perjuangan kami untuk boleh menyetitr mobil."
Wajeha Al Huwaider adalah penulis dan aktivis yang mendapat berbagai penghargaan. Tahun 2004 ia menerima PEN/NOVIB Free Expression Award di Den Haag. Untuk beberapa waktu ia juga menulis untuk koran Saudi Al Watan, koran terbesar di negaranya. Namun ia curiga, aktivitasnya mendorong dewan redaksi koran ini untuk menghentikan publikasi tulisannya.

























Revolusi sosial.. akan kah melanda arab saudi..? antara Ya, dan tidak..sebab dengan ke kayaan nya pemerintah nya mampu menyuap seruruh penduduk agar tidak melakukan seperti di negara2 tetangga nya..
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.