Sepuluh tahun silam, tepat hari ini (06/05), publik Belanda dikejutkan dengan kematian Pim Fortuyn. Politisi bertubuh tinggi, gagah, flamboyan dan karismatik itu terbaring tak bernyawa di trotoar jalan. Gambaran itulah yang terekam dalam ingatan khalayak luas. Kematian dan hidupnya menandai titik balik dalam sejarah Belanda.
Dalam karir politiknya yang singkat, Pim Fortuyn mengantarkan sebuah era baru. Ia mengekspresikan ketidakpuasan melalui status quo yang dimilikinya. Pim Fortuyn adalah politisi Belanda pertama yang mengkritik kebijakan imigrasi dan mengutuk Islam.
Pim Fortuyn lahir pada 1948 dan dibesarkan dalam keluarga Katolik Roma yang taat. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Sebelumnya, Fortuyn bercita-cita menjadi pendeta. Namun ia malah terjun ke dunia mengajar dan menulis sebelum akhirnya bergelut di bidang politik.
Fortuyn sempat bersimpati terhadap paham komunis dan bergabung bersama partai buruh PvdA. Namun di awal tahun 1990-an ia berubah haluan ke kanan dengan bergabung bersama partai liberal konservatif VVD.
Sejak dulu Fortuyn memang seorang "pembangkang". Akhirnya ia naik ke panggung politik dan memimpin Leefbaar Nederland (LN), partai politik baru ketika itu.
Tahun yang penuh gejolak
Fortuyn tidak mau berkompromi soal sudut pandangnya dengan partai LN. Dalam waktu beberapa bulan, ia pun diturunkan dari jabatannya sebagai ketua partai. Pada 11 Februari 2002, tiga bulan menuju pemilu nasional, Fortuyn mengumumkan pembentukan partai barunya: Lijst Pim Fortuyn.
Selama masa kampanye, aksi Fortuyn berjalan lancar. Beberapa jajak pendapat bahkan memprediksi partai LPF akan mendominasi parlemen. Dengan begitu, Fortuyn pun berkesempatan menjadi perdana menteri.
Fortuyn adalah sosok yang kontroversial sekaligus populer. Ia menyebut Islam sebagai "kebudayaan yang berjalan mundur" dan mengatakan bahwa kaum Kristen di Belanda lebih berhak "secara moral" daripada kaum Muslim. Fortuyn juga menganjurkan untuk menghapus larangan diskriminasi yang tercantum dalam amandemen pertama UUD Belanda.
Meski begitu, Fortuyn juga menentang banyak kebijakan reformasi tahun 1990-an seperti privatisasi dan bentuk manajemen teknokrasi yang baru.
Tipe ekstremis
Banyak pihak melihat Fortuyn sebagai seorang ekstrimis yang sebanding dengan tokoh-tokoh aliran kanan Eropa, seperti Jorg Haider dari Austria dan Jean Marie Le Pen dari Prancis.
Namun Fortuyn adalah seorang homoseksual yang terbuka. Gaya yang flamboyan serta etikanya membuat citra Fortuyn semakin rumit. Ia sendiri membantah kesamaannya dengan tokoh-tokoh kanan tersebut.
Pada tanggal 6 Mei 2002, Fortuyn ditembak mati di lapangan parkir stasiun berita NOS. Dalam waktu singkat, pelakunya berhasil ditangkap dan kepolisian pun langsung mengumumkan ciri-cirinya. Sang pelaku bukanlah seorang Muslim, seperti yang diduga banyak orang. Pelaku bernama Volkert van de Graaf, seorang aktivis lingkungan Belanda berkulit putih.
Warisan politik
Sembilan hari setelah kematian Fortuyn, partai LPF berhasil mendobrak dunia politik Belanda. Dalam pemilihan perdananya, LPF berhasil menduduki posisi kedua, mengalahkan PvdA dan VVD.
Namun kiprah LPF tidak bertahan lama. LPF bergabung dengan koalisi pemerintah yang retak dalam waktu setahun akibat pertikaian intern LPF. Partai LPF kehilangan sebagian besar kursinya pada pemilu berikutnya dan bubar dalam waktu enam tahun.
Rupanya buah pikiran Fortuyn telah mengubah bentuk politik Belanda secara signifikan. Ia menyuarakan teriakan mereka yang kecewa dengan tatanan politik yang telah mapan. Ia berhasil membuka tren populisme dalam dunia politik Belanda, seperti halnya Geert Wilders.
Ketidakstabilan
Sejak hadirnya Pim Fortuyn, situasi politik Belanda dicirikan dengan ketidakstabilan. Dalam waktu 10 tahun setelah kematiannya, Belanda telah melalui lima pemerintahan berbeda. Tiga partai besar di Belanda (PvdA, CDA, dan VVD) telah kehilangan dominansi tradisional mereka di parlemen.
Partai populis pimpinan Rita Verdonk (TON) dan Geert Wilders (PVV) pun memasuki panggung politik Belanda.
Sejak kemunculan Fortuyn, perkembangan radikal dalam politik Belanda datang dari aliran kanan, bukannya aliran kiri. Agenda politik pun diatur oleh aliran kanan yang duduk di pusat, mengingat Belanda telah berpaling dari kebijakan toleransi yang dikukuhkan tahun 1960-an dan 1970-an.
Tanggal 6 Mei 2002 adalah sebuah titik balik. Kini Belanda memasuki tahun ke-11 setelah era Fortuyn, dan warisannya pun masih terus berjalan.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.